26 December 2014

Perjalanan Qalbi

Perjalanan Porong-Lawang pada Kamis (25/12) siang itu ternyata banyak menyita tenaga dan waktu. Bayangkan, jarak yang biasa ditempuh hanya dalam waktu normal 2 x 30 menit (dengan mengesampingkan berhenti mengisi bahan bakar dan duduk sebentar di warung pinggir jalan-red), kali ini bisa memakan waktu sampai hampir dua jam lebih. Faktor klasik; kemacetan, masih menjadi aktor utama terhambatnya perjalanan.


Berangkat ba’da salat dhuhur, motor vega lansiran tahun 200-an meluncur deras ke arah selatan. Di belakang rumah “jagal”, akhirnya motor itu berhenti kemudian. Disana sudah menunggu mz Syahrul, mb Fine, Fuha, dan Izzam, keluarga yang menjadi role model kami berdua. Ya, saya dan Mohammad Delgago, entrepreneur pasar Porong, yang sekaligus menjadi sekretaris Pemuda Muhammadiyah Porong, diajak bersama keluarga “Baiti Jannati” tersebut untuk berlibur ke Lawang.

Tujuan destinasi kami awalnya adalah singgah di Lawang, tepatnya di Perumahan Malang Anggun Sejahtera, perumahan yang masih saudara kandung Perum TAS II di Tanggulangin, dan Perum TAS I di desa Kedungbendo yang sudah ditenggelamkan lumpur. Jangan bayangkan, nasib perum MAS akan sama dengan Perum TAS I.

Ketika masuk di gerbang utamanya yang berdekatan dengan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, alias Rumah Sakit Jiwa Sumber Porong, kita akan disambut dengan ratusan pohon trembesi yang sudah berjejer di sepanjang jalan akses menuju perumahan. Disana (perumahan MAS-red) tak ubahnya sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan dan pegunungan. Subhannallah sungguh luar biasa alam ciptaan Allah.

Perjalanan menuju rumah mz Syahrul dan mb Fine yang berada di blok E tersebut menjadi tak membosankan karena lukisan Sang Pencipta yang tiada berbanding. Sesampainya dirumah bertipe 36 itu kami bersih rumah yang memang hanya di”satroni” minimal sebulan sekali.

Setelah bersih-bersih rumah dan berdiskusi akan jalan dakwah persyarikatan Muhammadiyah yang ada di ranting dan cabang (termasuk juga ortomnya-red), kami berangkat untuk silaturahim ke petani organik. Perumahan tersebut memang berbatasan dengan rumah warga kampung yang berada di perbukitan yang jalannya naik turun. Sepanjang perjalanan, kami menyaksikan pemandangan berhektar-hektar sawah dengan lanskap bukit hijau yang sungguh sejuk dipandang mata. Disana di ujung jalan, tepatnya di desa Ngepoh, motor kami belokkan ke kiri dan akhirnya berhenti di sebuah rumah.

Pak Kemin Hardianto nama petani organic tersebut. Mulai tahun 2007 beliau beserta kelompok tani “Sumber Makmur II” mengembangkan pertanian organik. Pertanian yang menghilangkan unsur pupuk kimia untuk menyuburkan tanaman. Kebetulan Pak Kemin merupakan ketua kelompok tani yang sudah menghasilkan produk organik berupa beras tipe IR-64, beras merah, beras hitam, serta seral beras merah dan hitam. Dari keterangan beliau juga kami baru tahu bila produk organik terutama beras rasanya sangat mengenyangkan. Beliau menuturkan, untuk setengah liter beras cukup untuk empat orang di keluarganya. Rumahnya yang sederhana itu penuh dengan aneka tumbuhan, kolam ikan, dan gazebo untuk pertemuan kelompok petani. Setelah berdiskusi hampir tiga puluh menit akhirnya kami pamit pulang dengan “oleh-oleh” delapan karung beras yang masing-masing berisi 5kg, empat sereal beras merah dan hitam. 

Tak lupa kami berterimakasih atas suguhan “godho sukun”. Panganan tradisional yang biasa menempati urutan terbawah di penjualnya tersebut (penilaian pribadi penulis-red), ditangan keluarga Pak Kemin menjadi terhormat. Karena menjadi suguhan wajib. Dan memang harus diakui, untuk rasa godho sukun yang biasa keras dan hambar seperti nasib godho pohong yang belum berkolaborasi dengan keju. Sungguh manis dan lembut, karena menurut istri Pak Kemin, untuk citarasa godho sukun yang maknyus seperti yang dihidangkan itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah “mengukep”, menjadikan matang buah sukun itu terlebih dahulu. Baru setelah matang, sukun tersebut dikukus dan digoreng beserta tepung. Wah, pantesan beda rasanya. Wong kita biasanya cuman langsung menggoreng, tanpa melihat sudah matang atau belum, apalagi mengukus, ck..ck..(ilmu baru-red).

Usai bersilaturrahim dan mendapat banyak ilmu baru, kami pun kembali ke ‘basecamp’ untuk menunaikan salat maghrib. Dirangkai dengan salat Isya setelahnya, kami segera bersiap mengisi perut. Di jalan utama menuju gerbang perumahan itulah warung penjual tahu telor. Panganan yang mirip dengan tahu tek tersebut menjadi jujugan kami untuk makan malam. Kami harus berterimakasih pada mz Syahrul dan mb Fine, karena mulai siang hingga malam, untuk urusan perut, kami tak boleh merogoh kocek sekalipun. Jazakumulah khairan katsir.

Kota Lawang kadang terlalu nyaman untuk dinikmati keindahannya pada malam hari. Tak seperti ramainya jalan rayanya, untuk perumahan MAS sendiri saat itu bisa dibilang masih sepi. Padahal di dalamnya ada cottage yang disewakan per-kamarnya. Jika dilihat dari kampung tempat kami membeli produk organik tadi, cottage yang bernama “BESS” tersebut sungguh menarik dan anggun. Karena perpaduan lampu yang berwarna kuning menjadi pusat perhatian bagi siapa saja yang melintas di jalanan kampung. Dengan view perbukitan dengan hawa pegunungan yang khas, kami bermimpi untuk kapan-kapan bersama kawan Pemuda Muhammadiyah untuk menyewanya. Ya, walaupun untuk harga weekend dan weekday-nya bisa sampai ratusan ribu perhari. Ga pa pa-lah, “mimpi itu harus dikerjakan, bukan diomongkan,”kata Pak Romi Satria Wahono.

Pagi Sang Pencerah

Pagi yang tak biasa kami lewati. Senyuknya kota Lawang menyusup diantara jendela-jendela kamar. Di pagi yang tidak seberapa dingin itu kawan kami Delgago sudah bergegas ke kamar mandi. Ditanya suhu air yang ada di kamar mandi, dengan sedikit membusungkan dada, dia menjawab bahwa aktivitas mandi pagi sudah menjadi kebiasaannya. Karena saban pagi dia harus berangkat ke Pasar Porong untuk “berjihad”.

Ba’da salat subuh berjamaah, kami pun bersiap dengan aktivitas jalan-jalan, Menyusuri jalanan perumahan yang berpaving, menembus lintasan makadam yang membatasi jalanan kampung dengan perumahan. Dan, lagi-lagi pemandangan yang sayang untuk dilewatkan, menjadikan mata kami begitu dominan menikmati alam ciptaan sang Khaliq. Perjalanan yang berlangsung kurang lebih sejam, yang diselingi dengan foto-foto itu berakhir di warung nasi di sebelah timur pasar Lawang.

Usai menunaikan hak perut, saya dan Delgago bergegas segera menjalankan amanah yang lain; pergi ke Batu. Sementara mz Syahrul ke Porong untuk menyelesaikan proyek pindahan Perguruan Muhammadiyah yang ada di Lajuk. Usai salat Jumat, beliau akan kembali ke Lawang untuk menjemput Mb Fine, Fuha, dan Izzam. Kami pun pamit.

Dalam perjalanan menuju kota Batu, prediksi kami bila jalanan bakalan padat ternyata tepat. Sepanjang perjalanan dari Lawang hingga Karanglo, jarum speedometer motor kami hanya mentok pada kisaran 20-40 km/jam. Libur umat kristiani yang digandeng dengan cuti bersama membuat istilah libur panjang semakin kentara dengan padatnya kendaraan di jalan raya. Dan tak dapat dipungkiri, kami sesekali membenarkan tempat duduk karena panasnya jok motor di tengah kemacetan sangat terasa.  

Plang Papan Panti Asuhan 'Aisyiyah Bumiaji Kota Batu
Lewat Karang Ploso untuk menghindari kemacetan Kota Batu. Tibalah kami di pintu gerbang Kaliwatu Rafting. Amal Usaha kreatif dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bumiaji. Ya, berada di daerah wisata yang dikelilingi view pegunungan yang berhawa dingin menjadikan kecamatan Bumiaji memilih untuk bergerak di amal usaha kreatif berupa tempat wisata. Kaliwatu sendiri merupakan brand rafting dari “Apple Sun Learning Center”, yang berada satu kompleks dengan Panti Asuhan Aisyiyah Bumiaji. Disana ada Masjid biru yang gagah dan indah.

Setelah perjalanan yang melelahkan, kami agak mendinginkan suhu tubuh sejenak dengan berleyeh-leyeh di masjid biru tersebut. Setelah beberapa menit kami pun bertemu dengan Ibu pengasuh panti. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, dipanggillah Pak Wahab, Bapak pengasuh panti. Keduanya kemudian mempersilakan kami masuk ke ruang kantor panti yang berada di sebelah barat. Hampir satu tahun rupanya, ketika kedatangan pertama kalinya ke panti tersebut. Dan saat ini kami pun bermaksud ingin mengadakan kegiatan serupa, sama dengan kegiatan yang kami selenggarakan pada Januari lalu.

Pak Wahab rupanya masih mengingat kami, dan beliau mempersilakan bila ingin memakai fasilitas panti untuk kegiatan yang akan kami selenggarakan. Kami pun berterimakasih banyak. Dan obrolan pun berlangsung hangat dengan kedatangan Pak Prayit, ‘guide’ tempat-tempat menarik yang ada di Batu. Beliau juga termasuk bagian dari Panti, Istrinya turut ambil peranan dalam urusan masak-memasak di Panti Asuhan yang didirikan mulai tahun 2004 tersebut.

Masjid Biru?: Asli Sebenarnya Saya Lupa Nama Masjidnya, hehe..

Kami diminta Pak Wahab untuk menahan diri agr tidak segera pulang. Agar kami melaksanakan salat Jumat di masjid biru. Karena akan diperkenalkan dengan Pak Teguh, ketua panti. Kebetulan Pak Teguh yang menjadi khatib dalam salat Jumat nanti.

Sosok Pak Teguh mengingatkan saya pada presiden ketiga republik ini; BJ. Habibie. Itu terlihat dalam penyampaian khutbah Jumat yang bertema Taqarrub Qalbi dalam menghadapi tahun baru yang sarat kemaksiatan. Pun juga tampak ketika kami berbincang usai salat Jumat. Beliau dengan lugas meminta kami untuk mengirim surat lewat email.



Obrolan kami tak lama, karena di hari yang sama masih banyak amanah-amanah lain yang sudah menunggu. Sebelum beranjak pulang, kami diminta untuk mencicipi panganan yang ada di meja depan kami. Karena awal bertamu tadi sudah disuguhi apel beserta sarinya. Kami pun berterimakasih. Karena mungkin melihat kesungkanan kami, akhirnya Pak Wahab sendiri yang menyorongkan sendiri panganan khas tersebut untuk kami. Kami berterimakasih kembali, atas “klenyemnya”..eh, kebaikannya.

Sumber Porong, 26 Desember 2014


Tanggulangi Mudharat Tahun Baru: Pamflet dalam Bentuk Selebaran yang Diberikan pada Jamaah Salat Jumat

0 komentar: