15 April 2015

Kepada Siapa Lagi Kami Bertanya?

Siang itu saya beserta kawan menghadiri tabligh akbar. Entah kapan persis tanggalnya, acara yang menghadirkan Pak Amien Rais tersebut memantik keingintahuan kami untuk datang. Jika tidak salah, acara tersebut bertempat di Perguruan Muhammadiyah Gempol, sebelah timur Pasar Kejapanan. Ada satu kenangan yang hingga sekarang masih terngiang. Ketika masuk waktu salat Dhuhur, kami berdua mencari musala. Kebetulan musala berada tak jauh dari lokasi acara. Kami menunggu mulai pagi, ternyata ada kabar Pak Amien datang selepas dhuhur.Saat menunggu waktu salat, seorang bertubuh agak besar dan beberapa orang di belakangnya tiba di musala.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh”

“Sudah adzan?” tanya orang tersebut.

“Belum, Pak”

Ketika orang tersebut duduk, mereka yang berada di belakang orang tersebut kemudian ikut duduk dan berbincang. Ketika itu saya masih belum ngeh dengan organisasi dan persyarikatan. Ghirrah yang muncul hanyalah menuntut ilmu di tempat manapun yang bisa dijangkau. Setelah sayup-sayup terdengar adzan, salah seorang dari rombongan tersebut beranjak dari tempat duduk dan segera mengumandangkan adzan. Usai adzan, semua yang berada di musala tersebut berdiri untuk mengerjakan qabliyah dhuhur. Iqamat dikumandangkan, dan sosok yang berkharisma tersebut ditunjuk para rombongan untuk menjadi imam. 

Usai salat dhuhur, kami kembali ke tempat acara. Sejenak kami membicangkan, siapa gerangan tadi yang menjadi imam salat, kok sepertinya pernah lihat? Kami hanya bisa menduga-duga sampai akhirnya mata kami melihat sosok itu duduk di kursi depan, tempat para tamu penting.

Dan beberapa waktu kemudian ketika berlangganan majalah YDSF, saya baru tahu sosok yang berada di musala dan menjadi imam salat dhuhur adalah salah satu ulama fikih yang banyak dijadikan tempat bertanya. Dari tangannya lahir banyak buku yang mengulas beragam persoalan ibadah dan muamalah. Dialah Allahuyarham Ustadz KH. Mu’ammal Hamidy, Lc. 

Saat berlabuh di SMP Musasi, saya bertemu kembali dengannya disaat menjawab persoalan umat di kolom konsultasi agama. Saya pun selalu menantikan goresan beliau yang lain dalam kolom hadits. Ulasan-ulasan tersebut hadir menyejukkan di majalah MATAN, media bulanan terbitan PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur.

Dan, ketika kabar duka itu datang..

Kepada siapa lagi tempat kami bertanya?

Sebuah pertanyaan yang menggelayut di pikiran kami. Ketika ulama dipanggil Allah, mayoritas umat kehilangan, Kepada siapa kami mendapat pencerahan? Siapa lagi yang akan menjawab persoalan umat yang kian hari makin kompleks? 

Bisakah sekaliber Ustadz Abdurrahim Nur, sosok ulama yang murah senyum yang menjelaskan persoalan agama dengan mengajak para jama’ah memikirkan ayat-ayatNya?

Bisa pulakah setara dengan Ustadz Aliga Ramli, salah satu cendekiawan fikih, yang ketika menjelaskan sebuah ayat dan dalil menumbuhkan ghirrah untuk berthalibul ilmi?

Ataukah seperti Ustadz Mu’ammal Hamidy sendiri, yang kemampuan dakwah maupun menulisnya sama-sama baiknya? Yang menguraikan masalah rumit dengan pendekatan yang baik dan ga mbuleti?


"Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS. Ali Imran: 185)”

Mendung sore itu menggelayut. Kelabu awan menyapu pemandangan sepanjang jalan. Gurat kesedihan seolah terbaca langit. Hari itu dunia berduka. Sosok ulama-penulis telah dicukupkan umurnya. Allahuyarham Ustadz KH. Mu’ammal Hamidy, Lc. Semoga Allah menerima semua amal baiknya, aamiin.


Porong, 150415
—saat maghrib memanggilmu

Riwayat Hidup:

KH. Mu'ammal Hamidy, lahir di Lamongan 1 September 1940. Menuntaskan pendidikan dasar di MI Muhammadiyah Sedayulawas, Lamongan pada 1955. Sekolah menengahnya ditempuh di Pesantren Tebuireng Jombang dan Pesantren PERSIS Bangil Pasuruan. Pengetahuan keagamaannya kembali diasah di Universitas Madinah, Arab Saudi. Selain sebagai mubaligh, guru Pesantren PERSIS Bangil (1964-1984), dan dosen serta Direktur Ma'had Aly Lil Fiqh Wad Dakwah Bangil (1994-sekarang), ini pada menjelang reformasi sempat duduk menjadi anggota DPR RI.

Kiprahnya dalam struktur Muhammadiyah diawali sebagai Ketua Majelis Dikdasmen Bangil, kemudian Ketua PCM Bangil, Ketua Majelis Tarjih PWM Jatim, dan Wakil Ketua PWM Jatim selama tiga periode berturut-turut. Di tengah kesibukan membimbing umat, mantan Pemimpin Redaksi Majalah Al-Muslimun Bangil (1975-1985) ini tetap rajin menulis dan mengasuh Rubrik Tanya Jawab di berbagai majalah. Ia bahkan sudah aktif menulis sejak tahun 70-an. Bukunya yang telah terbit, antara lain: Terjemah Nailul Authar, Terjemah Syarah Riyadush Shalihin, Terjemah Halal dan Haram dalam Islam, Tanda-tanda Khusnul Khatimah, dan lain-lain.
(sumber: Hamidy, Mu'ammal. 2012. Islam dalam Kehidupan Keseharian. Surabaya: Hikmah Press)

Allahuyarham Ustadz KH. Mu'ammal Hamidy, Lc (1940-2015)

0 komentar: