22 April 2015

Bermuhammadiyahlah, Bergeraklah!

“Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku”

Semboyan diatas bukan sembarang semboyan. Jargon yang populer di kalangan warga persyarikatan tersebut rupanya menjadi semacam parameter; “bermuhammadiyahlah, maka dirimu akan bergerak!”

Ibarat air, ketika diam menggenang maka akan menjadi sarang penyakit. Berbeda ketika air tersebut mengalir, tiap lekukan batu, sawah, dan sungai menjadi hidup karena air yang mengalir. Maka menjadi warga Muhammadiyah dalam apapun kapasitasnya, kewajiban bergerak, mengalir seperti air, sudah saatnya menjadi keharusan.  

Gerakan Muhammadiyah adalah amar ma’ruf nahi munkar, menyuruh dalam kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Dalam tataran praktis, ketika ada “lahan” untuk berbuat ma’ruf, maka ada kewajiban untuk menjalankan dakwah ma’ruf di sana. Contoh kecilnya, ketika di sekeliling tempat tinggal banyak anak-anak kecil dan remaja, bahkan orangtua yang kurang bisa atau belum lancar membaca Al-Quran, ada rasa keterpanggilan kita untuk mengajarinya. Lebih-lebih ketika kita menggerakkan teman-teman sejawat untuk mendirikan TPQ atau taman belajar Al-Quran. Demikian pula, jika ada tetangga yang kekurangan dalam hal materi. Sebagai warga Muhammadiyah, yang selalu berpedoman tajdid, maka tak cukup dengan memberi “ikan”, harus “kail”, agar kemandirian bisa tercapai.

Mencegah pada yang munkar idealnya menjadi pedoman bagi seluruh elemen warga Persyarikatan. Tentunya, tetap dalam koridor cara yang terbaik. Jika sudah demikian, diperlukan semacam kreatifitas dalam dakwah. Dakwah tak lagi terbatas hanya dalam tataran ceramah. Bukan pula, atas nama dakwah, cara-cara kekerasan dilegalkan. Jika ingin menjadi warga persyarikatan yang baik, terus meneruslah belajar, agar dapat mengurusi Muhammadiyah, bukan malah sebaliknya: menjadi obyek yang harus diurusi Muhammadiyah.

Muhammadiyah di tahun ini sudah berumur 103 M/106 H. Usia yang layak dikatakan matang, bahkan sangat matang. Tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks. Satu abad lebih usia Muhammadiyah seperti sepotong kue besar, yang diperebutkan banyak orang.
Atas nama organisasi, tak jarang banyak oknum yang memperkaya diri. Dengan dalih meraup banyak suara, nama Muhammadiyah dijual murah. Atas nama kekuasaan dan jabatan, lagi-lagi kebesaran Muhammadiyah digadaikan. Ketika sudah menjabat, nama Muhammadiyah ditanggalkan. Beragam alasan diungkapkan.

Bermuhammadiyahlah, maka dirimu akan bergerak!

Lebih dari itu, Muhammadiyah adalah satu  gerakan yang dilandasi semangat dakwah. Dalam pendidikan harus ada nafas Islam pada tiap hembusannya. Dalam ranah politik, cita-cita “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” selayaknya menggantikan orientasi “kursi” dan materi. Jangan kemudian lalai, lantas menjadi semacam “buih yang terombang-ambing di lautan”. Adakah indikasi kesana? Sedikitnya jumlah Ulama Muhammadiyah saat ini, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Wallahua'lamu bisshawwab.

Porong, 220415
Saat Kultum Pak Anang pada Briefing Pagi Menginspirasi



 *gambar: muhammaddaradjat1962.files.wordpress.com

0 komentar: