Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

15 April 2015

Kepada Siapa Lagi Kami Bertanya?

Siang itu saya beserta kawan menghadiri tabligh akbar. Entah kapan persis tanggalnya, acara yang menghadirkan Pak Amien Rais tersebut memantik keingintahuan kami untuk datang. Jika tidak salah, acara tersebut bertempat di Perguruan Muhammadiyah Gempol, sebelah timur Pasar Kejapanan. Ada satu kenangan yang hingga sekarang masih terngiang. Ketika masuk waktu salat Dhuhur, kami berdua mencari musala. Kebetulan musala berada tak jauh dari lokasi acara. Kami menunggu mulai pagi, ternyata ada kabar Pak Amien datang selepas dhuhur.Saat menunggu waktu salat, seorang bertubuh agak besar dan beberapa orang di belakangnya tiba di musala.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh”

“Sudah adzan?” tanya orang tersebut.

“Belum, Pak”

Ketika orang tersebut duduk, mereka yang berada di belakang orang tersebut kemudian ikut duduk dan berbincang. Ketika itu saya masih belum ngeh dengan organisasi dan persyarikatan. Ghirrah yang muncul hanyalah menuntut ilmu di tempat manapun yang bisa dijangkau. Setelah sayup-sayup terdengar adzan, salah seorang dari rombongan tersebut beranjak dari tempat duduk dan segera mengumandangkan adzan. Usai adzan, semua yang berada di musala tersebut berdiri untuk mengerjakan qabliyah dhuhur. Iqamat dikumandangkan, dan sosok yang berkharisma tersebut ditunjuk para rombongan untuk menjadi imam. 

Usai salat dhuhur, kami kembali ke tempat acara. Sejenak kami membicangkan, siapa gerangan tadi yang menjadi imam salat, kok sepertinya pernah lihat? Kami hanya bisa menduga-duga sampai akhirnya mata kami melihat sosok itu duduk di kursi depan, tempat para tamu penting.

Dan beberapa waktu kemudian ketika berlangganan majalah YDSF, saya baru tahu sosok yang berada di musala dan menjadi imam salat dhuhur adalah salah satu ulama fikih yang banyak dijadikan tempat bertanya. Dari tangannya lahir banyak buku yang mengulas beragam persoalan ibadah dan muamalah. Dialah Allahuyarham Ustadz KH. Mu’ammal Hamidy, Lc. 

Saat berlabuh di SMP Musasi, saya bertemu kembali dengannya disaat menjawab persoalan umat di kolom konsultasi agama. Saya pun selalu menantikan goresan beliau yang lain dalam kolom hadits. Ulasan-ulasan tersebut hadir menyejukkan di majalah MATAN, media bulanan terbitan PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur.

Dan, ketika kabar duka itu datang..

Kepada siapa lagi tempat kami bertanya?

Sebuah pertanyaan yang menggelayut di pikiran kami. Ketika ulama dipanggil Allah, mayoritas umat kehilangan, Kepada siapa kami mendapat pencerahan? Siapa lagi yang akan menjawab persoalan umat yang kian hari makin kompleks? 

Bisakah sekaliber Ustadz Abdurrahim Nur, sosok ulama yang murah senyum yang menjelaskan persoalan agama dengan mengajak para jama’ah memikirkan ayat-ayatNya?

Bisa pulakah setara dengan Ustadz Aliga Ramli, salah satu cendekiawan fikih, yang ketika menjelaskan sebuah ayat dan dalil menumbuhkan ghirrah untuk berthalibul ilmi?

Ataukah seperti Ustadz Mu’ammal Hamidy sendiri, yang kemampuan dakwah maupun menulisnya sama-sama baiknya? Yang menguraikan masalah rumit dengan pendekatan yang baik dan ga mbuleti?


"Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS. Ali Imran: 185)”

Mendung sore itu menggelayut. Kelabu awan menyapu pemandangan sepanjang jalan. Gurat kesedihan seolah terbaca langit. Hari itu dunia berduka. Sosok ulama-penulis telah dicukupkan umurnya. Allahuyarham Ustadz KH. Mu’ammal Hamidy, Lc. Semoga Allah menerima semua amal baiknya, aamiin.


Porong, 150415
—saat maghrib memanggilmu

Riwayat Hidup:

KH. Mu'ammal Hamidy, lahir di Lamongan 1 September 1940. Menuntaskan pendidikan dasar di MI Muhammadiyah Sedayulawas, Lamongan pada 1955. Sekolah menengahnya ditempuh di Pesantren Tebuireng Jombang dan Pesantren PERSIS Bangil Pasuruan. Pengetahuan keagamaannya kembali diasah di Universitas Madinah, Arab Saudi. Selain sebagai mubaligh, guru Pesantren PERSIS Bangil (1964-1984), dan dosen serta Direktur Ma'had Aly Lil Fiqh Wad Dakwah Bangil (1994-sekarang), ini pada menjelang reformasi sempat duduk menjadi anggota DPR RI.

Kiprahnya dalam struktur Muhammadiyah diawali sebagai Ketua Majelis Dikdasmen Bangil, kemudian Ketua PCM Bangil, Ketua Majelis Tarjih PWM Jatim, dan Wakil Ketua PWM Jatim selama tiga periode berturut-turut. Di tengah kesibukan membimbing umat, mantan Pemimpin Redaksi Majalah Al-Muslimun Bangil (1975-1985) ini tetap rajin menulis dan mengasuh Rubrik Tanya Jawab di berbagai majalah. Ia bahkan sudah aktif menulis sejak tahun 70-an. Bukunya yang telah terbit, antara lain: Terjemah Nailul Authar, Terjemah Syarah Riyadush Shalihin, Terjemah Halal dan Haram dalam Islam, Tanda-tanda Khusnul Khatimah, dan lain-lain.
(sumber: Hamidy, Mu'ammal. 2012. Islam dalam Kehidupan Keseharian. Surabaya: Hikmah Press)

Allahuyarham Ustadz KH. Mu'ammal Hamidy, Lc (1940-2015)

13 April 2015

Aysel dan Emel

Jika Pak Edy Prawoto lebih suka memberi judul “Bule dan Perdagangan Bebas”, maka saya lebih memilih sudut pandang lain. Aysel dan Emel, dua tokoh yang diceritakan Kang Abik dalam novel terbarunya Api Tauhid.

Dalam novel pinjaman Perpus Musasi yang bau saya tuntaskan tersebut, Aysel diceritakan sebagai sepupu Hamzah, teman kuliah tokoh utama Fahmi ketika menempuh studi di Madinah. Karena Fahmi mendapat ujian sesaat setelah menikah dengan putri Kyai Arselan, Nuzula. Belum beberapa lama menikah, Fahmi diminta untuk menceraikan Nuzula tanpa sebab yang jelas. Kegalauan Fahmi akhirnya dilarikan dengan cara ‘radikal’; menghafal Quran dengan hafalan sebanyak 40 kali di raudhah masjid Nabawi.

Belum genap 20 kali khataman, tubuh Fahmi akhirnya ambruk. Ketika ditemukan sahabatnya asal Indonesia, Ali, ia segera dibawa ke rumah sakit oleh Hamzah. Begitu siuman dan baikan. Keinginannya untuk melupakan masa lalunya begitu kuat, sampai akhirnya Hamzah menceritakan rencananya pulang ke negara asalnya, Turki, pada liburan kuliah. Gayung bersambut, Fahmi akhirnya mau ketika ditawari Hamzah untuk ikut bersamanya. Bersama Subki, sahabat kuliahnya yang lain asal Indonesia, mereka pun pergi ke negeri yang berbatasan dengan selat Bosphorus tersebut.

Di negara bekas kekhalifahan Utsmaniyah itu, Fahmi dan Subki diajak berkeliling kota-kota bersejarah yang ada kaitannya dengan Badiuzzaman Said Nursi, seorang Mujaddid—yang juga menjadi kisah lain di novel ini—dan ikut andil dalam menjaga kemurnian tauhid umat Islam Turki dari gempuran atheisme dan sekularisme yang didengungkan Mustafa Kemal Attaturk.

Di sanalah akhirnya mereka bertemu dengan Aysel dan Emel. Emel sendiri juga ada ikatan saudara dengan Hamzah. Kedua saudara Hamzah tersebut diceritakan dalam novel tersebut sama-sama mempunyai paras yang rupawan—terus terang sebelumnya saya hanya bisa menggambarkan paras-paras rupawan Indonesia—yang membedakan hanyalah soal kualitas hafalan Quran. Dalam bidang hafalan, Emel, lebih unggul dari Aysel, karena Emel lebih mendalami ilmu agama dibanding Aysel.

Kembali ke topik awal. Sabtu pagi itu (11/4), saya ‘beruntung’ bertemu Aysel dan Emel dalam arti yang lebih luas, hehe..

Ruang guru dibuat panik, ketika para peserta pelatihan yang mendapat wejangan IT dari Pak Edy, dikejutkan dengan kedatangan gadis-gadis luar negeri. Ternyata mereka adalah mahasiswa Bu Purwaningsih, Dosen yang sekaligus Dekan Fakultas Keperawatan Unair, yang sengaja diundang ke sekolah untuk menjadi pembicara dalam kegiatan IPM tentang Bahaya dan Penanggulangan HIV/ AIDS.

Mereka berenam adalah mahasiswi Belanda yang menjalani pertukaran mahasiswa dengan Unair. Selama enam bulan mereka “menjajah” kembali Ibu Pertiwi. Dari sekilas perbincangan dengan Bu Pur—panggilan Bu Purwaningsih, mereka sudah dua bulan berada di kota Pahlawan. Bu Pur juga bercerita, jika diantara enam mahasiswi asal Belanda itu, ada satu yang keturunan Turki.

“Agamanya Islam, Bu?”

“Ya, Islam! Ketika saya studi di Belanda, Ayah-Ibu mereka salat dan puasa, tapi dia (gadis Turki) itu ga salat dan ga puasa..”jawab Bu Pur. 

“Kenapa, Bu?”

“Karena pengaruh lingkungan. Disana kan ateis begitu dominan. Materialisme menjadi Tuhan. Meskipun gereja-gereja bertebaran, namun taka da yang berpenghuni, sepi.” tambah wali murid dari Iqra kelas 7C ini. 

Hmm..saya hanya bisa menarik nafas panjang..

Kedatangan para tamu dari Belanda ke sekolah kami tersebut, setidaknya pada diri saya pribadi memberi banyak pelajaran.

Yang pertama adalah aspek keimanan. Betapa kita sungguh bersyukur dilahirkan Ibu kita sudah dalam keadaan Islam. Kita berislam secara turunan. Dan lingkungan kita, negara kita mayoritas pemeluk agamanya adalah Islam. Sejak kecil kita dibiasakan dengan akhlak dan ibadah Islami, Alhamdulillah..

Kedua, saya sendiri merasa minder, Dengan kemampuan bilingual yang sangat terbatas dan pas-pasan, rasa-rasanya begitu kelu lidah ini untuk sekedar bertanya pada mereka. Saya pun jadi teringat masa pra-kemerdekaan. Bagaimana kecerdasan para founding father kita, Bung Hatta dan Agus Salim saat berdiplomasi dengan mereka. Lha kita (saya), jangankan berdiplomasi, untuk sekedar….(ah sudahlah)

Terakhir, rasa penasaran saya dengan sosok Aysel dan Emel akhirnya sedikit terobati. Bayangan saya pada keduanya, akhirnya terjawab dengan kehadiran enam mahasiswa asal Belanda tersebut. Lho, Belanda kan bukan Turki? Iya, setidaknya Turki adalah separuh wilayahnya masuk Eropa, Iya, kan?!

Porong, 130415
—ghadul  bashar—

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. Al-Hujurat:13)



11 April 2015

Sepenggal Kisah Wisuda (2/habis)

Jadi begini, ketika kita punya kenangan dengan apapun itu, maka saat bertemu kembali dengannya, sedikit banyak kita akan mengenang masa-masa bersamanya. Seperti itulah saya ketika mendapati kenyataan Wisuda ke-82 Unesa akan diadakan di DBL Arena, bukan di GOR Bima-Lidah.

INSTAGRAM: 23 Juni 2013

Haru. Betapa tidak! Dulu, sekitar tujuh tahun lalu, ketika diri ini untuk pertama kalinya menjejak kaki di Graha Pena. Info lowongan kerja yang dibaca pada kolom iklan baris hari Sabtu di Jawa Pos, mengantarkan langkah kaki hingga sampai di markas koran terbesar di ujung timur pulau Jawa itu. 
Hanya berbekal selembar ijazah cuma-cuma dari SMA, ditambah semangat jihad fi sabilillah, membulatkan tekad pada diri untuk mengubah keadaan, dari tiada menjadi ada, dari kutu kupret menjadi kutu loncat—kutipan khas Pak Romi Satria Wahono, dengan harapan agar dapat menjadi kenyataan—red.

Bukan waktu yang singkat untuk dapat bertahan di rumah keluarga besar Jawa Pos Group tersebut. Bukan pula semudah membalik telapak tangan untuk dapat mengatur waktu, dan kemudian membaginya antara kesibukan kerja dan kuliah. Menjadi mahasiswa dua kaki. Menjadi pekerja dua hati. 

Pernah ada suatu masa, ketika musala di lantai dua menjadi teman tidur setia. Hanya karena ketika jam pulang malam shift dua yang pukul sebelas itu aras-arasen—malas—terj, akhirnya musala menjadi sasaran. Ada pula masa, ketika kamar mandi redaksi yang ada di lantai empat menjadi target, agar bau badan sedikit berkurang ketika masuk shift pagi. Begitulah sedikit ingatan yang disebut dengan kenangan itu.

Maka saya begitu naif, ketika menyebut gelar yang saya dapatkan ini murni karena kerja keras, keuletan, dan sikap pantang menyerah dari saya seorang, itu salah besar. Karena sesungguhnya ada banyak tangan-tangan yang digerakkan oleh Allah untuk membantu hambanya yang lemah dan tanpa daya ini. Ada doa-doa terpanjatkan. Dan itu semua karena Allah yang memberi jalan atas semua kemudahan.

Saya akan mengingat mereka, kawan seprofesi di ring satu (sebutan untuk “pasukan” garda terdepan) yang telah memberikan sumbangsih waktu, tenaga dan pikirannya untuk saya. Mereka mungkin disebut golongan—maaf-- “pekerja kelas bawah”, namun percayalah dari merekalah saya menemukan pelajaran berharga: “jangan pernah menilai isi buku dari sampulnya”.

Kenyataannya memang, ketika dugaan awal yang mengatakan tidak adanya teman baik dalam pekerjaan akhirnya terbantahkan. Di Graha Pena ternyata berterbaran, mereka-mereka yang tulus, ikhlas, dan berhati mulia. Pengalaman pribadi selama kurang lebih enam tahun disana (2008-2014) menjadikan saya sedikit membuka diri dan mengasah kepekaan dengan realitas sosial para buruh jasa—jika boleh mengatakannya—dengan “mata yang lebih terbuka”.

Itulah mengapa ada perasaan haru ketika mengikuti prosesi wisuda yang lalu. Ketika tiba di Graha Pena saya masih bisa bercengkrama dengan mereka, Mas Syaifulloh, Mas Murindae, Mas Anton, dan Mas-mas serta Pak-pak lain, yang tak dapat disebut satu-persatu—semoga Allah memberikan kelipatan atas kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya, aamiin.


Terakhir adalalah berat. Beratnya tanggungjawab yang teremban usai wisuda dirampungkan. Dari ikrar yang diucapkan bersama-sama, dari gelar yang merupakan amanah, dan dari harapan masyarakat yang dibebankan pada pundak kami semua. Semoga Allah selalu meridhoi jalan kami, jalan para PEDJOEANG yang tak hanya haus gelar, namun juga haus ilmu dan prestasi. 

Jasem-Wonoayu-Tulangan-Porong 110415
–dalam degup niatan bersegera—

TERIMA KASIH: Hasil Bidikan Sholeh Ugeng, Salah Satu Kawan di Graha Pena


9 April 2015

Sepenggal Kisah Wisuda (1)

DBL Arena menggema. Ribuan manusia tumpah ruah dalam alunan wisuda. Ya, Ahad pagi itu (29/4), gedung megah yang dibangun pada medio 2007 lalu itu menjadi saksi acara Wisuda Universitas Negeri Surabaya yang ke-82. Terus terang, dalam hati saya campur aduk. Antara senang, haru, dan berat.

Senang? Wajar! Ketika seseorang mendapatkan suatu kebahagiaan, selain rasa syukur karena mendapatkan kenikmatan dari Allah. Senang tak lain merupakan ekspresi dari keraguan yang beberapa waktu lalu menghinggapi, “Iso tha aku iki lulus lan di wisuda, koq sawangane iwune ngerjakno skripsi iki?” (Bisakah saya nanti lulus dan diwisuda, koq kelihatannya beragam kesulitan ketika mengerjakan skripsi—terj).

Skripsi seolah menjadi momok. Padahal tidak ada kendala dalam hal penulisan. Namun, lagi-lagi manajemen waktu yang kurang profesional, sehingga beberapa hal yang prioritas seolah terabaikan. Akhir 2013 sampai 2014 menjadi catatan sejarah perjuangan anak pelosok kampung yang tak pernah bermimpi mengenakan toga itu dalam meraih cita-cita.

Pada fase akhir 2013 usai menunaikan amanah tugas PPL di SMK Ketintang Surabaya. Benar memang sebuah pitutur, betapa berharganya kehati-hatian. Ya, saat itu selepas melaksanakan salat Jamaah di masjid, tas beserta isinya (laptop) hilang tak berbekas. Harusnya, kebiasaan meletakkan tas dan tetek-bengeknya di depan shaft selayaknya menjadi habit, namun lagi-lagi mentalitas meremehkan sesuatu menjadi biang keladinya. Sehingga, ketika PKL pun, agak tersendat-sendat dalam mengerjakan laporan, menggarap skripsi-pun menjadi nomor kesekian. Ibaratnya, saat kawan-kawan lain sudah memanggul senjata, kita masih tidur nyenyak di barak -_-

Alhamdulillahnya, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang berhati mulia. Dimulai dari kawan Pemuda Muhammadiyah di kampung halaman yang menaruh kepercayaan yang luar biasa besar pada saya, seorang yang kadang keistiqomahannya naik-turun, memberikan amanah untuk membeli ganti laptop saya yang hilang. Kedua, Allah mempertemukan saya dengan para dosen pembimbing, baik de jure maupun de facto yang sungguh sangat membantu.

Bu Sasminta misalnya. Meskipun beliau secara de jure bukan dosen pembimbing skripsi saya. Namun, peranannya dalam menumbuhkan ghirrah untuk bersegera menuntaskan janji mahasiswa—kalo boleh saya mengatakannya—luar biasa besar. Dari beliaulah awalnya benih semangat itu berkobar. Bu Sas—panggilan akrab beliau—mengirimi pesan via inbox fesbuk.  Bayangkan saja—saya saja tak pernah membayangkan—dosen sekaliber Bu Sas, yang menurut pengakuan kawan-kawan seangkatan terkenal dengan integritas dan kapabilitasnya yang tinggi, menanyakan kesungguhan saya dalam mengerjakan skripsi. Saat itulah kemudian—dengan persetujuan beliau sebelumnya—saya mengajukan beliau untuk menjadi dosen pembimbing. Namun sayang Kalab (Kepala Laboratorium) Jurusan saat itu tidak mengijinkannya dengan argumen kuota mahasiswa bimbingan Bu Sas sudah overload.  Apa daya, saya kemudian diberi opsi untuk memilih dosen pembimbing yang sesuai dengan judul TOR Proposal Skripsi yang diajukan. Dengan basmalah akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada dosen Psikologi Olahraga, Bapak Anung Priambodo. Dari Pak Anung—biasa warga FIK memanggilnya—saya mengenal arti perjuangan dalam menelorkan sebuah karya yang bernama skripsi.

Pak Anung merupakan dosen kami yang ranah keilmuannya dalam bidang psikologi. Maka tak heran, ketika pada semester dua lalu saya mengalami “misteri kuliah” dalam matakuliah Psikologi Olahraga dan kemudian mengulangnya pada semester genap berikutnya, saya dipertemukan dengan beliau dan alhamdulillah berhasil ‘merebut’ kembali nilai sebelumnya yang tak bertuan itu, hehe..

Pada saat menjadi mahasiswa bimbingannya, beliau—Pak Anung—sedang menjalani ‘pendakian’ untuk mendapatkan gelar doktoralnya di Universitas Negeri Malang (UM). Memang, selayaknya saya banyak berterimakasih pada beliau karena seringnya menghambat (hingga skripsi saya sudah sah, disertasi beliau ternyata masih berjalan). Berburu “coretan” dari kampus Lidah hingga Ketintang menjadi kenangan tersendiri. Bahkan pada akhir-akhir revisi, seringkali saya diminta beliau datang ke rumahnya yang berada di Driyorejo. Tak jarang pula, saking padatnya jadwal beliau, saya pernah diminta beliau membawa draft revisi skripsi ke Gereja (Pak Anung penganut Nasrani) di kawasan Lidah Kulon, saat itu beliau bilang posisinya berada di tempat tersebut karena sedang ada kegiatan. Untungnya saat itu saya sudah balik ke kampung halaman.  

Kawan-kawan kuliah ketika melihat judul skripsi saya mayoritas mengernyitkan dahinya. Bagi mereka, judul skripsi “Perbandingan Sportivitas antara Atlet Religius dan Non-Religius merupakan sesuatu yang baru, tidak mainstream, kata anak sekarang. Beberapa analisis mereka menyebutkan, perbandingan sportivitas selama ini lebih banyak antara siswa putra dengan siswa putri dalam pembelajaran A. Atau juga yang mainstream, antara atlet voli dengan sepak bola, ataupun antara siswa negeri dengan swasta. Apalagi bila agak radikal, religius seperti apa yang dimaksud? JIka dalam konteks agama Islam, kok dosen saya penganut Nasrani. Atau harus universal, menganggap semua rata pemahaman semua agama? Ah, rasanya saya kurang nyaman dengan istilah pluralisme. Untungnya tempat pengambilan sampel penelitian saya yang di Smanor yang rerata beragama Islam. Jadi insya Allah, istilah pluralisme dalam skripsi saya hanya akan ditemukan pada pendahuluan di Bab I (itupun atas saran dari dosen penguji).

(bersambung..)
 #dalam balutan barakah malam Jumat 090415






25 March 2015

Mengikat Ilmu

 “Ilmu adalah hewan buruan, dan menulis itu adalah ikatannya. Ikatlah buruan kamu -yakni ilmu – dengan tali yang kuat – yakni menuliskannya.”-Imam Syafi’i-

Saya jadi flashback pada medio tahun 2009. Saat masih berkutat di Gedung Graha Pena. Ketika itu di lantai satu ada toko buku yang bernama JP Bookstore. Ya, toko buku tersebut memang milik Jawa Pos Grup. Tapi kali ini saya bukan bermaksud menuliskan “rona-rona” yang ada di dalamnya (ehm..), tapi dari toko buku tersebut saya mengenal seorang penulis blog yang juga sekaligus technopreneur.

Nama panggilannya Mas Romi, alias Romi Satria Wahono. Dari blog yang dia tulis menghasilkan buku kecil yang inspiratif berjudul: “Dapat Apa Sih dari Universitas!” Dari buku tersebut saya banyak termotivasi. Dari sekedar menuliskan pengalaman di blog, lalu berkeinginan untuk merasakan atmosfer bangku kampus, hingga kemudian “berhijrah” dari Umsida ke Unesa. Dari banyaknya hikmah yang ada dalam buku itu, saya masih mengingat pesan kuat yang ada di dalamnya: “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya.” Saking begitu kuatnya pesan tersebut, sampai-sampai tagline blog pertama yang saya buat mencomot kata-kata yang asal muasalnya ternyata dari seorang ulama madzhab besar: Imam As-Syafi’i.

Ahad (15/2), bertempat di Rumah Penulis Bina Qolam Surabaya, saya bersama kawan seperguruan dan seprofesi, Muhammad Zulkhifly, berkesempatan menimba ilmu. Motivasi awal keikutsertaan saya karena narasumber yang hadir adalah seorang da’i yang tak hanya menyampaikan dakwahnya lewat bil-lisan, namun juga bil-qolam. Beliau adalah Ustadz Dr. Adhian Husaini. Menyebut nama besarnya, sangat sayang untuk melewatkan kesempatan yang langka itu. 

UNDANGAN: Hanya Tersebar Lewat Jejaring Sosial dan WA, namun Melimpah Peserta 


Sementara Pak Kifly, panggilan kawan saya tersebut, motivasinya murni karena keinginannya menguatkan tekad untuk merajut mimpi-mimpi besarnya: Islamisasi Ilmu. Tugas berat tersebut diemban Pak Kifly karena tugasnya mengajar IPS, mata pelajaran yang katanya banyak sekali pemutar balikan fakta sejarah.

Kami berangkat dari Masjid An-Nur, Sidoarjo. Yang memang kebetulan, tiap Ahad ketiga ada pengajian umum yang wajib dihadiri (ketentuan tidak tertulis warga Musasi). Nah, karena kami meninggalkan pengajian tidak tepat pada waktunya (jadi tak hanya datang yang harus tepat waktu), maka kami berpamitan pada Kepala Sekolah yang kebetulan ada tak jauh dari tampat kami duduk, sekaligus menyampaikan acara yang akan kami ikuti di Surabaya nanti. 

“Koq sepi, Pak?” tanya Pak Kifly pada saya ketika kami baru sampai dan mengambil tempat duduk di barisan ketiga sebelum acara dimulai.

“Belum datang semua, Pak, tenang, sebentar juga pasti ramai,” jawab saya padanya.

Dan, ternyata memang, ketika kajian belum dimulai, saat Ketua Yayasan Bina Qolam, Mas Oki Aryono, menyampaikan sejarah didirikannya Yayasan yang berada di Jalan Bengawan itu, para peserta mulai banyak berdatangan dan memenuhi ruangan. Sampai-sampai, pada sesi kajian, ketika Ustadz Adhian belum rampung bertausyiyah, para peserta diminta untuk menggeser tempat duduknya maju kedepan.
ANTUSIAS: Para Peserta Kajian Intensif Islam Penulis (KIIP) yang Diselenggarakan Bina Qolam Surabaya

Antusiasme para peserta barangkali selain karena narasumber yang memang berkompeten dalam bidang penulisan (terutama kajian Islam), yang tak kalah menarik adalah tema kajian yang diusung saat itu: “Mujahid Penulis Saatnya Bangkit!”

Dalam tausyiyahnya, Ustadz Adhian membuka mata dan hati para audiens dengan kalimat pentingnya jihad. Beliau menyebut dalam Quran Surat As-Shaf, ketika Allah mengajak hambanya untuk (berniaga) berdagang dengan-Nya. Salah satu bentuk berdagang dengan Allah adalah berjihad dengan harta dan jiwa. “Jika kita tidak berjihad, kita tidak akan masuk surga,”tambah penulis 30 buku tersebut.

Nah, ditengah tausyiyahnya beliau menyelipkan kata-kata Imam Syafi’I tentang seorang yang menuntut ilmu sama dengan orang yang sedang berburu. Dimana ketika berburu dan mendapatkan buruan, jangan lupa ikatlah dengan kuat. “Jadi yang disebut orang yang bodoh itu mengaji tapi ga mau nulis,” tukas ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu.

Betapa dulu, di saat menulis harus menggunakan tinta, peradaban Islam yang gilang-gemilang banyak melahirkan generasi penulis yang handal. Sebut saja nama Al-Biruni, Syekh As-Sulami, hingga Imam Al-Ghazali. Di Indonesia, nama-nama seperti Prof. Dr. HAMKA hingga M. Natsir menjadikan harum nama bangsa berkat karya-karya monumentalnya.

Dan kini, ketika fasilitas begitu mudah didapat, harusnya kita tak boleh kalah bersemangat dalam berjihad. Dengan tulisan yang di dalamnya ada ruhul jihad, maka kita termasuk barisan-barisan yang memuliakan agama Allah dengan kalam. Kemudian beliau berucap:

“Hina dan Mulianya Agama Allah Bergantung pada Jihad”

Hmm..ketika menuntut ilmu pahalanya sama dengan berjihad. Dan di era yang modern ini, jihad tak lagi terbatas pada tataran fisik, namun juga dalam bentuk intelektualitas berupa dakwah bil-qolam. Nah, agar kita bukan termasuk golongan para pemburu yang kehilangan buruannya, mari kita ikat ilmu itu dengan menuliskannya, mau..?

"Jihad Tak Harus dengan Kekerasan, Amarah, dan Perang. Dengan Pena-pun Bisa Merubah Dunia."

-99 Cahaya di Langit Eropa-

Porong, 25 Maret 2015
Ghirah itu  Masih Menyala..

*foto-foto: file facebook