13 April 2015

Aysel dan Emel

Jika Pak Edy Prawoto lebih suka memberi judul “Bule dan Perdagangan Bebas”, maka saya lebih memilih sudut pandang lain. Aysel dan Emel, dua tokoh yang diceritakan Kang Abik dalam novel terbarunya Api Tauhid.

Dalam novel pinjaman Perpus Musasi yang bau saya tuntaskan tersebut, Aysel diceritakan sebagai sepupu Hamzah, teman kuliah tokoh utama Fahmi ketika menempuh studi di Madinah. Karena Fahmi mendapat ujian sesaat setelah menikah dengan putri Kyai Arselan, Nuzula. Belum beberapa lama menikah, Fahmi diminta untuk menceraikan Nuzula tanpa sebab yang jelas. Kegalauan Fahmi akhirnya dilarikan dengan cara ‘radikal’; menghafal Quran dengan hafalan sebanyak 40 kali di raudhah masjid Nabawi.

Belum genap 20 kali khataman, tubuh Fahmi akhirnya ambruk. Ketika ditemukan sahabatnya asal Indonesia, Ali, ia segera dibawa ke rumah sakit oleh Hamzah. Begitu siuman dan baikan. Keinginannya untuk melupakan masa lalunya begitu kuat, sampai akhirnya Hamzah menceritakan rencananya pulang ke negara asalnya, Turki, pada liburan kuliah. Gayung bersambut, Fahmi akhirnya mau ketika ditawari Hamzah untuk ikut bersamanya. Bersama Subki, sahabat kuliahnya yang lain asal Indonesia, mereka pun pergi ke negeri yang berbatasan dengan selat Bosphorus tersebut.

Di negara bekas kekhalifahan Utsmaniyah itu, Fahmi dan Subki diajak berkeliling kota-kota bersejarah yang ada kaitannya dengan Badiuzzaman Said Nursi, seorang Mujaddid—yang juga menjadi kisah lain di novel ini—dan ikut andil dalam menjaga kemurnian tauhid umat Islam Turki dari gempuran atheisme dan sekularisme yang didengungkan Mustafa Kemal Attaturk.

Di sanalah akhirnya mereka bertemu dengan Aysel dan Emel. Emel sendiri juga ada ikatan saudara dengan Hamzah. Kedua saudara Hamzah tersebut diceritakan dalam novel tersebut sama-sama mempunyai paras yang rupawan—terus terang sebelumnya saya hanya bisa menggambarkan paras-paras rupawan Indonesia—yang membedakan hanyalah soal kualitas hafalan Quran. Dalam bidang hafalan, Emel, lebih unggul dari Aysel, karena Emel lebih mendalami ilmu agama dibanding Aysel.

Kembali ke topik awal. Sabtu pagi itu (11/4), saya ‘beruntung’ bertemu Aysel dan Emel dalam arti yang lebih luas, hehe..

Ruang guru dibuat panik, ketika para peserta pelatihan yang mendapat wejangan IT dari Pak Edy, dikejutkan dengan kedatangan gadis-gadis luar negeri. Ternyata mereka adalah mahasiswa Bu Purwaningsih, Dosen yang sekaligus Dekan Fakultas Keperawatan Unair, yang sengaja diundang ke sekolah untuk menjadi pembicara dalam kegiatan IPM tentang Bahaya dan Penanggulangan HIV/ AIDS.

Mereka berenam adalah mahasiswi Belanda yang menjalani pertukaran mahasiswa dengan Unair. Selama enam bulan mereka “menjajah” kembali Ibu Pertiwi. Dari sekilas perbincangan dengan Bu Pur—panggilan Bu Purwaningsih, mereka sudah dua bulan berada di kota Pahlawan. Bu Pur juga bercerita, jika diantara enam mahasiswi asal Belanda itu, ada satu yang keturunan Turki.

“Agamanya Islam, Bu?”

“Ya, Islam! Ketika saya studi di Belanda, Ayah-Ibu mereka salat dan puasa, tapi dia (gadis Turki) itu ga salat dan ga puasa..”jawab Bu Pur. 

“Kenapa, Bu?”

“Karena pengaruh lingkungan. Disana kan ateis begitu dominan. Materialisme menjadi Tuhan. Meskipun gereja-gereja bertebaran, namun taka da yang berpenghuni, sepi.” tambah wali murid dari Iqra kelas 7C ini. 

Hmm..saya hanya bisa menarik nafas panjang..

Kedatangan para tamu dari Belanda ke sekolah kami tersebut, setidaknya pada diri saya pribadi memberi banyak pelajaran.

Yang pertama adalah aspek keimanan. Betapa kita sungguh bersyukur dilahirkan Ibu kita sudah dalam keadaan Islam. Kita berislam secara turunan. Dan lingkungan kita, negara kita mayoritas pemeluk agamanya adalah Islam. Sejak kecil kita dibiasakan dengan akhlak dan ibadah Islami, Alhamdulillah..

Kedua, saya sendiri merasa minder, Dengan kemampuan bilingual yang sangat terbatas dan pas-pasan, rasa-rasanya begitu kelu lidah ini untuk sekedar bertanya pada mereka. Saya pun jadi teringat masa pra-kemerdekaan. Bagaimana kecerdasan para founding father kita, Bung Hatta dan Agus Salim saat berdiplomasi dengan mereka. Lha kita (saya), jangankan berdiplomasi, untuk sekedar….(ah sudahlah)

Terakhir, rasa penasaran saya dengan sosok Aysel dan Emel akhirnya sedikit terobati. Bayangan saya pada keduanya, akhirnya terjawab dengan kehadiran enam mahasiswa asal Belanda tersebut. Lho, Belanda kan bukan Turki? Iya, setidaknya Turki adalah separuh wilayahnya masuk Eropa, Iya, kan?!

Porong, 130415
—ghadul  bashar—

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Al-Hujurat:13)



0 komentar: