Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

24 October 2015

Umbul-umbul dan Eleganisme

Siang itu aku berangkat ke kota pahlawan, bukan untuk ikut kirab hari santri yang masih kontroversi, tapi aku pergi ke pusat elektronika yang ada di kota buaya, menunaikan amanah dari mamakku.

"Le, tolong antar adikmu beli laptop. Kasihan dia, tugas-tugasnya banyak."

Kata-kata lembut itu mengalir pelan dan dalam.Terngiang betapa perjuangan Bapak dan Ibu yang bekerja keras untuk dapat mengumpulkan rupiah demi rupiah agar dapat membelikan adik laptop baru.

Pikiranku yang masih membayangkan nasihat ibu, tertimpuk pada barisan bendera partai yang berjajar di tepi jembatan ketika aku melintasi layang jenggolo. Ada yang mengusik mata, ketika bendera partai itu bersanding dengan bendera ormas yang menjadi jalan jihadku. Nasib tidak lebih baik karena disamping kalah ukuran, juga tertinggal dalam pandangan marketing. Tiang bendera partai lebih tinggi, kibarannya lebih elegan.

Sering kami melihat pemandangan seperti itu. Bendera ormas yang dipasang asal-asalan, asal nempel. Dilihat dari segi estetika sangat kurang. Belum lagi yang dengan asal dipaku di pohon. Termehek-meheknya kita disitu. Untungnya masyarakat kota udang tidak sereaktif warga urban.

Kadang kita juga iri dengan beberapa ormas yang notabene sempalan, namun sangat menjual. Banner dipasang begitu elegan di tepian jalan, tanpa mengusik kerindangan tanaman. Dari sisi marketing terutama branding sudah didapatkan.

Nah, kita yang konon menjadi organisasi modern masih sangat konvensional dalam sisi publikasi. Kita tidak dapat menyalahkan sebagian kemudian membenarkan yang lainnya, karena organisasi ini adalah milik umat. Kita jaga bersama. Namun, keberlimpahan sumber daya yang unggul belum ditangkap para stakeholder 'kasta tertinggi' sebagai sebuah potensi. Padahal bila mau membuka mata, ada banyak bibit-bibit potensial yang apabila dipoles dengan sedikit motivasi dan dorongan menjadi sebuah keunggulan.

Saya jadi terngiang tulisan Munif Chatib pada bukunya "Sekolah Manusia", pada halaman prakata dia menyampaikan pandangannya yang kurang lebih isinya adalah tentang non-muslim yang mengambil banyal faedah dari Islam. Ibarat sumur. Islam adalah mata air yang tak kering. Non-muslim sering menimba dan mengambil air itu dengan pompa. Sedangkan kita, umat muslim mengambil air itu bukan dengan pompa, tapi dengan sebuah timba, bocor pula. Na'udzubillah.
Kata praktisi pendidikan asal kota udang itu, kita kalah dalam metodologi. Sehingga dalam segi yang lebih luas, mereka (non-muslim) sudah berlari kencang, sementara kita terseok-seok, terpincang-pincang, bahkan sesekali kaki kita tersandung, kemudian kita mengaduh.

Gedang, 14 Rabiul Awwal 1437 H

30 September 2015

Kisi-Kisi UTS Penjas Musasi 2015-2016

Assalamu'alaikum..para generasi emas Musasi. Silakan bagi yang mau mengunduh Kisi-kisi Ulangan Tengah Semester Ganjil 2015-2016.

Kalian bisa membukanya disini

Salam sehat, aktif, dan beribadah selalu. Matur tengkyu :)

23 August 2015

Nyanyi 17-an

Entahlah sejak kapan saya suka bernyanyi. Sejak jaman TK ketika diajari Ibu Guru menyanyikan lagu anak-anak. Ataukah meloncat saat jaman SMP yang gemar nge-band. Tapi yang jelas, saya suka dengan orang menyanyi. Baik sendiri (solo) maupun berkelompok (band).

Ketika jaman anak-anak dulu ada nama Joshua dan Cikita Meidy. Ada juga Dea Ananda yang menyanyikan lagu Nabi dan Rasul. Dari nyanyian itu saya jadi hafal nama-nama Nabi yang berjumlah 25 tersebut. Kemudian ada grup band Dewa dan Sheila on 7. Lagu-lagu mereka suka saya tirukan ketika berkostum putih-biru (SMP). Sampai-sampai saya hunting kaset dan CD-nya di lapak-lapan kali lima di seputar pertokoan Porong.

Afiliasi saya berubah ketika SMA. Berada di asrama rasa-rasanya tiada hari tanpa mendengarkan lagu. Karena belum familiar dengan hape MP3, radio menjadi barang yang penting saat itu. Stasiun radio yang sering kami incar tuningnya adalah M-Radio. Ketika sampai pada channel tersebut, kita tak perlu gonta-ganti saluran untuk mendapatkan lagu yang kita inginkan. Karena dari M-Radio saja sudah cukup, dia (M-Radio) tak pernah berhenti memutar lagu-lagu yang sedang hits pada saat itu. Maka selera saya pun berganti pada grup Band Ungu. Salah satu alasannya adalah karena Ungu dapat mengerti dan mewakili perasaan hati saya pada saat itu, hehe..

Menginjak dunia kerja dan kemudian jadi mahasiswa, saya mengenal Maher Zain. Lagu-lagunya kemudian saya unduh dan saya mainkan pada laptop Pentium 3. Tentu mengunguhnya bukan pada laptop yang berharga 100 ribu itu. Tapi pada warnet, yang kemudian saya simpan pada laptop yang bermerk IBM itu. Selera saya itu sampai sekarang bertahan. Sedikit selingan dengan Sami Yusuf dan beberapa nama penyanyi yang bergenre religi.

**

Tujuh belasan kemarin. Sekolah kami, SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo mengadakan beragam lomba. Mulai dari lomba untuk siswa seperti story telling, catur, menyanyi solo, desain batik, melukis, sampai pada cipta puisi. Tak ketinggalan juga ada lomba yang khusus untuk para Guru. Nama keren lombanya adalah Singing Contest. Lagu yang dinyanyikan juga seputar lagu-lagu nasional seperti Tanah Airku , Satu Nusa Satu Bangsa, dan Indonesia Tanah Air Beta. Lomba dinyanyikan secara berkelompok berdasarkan rumpun mata pelajaran.

Para peserta yang merupakan Guru-guru dari latar belakang yang beragam, tampil heboh dan menggetarkan panggung kecil yang berada di kantin. Para penonton yang terdiri dari Guru dan sebagian murid itu bersorak-sorai. Para penonton meyakini, ternyata mereka (para guru) juga banyak yang bakat nyanyi.

Saya dan teman-teman Guru Penjas dapat nomor urut sebelas. Bersepakat juga membawakan lagu nasional Tanah Airku. Untungnya berada pada urutan akhir adalah bisa menilai kelebihan dan kekurangan para peserta yang sudah tampil sebelumnya. Dari situ kemudian ada kesimpulan: harus ada diferensiasi. Jika kita tampil dengan hanya berbekal nyanyi lagu tanpa ada sesuatu nilai lebih, maka kita hanya menjadi peserta yang biasa-biasa saja. Kami (guru penjas) akhirnya bersepakat untuk mengusung puisi menjelang penutupan lagu tersebut. Kami mencari kertas. Kami pinjam bolpoin, dan kurang dari lima menit akhirnya jadi puisi. Tak banyak, hanya beberapa bait. Menyesuaikan dengan durasi lagu.  

***

Menjelang salat dhuhur, diumumkan para pemenangnya. Di grup WA Guru Penjas, ada kata-kata semangat dan antusias. Saya belum percaya jika kami menang. Tapi kenyataannya seperti itu. Guru Penjas pun bisa seni, seni bernyanyi dan berpuisi..


Juwet, 230815


3 August 2015

Putih, Hitam, dan Abu-abu

Coretan ini tidak bermaksud untuk ujub pada diri. Hanya sebuah muhasabah yang niatnya tidak lain untuk pengingat pribadi agar istiqamah dalam niat dan ikhlas beramal hanya karena Allah Ta'ala semata. Sekedar introspeksi juga, karena berlalunya waktu kadang mengaburkan hakikat tujuan sebenarnya.

Beberapa bulan yang lalu sekolah mengadakan lomba blog antar guru dan karyawan. Lomba yang mempunyai tujuan mulia, yakni menggerakkan dan membumikan budaya literasi. Kita tahu, kondisi terkini budaya literasi kita (tak hanya sekolah) masih kembang kempis.

Kemarin Rabu (29/7), pemenangnya sudah diumumkan. Dibagi menjadi tiga kategori: tampilan, media pembelajaran, dan isi (konten). Lomba yang digagas teacher blogger Edy Prawoto ini diikuti sebagian besar guru di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Kurang lebih dua sampai tiga bulan penilaian dilakukan. 

Alhamdulillah blog “Roelsebloe in Blog” (RiB) menggaet nominasi konten. Sebuah capaian yang sebenarnya bisa dikatakan masih jauh dari wujud ideal. Entah, dari kacamata mana Pak Edy menilai blog ini menjadi terbaik kontennya.  Bila dibandingkan dengan blog yang dikelola beliau: Laci Guru, ibarat menara Eiffel dan BTS, hehe..

Blog ini sebenarnya muali dirintis sejak 2010 silam. Ketika pertama kali menginjak bangku perkuliahan. Sebagai "balas dendam" karena 'terprovokasi' tulisan pada bukunya Pak Romi Satria Wahono (RSW). Dalam buku kecil dengan sampul warna putih itu, para pembaca--termasuk saya-- di-brainstorming agar dalam hidup tidak melepas kata Perdjoeangan. Sebuah kata yang dulunya digemakan para pahlawan perebut kemerdekaan. Sehingga, ketika makna perdjoeangan itu dihadirkan dalam hidup, maka keluh kesah dan galauism terlempar ke luar arena kehidupan. Hehe..

Saya secara pribadi uluk salam dan hormat pada guru-guru kehidupan yang bertebaran memberi inspirasi, motivasi, dan membulatkan tekad perdjoeangan. Doa-doa moga selalu terpanjatkan pada Allah agar segala kebaikan dibalasNya dengan berlipat ganda, Aamiin. 

Belum berhenti. Dua kata itu setidaknya memberikan tantangan pada para pemenang. Budaya literasi sebagai ujung tombak lahirnya generasi pemimpin bangsa yang mumpuni seolah menjadi suatu hal mutlak. Harus ada program yang berkelanjutan-berjenjang yang harus dipikirkan bersama.

Setidaknya ada tim kreatif untuk melaksanakan misi dan tujuan mulia agar sekolah bisa berdaya dengan literasi. Blog ini hanya sedikit partikel dari keseluruhan partikel sukses anak-anak didik. Dibutuhkan kumpulan-kumpulan yang lebih banyak dan saling terhimpun serta menguatkan satu dengan yang lain. 

Akan ada penyesalan ketika amanah yang sudah teremban bergerak timpang dan saling tumpang tindih. Ada sebuah tantangan yang harus didaki. Gunung mayantara, yang jika tidak disinari warna putih akan menjadi hitam pekat. atau ketika cyber mountain tak disinari dengan cahaya terang mencerahkan, maka disana akan bias dengan keabu-abuan. Menjadi tempat nyaman melahirkan generasi dengan sikap ragu yang dominan.

Meski berat, kita harus kuat menghadapi tantangan dunia pendidikan di era postmodern kali ini. Berpikir kreatif sebagai laku ikhtiar harus ditempuh. Diimbangi dengan gerak dinamis dan jalinan tim yang solid. 

Ditulis bersambung,
Jasem-Porong, 16-17 Syawal 1436 H/ 1-2 Agustus 2015

http://www.ciscolive.com/

14 July 2015

Remaja dan Pendangkalan Akidah (2)

Melanjutkan tulisan dari status sebelumya tentang pendangkalan akidah yang dialami remaja. Awalnya, saya memang hanya memposting di Instagram foto dan caption prosesi ikrar syahadat seorang Ibu dan anaknya yang kembali memeluk Islam. Namun, setelah melihat fenomena beberapa artis murtad dan ragam pendangkalan akidah yang tersebar secara masif baik dari surat kabar, tivi, hingga musik. Maka saya kira perlu untuk mengetengahkan persoalan ini.

Pertama kali, kemarin ketika melihat beranda. Saya menemukan postingan dua anak remaja dengan pakaian putih-putih dengan tanda salib warna biru di dadanya. Dari keterangan foto yang diunggah tersebut, dua anak remaja dengan baju dan rambutnya yang masih basah ini ternyata baru selesai dibaptis.

Rasa tergelitik saya bertambah, setelah tulisan keterangan dalam foto tersebut ada nama-nama “stakeholder”  yang di-tag disana. Dari beberapa nama yang di-tag, ada nama yang begitu Islami. Saya bertambah yakin jika pemilik salah satu nama adalah orang yang ada dalam foto tersebut, yang dulunya Islam dan baru kena baptis.

Sedikit saya telusuri status dan beberapa fotonya. Dan memang benar, bulan Juni lalu dia masih mengucap basmalah ketika mau mengikuti Ujian Nasional, dan kemudian mengucap hamdalah usai dinyatakan lulus. Salah satu fotonya juga ada yang mengenakan pakaian sekolah dan memakai jilbab.
Saya kemudian bertabayyun (meng-kroscek) padanya. Dalam kotak pesan, saya layangkan beberapa “klarifikasi”. Beberapa diantaranya: sejak kapan dia berpindah keyakinan? Dia menjawab baru kemarin (12/7) dia murtad.

Sudah tahu apa belum konsekuensi jika seseorang berpindah keyakinan? Dia hanya menjawab jika ini sudah keyakinannya.

Sudahkah keputusannya berpindah keyakinan itu diketahui kedua orangtua? Dugaan saya tak meleset. Keputusannya diambil sendiri (dengan pengaruh teman-temannya). Dia bilang nanti juga suatu saat akan bilang pada kedua orangtuanya.

Nama yang diberikan kedua orangtuanya yang berartikan sebaik-baik wanita, ternyata belum dipahaminya. Baginya, mungkin, nama hanya sebatas nama. Ia tak menyadari, jika ada doa yang terselip dari kedua orangtua padanya.

Well, kita tidak memungkiri memang, ternyata fenomena pendangkalan akidah tidak hanya terjadi di pedalaman-pedalaman daerah yang minim aksesibiltas. Kita sudah mendapatkan fakta beberapa saat yang lalu, di kota besar seperti Jakarta ada penyusupan kristenisasi dalam acara Car Free Day. Kita pun melihat kenyataan akan proyek pemurtadan di Surabaya. Dua contoh itu terjadi di kota yang biasa disebut metropolitan. Bagaimana dengan daerah-daerah lain?

Di Jawa Timur sendiri, Malang Selatan disebut-sebut menjadi sasaran proyek Kristenisasi Internasional. Konon disana sudah berdiri tegak gereja terbesar se-Asean. Belum lagi kabupaten dan kota yang ada di sekitarnya.

Fenomena artis murtad, sedikit banyak memberikan “role-model” yang kurang baik bagi remaja-remaja yang lemah akidah dan labil emosi. Menjadi sasaran empuk bagi pasukan salib untuk bergerilya memangsa calon baru. Lemahnya ekonomi, menjadi target para misionaris untuk menawarkan dagangan agama dengan jargon; kau tukarkan agamamu, kuberikan beras sekardus untukmu.

Kita meyakini jika “Innaddiina indallahil Islam” Agama yang benar disisi Allah adalah Islam. Tapi apakah kita yakin saudara-saudara kita yang lain akan tetap berpegang teguh dengan kalimat tersebut, sementara anak-anak mereka menangis kelaparan dan membutuhkan asupan makanan, dan kita berfoya-foya sendirian atau berjamaah, memajang foto buka bersama, seolah abai terhadap mereka?
Ada yang harus dipikirkan bersama. Ramadan kali ini, ada yang menohok di hati.
Wallahua’lam bisshawwab.

"Islam memandang keimanan sebagai hal terpenting dan mendasar dalam kehidupan. Iman akan dibawa mati. Iman lebih dari soal suku, bangsa, bahkan hubungan darah. Iman bukan “baju”, yang bisa ditukar dan dilepas kapan saja si empunya suka."
-Dr. Adian Husaini-

gambar:mimbarhadits.files.wordpress.com