18 January 2015

Batu dan Air

Saya teringat dengan Bu Eri Hidayati, Guru Pendidikan Agama Islam ketika masih berseragam putih biru. Bu Eri, begitu panggilan anak-anak pada beliau, dalam menyampaikan materi tentang agama Islam selalu diselingi dengan nasehat bijak. Ketika beranjak dewasa, saya baru menyadari betapa beruntungnya saya mendengar tutur kata penuh hikmah dari Guru kami yang asli Sumatera itu.

Salah satu pesan dari beliau yang hingga kini masih terngiang adalah batu dan air. Dua perbandingan yang sering  diberikan pada kami, anak-anak SMP dengan segala keunikannya.

“Belajar di masa muda, bagai menulis diatas batu. Belajar di masa tua, bagai melukis diatas air.”



Ya, belajar itu, kata beliau, seperti proses menulis diatas batu. Tak lekang oleh waktu, tak tertelan zaman, JIKA dilakukan saat masa muda, ketika daya ingat (long therm memory) begitu kuat. Lihatlah betapa bersyukurnya kita, ketika masa kanak-kanak diajari menghapal surat-surat pendek dalam Al Quran, kini tinggal mencari tahu maksud dan artinya, mencari asbabun nuzulnya (sebab turunnya ayat), dan mengkaji makna tersirat di dalam firmanNya. Memang sulit diawal, tapi sungguh mudah setelahnya, seperti menulis di atas batu, layaknya prasasti.

Namun, coba bayangkan bila melukis di atas air. Betapa susahnya untuk membuat satu warna yang sudah kita lukis untuk bisa bertahan barang beberapa menit. Itulah kondisi belajar pada masa ketika daya ingat tak seberapa kuat. Fase itu hadir ketika masa muda sudah lewat.

 **

Nasehat Bu Eri kembali terngiang ketika tapak langkah berada di Auditorium Smamda pada Sabtu (17/1).

 Menjadi panitia sebuah acara yang bertajuk MGT, “Musasi Got Talent”, pertama kali. Kegiatan swadaya yang sudah dua kali diadakan itu berlangsung mulai pagi hingga sore hari. Sebagai anggota di skuad perlengkapan, fungsinya untuk membantu percepatan dalam distribusi alat-alat pendukung. Tenaga dan insting sangat diperlukan ketika diberi amanah seperti ini. Sehari sebelumnya, panitia sudah berkumpul di Auditorium Smamda sejak siang, ba’da salat Jumat. Saya sebagai anggota tim perlengkapan bersama Pak Heri-ketua- dan Pak A’ad, bersinergi agar acara berlangsung sukses.

Ekspektasi, satu kata saya munculkan dalam setiap even yang saya ikuti. Sama halnya dengan MGT kali ini, kata ekspektasi yang saya tafsirkan sebagai perkiraan atau target. Dengan cara seperti itu saya dapat mengukur apa dan bagaimana goal yang akan dicapai dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan.

MGT bisa jadi seperti pentas seni sekolah-sekolah pada umumnya. Bedanya hanya, pentas seni ini diadakan dengan label sekolah Islam, sekolah Muhammadiyah, dengan reputasi kecerdasan intelektual dan pemahaman agamanya.

Dengan asumsi tersebut, ekspektasi saya pada even MGT kedua ini adalah seni yang memuat pesan dakwah. Dakwah Islam dengan wajah rahmatan lil ‘alaminnya. Tidak dengan wajah garang, yang memanggul senapan dan bersenjatakan meriam, seperti yang saya khawatirkan akhir-akhir ini. Bukan pula dengan wajah penuh bisul TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat), layaknya akidah “Andalusianya Sidoarjo” kini. Tapi dengan wajah cerdas, sarat nilai, dan penuh pelu kemurnian tauhid.

Sayang seribu sayang, saya belum melihatnya…

Saya hanya mendengar satu lagu Islam yang baru dibawakan, ‘Dengan Menyebut Nama Allah’, itupun hanya pada akhir sesi. Indie Film, saya belum menyaksikan dada saya bergoncang karena kerinduan dan kecintaan kita pada agama yang dibawa nabi akhir zaman ini. Drama, saya belum menonton sebuah drama perjuangan Islam. Katakan sebuah drama yang memuat nilai-nilai keislaman dengan kekentalan yang lebih dominan.

Gemuruh dada ini cukup saya tuangkan diatas tuts keyboard dalam laman blog pribadi. Cukup saya diskusikan secara terbatas. Agar jadi pengingat bagi saya, karena ada tanggungjawab yang diemban oleh saya dan lima puluh pendidik Musasi lainnya, dan berjuta-juta warga Muhammadiyah di luar sana.

Bukankah masa muda adalah masa mengukir tinta-tinta kebaikan. Belajar kebaikan dan contoh kebajikan di luar masih melimpah berserakan. Memberikan paradigma yang benar dan baik menjadi tugas kita sebagai pendidik. Memberikan pemahaman akidah yang benar bukan hanya milik pengajar mata pelajaran agama saja. Tapi tugas kita semua pendidik, dalam konteks lingkungan perguruan Muhammadiyah. Tentu kita tak ingin menjadi penerus jejak Salman Rushdie* dan Irshad Manji*, bukan…

*Andalusianya Sidoarjo, menyebut kota di Spanyol-Andalusia, peninggalan kejayaan kekhalifahan Islam. Ditambahi Sidoarjo, untuk mengingat keberadaan peninggalan kejayaan Islam di kota lumpur dengan kekuatan jam’iyyah Muhammadiyahnya yang kini sudah terdiaspora.
*Salman Rushdie, seorang novelis India yang besar di Inggris. Pada 1988, fatwa mati dikeluarkan Khomeini pasca terbit karya kontroversialnya yang berjudul "Satanic Verse" (Ayat-ayat Setan).
*Irshad Manji, pejuang "kebebasan" menyimpang. Hal tersebut terlihat dari beberapa karyanya. Buku 'Allah, Liberty and Love' (Allah, Kebebasan, dan Cinta), 'Trouble Wih Islam', dan 'Faith without Fear' yang menjustifikasi kebenaran paham lesbian. 




0 komentar: