Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Showing posts with label Menajamkan Pena. Show all posts
Showing posts with label Menajamkan Pena. Show all posts

13 April 2015

Aysel dan Emel

Jika Pak Edy Prawoto lebih suka memberi judul “Bule dan Perdagangan Bebas”, maka saya lebih memilih sudut pandang lain. Aysel dan Emel, dua tokoh yang diceritakan Kang Abik dalam novel terbarunya Api Tauhid.

Dalam novel pinjaman Perpus Musasi yang bau saya tuntaskan tersebut, Aysel diceritakan sebagai sepupu Hamzah, teman kuliah tokoh utama Fahmi ketika menempuh studi di Madinah. Karena Fahmi mendapat ujian sesaat setelah menikah dengan putri Kyai Arselan, Nuzula. Belum beberapa lama menikah, Fahmi diminta untuk menceraikan Nuzula tanpa sebab yang jelas. Kegalauan Fahmi akhirnya dilarikan dengan cara ‘radikal’; menghafal Quran dengan hafalan sebanyak 40 kali di raudhah masjid Nabawi.

Belum genap 20 kali khataman, tubuh Fahmi akhirnya ambruk. Ketika ditemukan sahabatnya asal Indonesia, Ali, ia segera dibawa ke rumah sakit oleh Hamzah. Begitu siuman dan baikan. Keinginannya untuk melupakan masa lalunya begitu kuat, sampai akhirnya Hamzah menceritakan rencananya pulang ke negara asalnya, Turki, pada liburan kuliah. Gayung bersambut, Fahmi akhirnya mau ketika ditawari Hamzah untuk ikut bersamanya. Bersama Subki, sahabat kuliahnya yang lain asal Indonesia, mereka pun pergi ke negeri yang berbatasan dengan selat Bosphorus tersebut.

Di negara bekas kekhalifahan Utsmaniyah itu, Fahmi dan Subki diajak berkeliling kota-kota bersejarah yang ada kaitannya dengan Badiuzzaman Said Nursi, seorang Mujaddid—yang juga menjadi kisah lain di novel ini—dan ikut andil dalam menjaga kemurnian tauhid umat Islam Turki dari gempuran atheisme dan sekularisme yang didengungkan Mustafa Kemal Attaturk.

Di sanalah akhirnya mereka bertemu dengan Aysel dan Emel. Emel sendiri juga ada ikatan saudara dengan Hamzah. Kedua saudara Hamzah tersebut diceritakan dalam novel tersebut sama-sama mempunyai paras yang rupawan—terus terang sebelumnya saya hanya bisa menggambarkan paras-paras rupawan Indonesia—yang membedakan hanyalah soal kualitas hafalan Quran. Dalam bidang hafalan, Emel, lebih unggul dari Aysel, karena Emel lebih mendalami ilmu agama dibanding Aysel.

Kembali ke topik awal. Sabtu pagi itu (11/4), saya ‘beruntung’ bertemu Aysel dan Emel dalam arti yang lebih luas, hehe..

Ruang guru dibuat panik, ketika para peserta pelatihan yang mendapat wejangan IT dari Pak Edy, dikejutkan dengan kedatangan gadis-gadis luar negeri. Ternyata mereka adalah mahasiswa Bu Purwaningsih, Dosen yang sekaligus Dekan Fakultas Keperawatan Unair, yang sengaja diundang ke sekolah untuk menjadi pembicara dalam kegiatan IPM tentang Bahaya dan Penanggulangan HIV/ AIDS.

Mereka berenam adalah mahasiswi Belanda yang menjalani pertukaran mahasiswa dengan Unair. Selama enam bulan mereka “menjajah” kembali Ibu Pertiwi. Dari sekilas perbincangan dengan Bu Pur—panggilan Bu Purwaningsih, mereka sudah dua bulan berada di kota Pahlawan. Bu Pur juga bercerita, jika diantara enam mahasiswi asal Belanda itu, ada satu yang keturunan Turki.

“Agamanya Islam, Bu?”

“Ya, Islam! Ketika saya studi di Belanda, Ayah-Ibu mereka salat dan puasa, tapi dia (gadis Turki) itu ga salat dan ga puasa..”jawab Bu Pur. 

“Kenapa, Bu?”

“Karena pengaruh lingkungan. Disana kan ateis begitu dominan. Materialisme menjadi Tuhan. Meskipun gereja-gereja bertebaran, namun taka da yang berpenghuni, sepi.” tambah wali murid dari Iqra kelas 7C ini. 

Hmm..saya hanya bisa menarik nafas panjang..

Kedatangan para tamu dari Belanda ke sekolah kami tersebut, setidaknya pada diri saya pribadi memberi banyak pelajaran.

Yang pertama adalah aspek keimanan. Betapa kita sungguh bersyukur dilahirkan Ibu kita sudah dalam keadaan Islam. Kita berislam secara turunan. Dan lingkungan kita, negara kita mayoritas pemeluk agamanya adalah Islam. Sejak kecil kita dibiasakan dengan akhlak dan ibadah Islami, Alhamdulillah..

Kedua, saya sendiri merasa minder, Dengan kemampuan bilingual yang sangat terbatas dan pas-pasan, rasa-rasanya begitu kelu lidah ini untuk sekedar bertanya pada mereka. Saya pun jadi teringat masa pra-kemerdekaan. Bagaimana kecerdasan para founding father kita, Bung Hatta dan Agus Salim saat berdiplomasi dengan mereka. Lha kita (saya), jangankan berdiplomasi, untuk sekedar….(ah sudahlah)

Terakhir, rasa penasaran saya dengan sosok Aysel dan Emel akhirnya sedikit terobati. Bayangan saya pada keduanya, akhirnya terjawab dengan kehadiran enam mahasiswa asal Belanda tersebut. Lho, Belanda kan bukan Turki? Iya, setidaknya Turki adalah separuh wilayahnya masuk Eropa, Iya, kan?!

Porong, 130415
—ghadul  bashar—

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. Al-Hujurat:13)



11 April 2015

Sepenggal Kisah Wisuda (2/habis)

Jadi begini, ketika kita punya kenangan dengan apapun itu, maka saat bertemu kembali dengannya, sedikit banyak kita akan mengenang masa-masa bersamanya. Seperti itulah saya ketika mendapati kenyataan Wisuda ke-82 Unesa akan diadakan di DBL Arena, bukan di GOR Bima-Lidah.

INSTAGRAM: 23 Juni 2013

Haru. Betapa tidak! Dulu, sekitar tujuh tahun lalu, ketika diri ini untuk pertama kalinya menjejak kaki di Graha Pena. Info lowongan kerja yang dibaca pada kolom iklan baris hari Sabtu di Jawa Pos, mengantarkan langkah kaki hingga sampai di markas koran terbesar di ujung timur pulau Jawa itu. 
Hanya berbekal selembar ijazah cuma-cuma dari SMA, ditambah semangat jihad fi sabilillah, membulatkan tekad pada diri untuk mengubah keadaan, dari tiada menjadi ada, dari kutu kupret menjadi kutu loncat—kutipan khas Pak Romi Satria Wahono, dengan harapan agar dapat menjadi kenyataan—red.

Bukan waktu yang singkat untuk dapat bertahan di rumah keluarga besar Jawa Pos Group tersebut. Bukan pula semudah membalik telapak tangan untuk dapat mengatur waktu, dan kemudian membaginya antara kesibukan kerja dan kuliah. Menjadi mahasiswa dua kaki. Menjadi pekerja dua hati. 

Pernah ada suatu masa, ketika musala di lantai dua menjadi teman tidur setia. Hanya karena ketika jam pulang malam shift dua yang pukul sebelas itu aras-arasen—malas—terj, akhirnya musala menjadi sasaran. Ada pula masa, ketika kamar mandi redaksi yang ada di lantai empat menjadi target, agar bau badan sedikit berkurang ketika masuk shift pagi. Begitulah sedikit ingatan yang disebut dengan kenangan itu.

Maka saya begitu naif, ketika menyebut gelar yang saya dapatkan ini murni karena kerja keras, keuletan, dan sikap pantang menyerah dari saya seorang, itu salah besar. Karena sesungguhnya ada banyak tangan-tangan yang digerakkan oleh Allah untuk membantu hambanya yang lemah dan tanpa daya ini. Ada doa-doa terpanjatkan. Dan itu semua karena Allah yang memberi jalan atas semua kemudahan.

Saya akan mengingat mereka, kawan seprofesi di ring satu (sebutan untuk “pasukan” garda terdepan) yang telah memberikan sumbangsih waktu, tenaga dan pikirannya untuk saya. Mereka mungkin disebut golongan—maaf-- “pekerja kelas bawah”, namun percayalah dari merekalah saya menemukan pelajaran berharga: “jangan pernah menilai isi buku dari sampulnya”.

Kenyataannya memang, ketika dugaan awal yang mengatakan tidak adanya teman baik dalam pekerjaan akhirnya terbantahkan. Di Graha Pena ternyata berterbaran, mereka-mereka yang tulus, ikhlas, dan berhati mulia. Pengalaman pribadi selama kurang lebih enam tahun disana (2008-2014) menjadikan saya sedikit membuka diri dan mengasah kepekaan dengan realitas sosial para buruh jasa—jika boleh mengatakannya—dengan “mata yang lebih terbuka”.

Itulah mengapa ada perasaan haru ketika mengikuti prosesi wisuda yang lalu. Ketika tiba di Graha Pena saya masih bisa bercengkrama dengan mereka, Mas Syaifulloh, Mas Murindae, Mas Anton, dan Mas-mas serta Pak-pak lain, yang tak dapat disebut satu-persatu—semoga Allah memberikan kelipatan atas kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya, aamiin.


Terakhir adalalah berat. Beratnya tanggungjawab yang teremban usai wisuda dirampungkan. Dari ikrar yang diucapkan bersama-sama, dari gelar yang merupakan amanah, dan dari harapan masyarakat yang dibebankan pada pundak kami semua. Semoga Allah selalu meridhoi jalan kami, jalan para PEDJOEANG yang tak hanya haus gelar, namun juga haus ilmu dan prestasi. 

Jasem-Wonoayu-Tulangan-Porong 110415
–dalam degup niatan bersegera—

TERIMA KASIH: Hasil Bidikan Sholeh Ugeng, Salah Satu Kawan di Graha Pena


9 April 2015

Sepenggal Kisah Wisuda (1)

DBL Arena menggema. Ribuan manusia tumpah ruah dalam alunan wisuda. Ya, Ahad pagi itu (29/4), gedung megah yang dibangun pada medio 2007 lalu itu menjadi saksi acara Wisuda Universitas Negeri Surabaya yang ke-82. Terus terang, dalam hati saya campur aduk. Antara senang, haru, dan berat.

Senang? Wajar! Ketika seseorang mendapatkan suatu kebahagiaan, selain rasa syukur karena mendapatkan kenikmatan dari Allah. Senang tak lain merupakan ekspresi dari keraguan yang beberapa waktu lalu menghinggapi, “Iso tha aku iki lulus lan di wisuda, koq sawangane iwune ngerjakno skripsi iki?” (Bisakah saya nanti lulus dan diwisuda, koq kelihatannya beragam kesulitan ketika mengerjakan skripsi—terj).

Skripsi seolah menjadi momok. Padahal tidak ada kendala dalam hal penulisan. Namun, lagi-lagi manajemen waktu yang kurang profesional, sehingga beberapa hal yang prioritas seolah terabaikan. Akhir 2013 sampai 2014 menjadi catatan sejarah perjuangan anak pelosok kampung yang tak pernah bermimpi mengenakan toga itu dalam meraih cita-cita.

Pada fase akhir 2013 usai menunaikan amanah tugas PPL di SMK Ketintang Surabaya. Benar memang sebuah pitutur, betapa berharganya kehati-hatian. Ya, saat itu selepas melaksanakan salat Jamaah di masjid, tas beserta isinya (laptop) hilang tak berbekas. Harusnya, kebiasaan meletakkan tas dan tetek-bengeknya di depan shaft selayaknya menjadi habit, namun lagi-lagi mentalitas meremehkan sesuatu menjadi biang keladinya. Sehingga, ketika PKL pun, agak tersendat-sendat dalam mengerjakan laporan, menggarap skripsi-pun menjadi nomor kesekian. Ibaratnya, saat kawan-kawan lain sudah memanggul senjata, kita masih tidur nyenyak di barak -_-

Alhamdulillahnya, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang berhati mulia. Dimulai dari kawan Pemuda Muhammadiyah di kampung halaman yang menaruh kepercayaan yang luar biasa besar pada saya, seorang yang kadang keistiqomahannya naik-turun, memberikan amanah untuk membeli ganti laptop saya yang hilang. Kedua, Allah mempertemukan saya dengan para dosen pembimbing, baik de jure maupun de facto yang sungguh sangat membantu.

Bu Sasminta misalnya. Meskipun beliau secara de jure bukan dosen pembimbing skripsi saya. Namun, peranannya dalam menumbuhkan ghirrah untuk bersegera menuntaskan janji mahasiswa—kalo boleh saya mengatakannya—luar biasa besar. Dari beliaulah awalnya benih semangat itu berkobar. Bu Sas—panggilan akrab beliau—mengirimi pesan via inbox fesbuk.  Bayangkan saja—saya saja tak pernah membayangkan—dosen sekaliber Bu Sas, yang menurut pengakuan kawan-kawan seangkatan terkenal dengan integritas dan kapabilitasnya yang tinggi, menanyakan kesungguhan saya dalam mengerjakan skripsi. Saat itulah kemudian—dengan persetujuan beliau sebelumnya—saya mengajukan beliau untuk menjadi dosen pembimbing. Namun sayang Kalab (Kepala Laboratorium) Jurusan saat itu tidak mengijinkannya dengan argumen kuota mahasiswa bimbingan Bu Sas sudah overload.  Apa daya, saya kemudian diberi opsi untuk memilih dosen pembimbing yang sesuai dengan judul TOR Proposal Skripsi yang diajukan. Dengan basmalah akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada dosen Psikologi Olahraga, Bapak Anung Priambodo. Dari Pak Anung—biasa warga FIK memanggilnya—saya mengenal arti perjuangan dalam menelorkan sebuah karya yang bernama skripsi.

Pak Anung merupakan dosen kami yang ranah keilmuannya dalam bidang psikologi. Maka tak heran, ketika pada semester dua lalu saya mengalami “misteri kuliah” dalam matakuliah Psikologi Olahraga dan kemudian mengulangnya pada semester genap berikutnya, saya dipertemukan dengan beliau dan alhamdulillah berhasil ‘merebut’ kembali nilai sebelumnya yang tak bertuan itu, hehe..

Pada saat menjadi mahasiswa bimbingannya, beliau—Pak Anung—sedang menjalani ‘pendakian’ untuk mendapatkan gelar doktoralnya di Universitas Negeri Malang (UM). Memang, selayaknya saya banyak berterimakasih pada beliau karena seringnya menghambat (hingga skripsi saya sudah sah, disertasi beliau ternyata masih berjalan). Berburu “coretan” dari kampus Lidah hingga Ketintang menjadi kenangan tersendiri. Bahkan pada akhir-akhir revisi, seringkali saya diminta beliau datang ke rumahnya yang berada di Driyorejo. Tak jarang pula, saking padatnya jadwal beliau, saya pernah diminta beliau membawa draft revisi skripsi ke Gereja (Pak Anung penganut Nasrani) di kawasan Lidah Kulon, saat itu beliau bilang posisinya berada di tempat tersebut karena sedang ada kegiatan. Untungnya saat itu saya sudah balik ke kampung halaman.  

Kawan-kawan kuliah ketika melihat judul skripsi saya mayoritas mengernyitkan dahinya. Bagi mereka, judul skripsi “Perbandingan Sportivitas antara Atlet Religius dan Non-Religius merupakan sesuatu yang baru, tidak mainstream, kata anak sekarang. Beberapa analisis mereka menyebutkan, perbandingan sportivitas selama ini lebih banyak antara siswa putra dengan siswa putri dalam pembelajaran A. Atau juga yang mainstream, antara atlet voli dengan sepak bola, ataupun antara siswa negeri dengan swasta. Apalagi bila agak radikal, religius seperti apa yang dimaksud? JIka dalam konteks agama Islam, kok dosen saya penganut Nasrani. Atau harus universal, menganggap semua rata pemahaman semua agama? Ah, rasanya saya kurang nyaman dengan istilah pluralisme. Untungnya tempat pengambilan sampel penelitian saya yang di Smanor yang rerata beragama Islam. Jadi insya Allah, istilah pluralisme dalam skripsi saya hanya akan ditemukan pada pendahuluan di Bab I (itupun atas saran dari dosen penguji).

(bersambung..)
 #dalam balutan barakah malam Jumat 090415






25 March 2015

Mengikat Ilmu

 “Ilmu adalah hewan buruan, dan menulis itu adalah ikatannya. Ikatlah buruan kamu -yakni ilmu – dengan tali yang kuat – yakni menuliskannya.”-Imam Syafi’i-

Saya jadi flashback pada medio tahun 2009. Saat masih berkutat di Gedung Graha Pena. Ketika itu di lantai satu ada toko buku yang bernama JP Bookstore. Ya, toko buku tersebut memang milik Jawa Pos Grup. Tapi kali ini saya bukan bermaksud menuliskan “rona-rona” yang ada di dalamnya (ehm..), tapi dari toko buku tersebut saya mengenal seorang penulis blog yang juga sekaligus technopreneur.

Nama panggilannya Mas Romi, alias Romi Satria Wahono. Dari blog yang dia tulis menghasilkan buku kecil yang inspiratif berjudul: “Dapat Apa Sih dari Universitas!” Dari buku tersebut saya banyak termotivasi. Dari sekedar menuliskan pengalaman di blog, lalu berkeinginan untuk merasakan atmosfer bangku kampus, hingga kemudian “berhijrah” dari Umsida ke Unesa. Dari banyaknya hikmah yang ada dalam buku itu, saya masih mengingat pesan kuat yang ada di dalamnya: “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya.” Saking begitu kuatnya pesan tersebut, sampai-sampai tagline blog pertama yang saya buat mencomot kata-kata yang asal muasalnya ternyata dari seorang ulama madzhab besar: Imam As-Syafi’i.

Ahad (15/2), bertempat di Rumah Penulis Bina Qolam Surabaya, saya bersama kawan seperguruan dan seprofesi, Muhammad Zulkhifly, berkesempatan menimba ilmu. Motivasi awal keikutsertaan saya karena narasumber yang hadir adalah seorang da’i yang tak hanya menyampaikan dakwahnya lewat bil-lisan, namun juga bil-qolam. Beliau adalah Ustadz Dr. Adhian Husaini. Menyebut nama besarnya, sangat sayang untuk melewatkan kesempatan yang langka itu. 

UNDANGAN: Hanya Tersebar Lewat Jejaring Sosial dan WA, namun Melimpah Peserta 


Sementara Pak Kifly, panggilan kawan saya tersebut, motivasinya murni karena keinginannya menguatkan tekad untuk merajut mimpi-mimpi besarnya: Islamisasi Ilmu. Tugas berat tersebut diemban Pak Kifly karena tugasnya mengajar IPS, mata pelajaran yang katanya banyak sekali pemutar balikan fakta sejarah.

Kami berangkat dari Masjid An-Nur, Sidoarjo. Yang memang kebetulan, tiap Ahad ketiga ada pengajian umum yang wajib dihadiri (ketentuan tidak tertulis warga Musasi). Nah, karena kami meninggalkan pengajian tidak tepat pada waktunya (jadi tak hanya datang yang harus tepat waktu), maka kami berpamitan pada Kepala Sekolah yang kebetulan ada tak jauh dari tampat kami duduk, sekaligus menyampaikan acara yang akan kami ikuti di Surabaya nanti. 

“Koq sepi, Pak?” tanya Pak Kifly pada saya ketika kami baru sampai dan mengambil tempat duduk di barisan ketiga sebelum acara dimulai.

“Belum datang semua, Pak, tenang, sebentar juga pasti ramai,” jawab saya padanya.

Dan, ternyata memang, ketika kajian belum dimulai, saat Ketua Yayasan Bina Qolam, Mas Oki Aryono, menyampaikan sejarah didirikannya Yayasan yang berada di Jalan Bengawan itu, para peserta mulai banyak berdatangan dan memenuhi ruangan. Sampai-sampai, pada sesi kajian, ketika Ustadz Adhian belum rampung bertausyiyah, para peserta diminta untuk menggeser tempat duduknya maju kedepan.
ANTUSIAS: Para Peserta Kajian Intensif Islam Penulis (KIIP) yang Diselenggarakan Bina Qolam Surabaya

Antusiasme para peserta barangkali selain karena narasumber yang memang berkompeten dalam bidang penulisan (terutama kajian Islam), yang tak kalah menarik adalah tema kajian yang diusung saat itu: “Mujahid Penulis Saatnya Bangkit!”

Dalam tausyiyahnya, Ustadz Adhian membuka mata dan hati para audiens dengan kalimat pentingnya jihad. Beliau menyebut dalam Quran Surat As-Shaf, ketika Allah mengajak hambanya untuk (berniaga) berdagang dengan-Nya. Salah satu bentuk berdagang dengan Allah adalah berjihad dengan harta dan jiwa. “Jika kita tidak berjihad, kita tidak akan masuk surga,”tambah penulis 30 buku tersebut.

Nah, ditengah tausyiyahnya beliau menyelipkan kata-kata Imam Syafi’I tentang seorang yang menuntut ilmu sama dengan orang yang sedang berburu. Dimana ketika berburu dan mendapatkan buruan, jangan lupa ikatlah dengan kuat. “Jadi yang disebut orang yang bodoh itu mengaji tapi ga mau nulis,” tukas ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu.

Betapa dulu, di saat menulis harus menggunakan tinta, peradaban Islam yang gilang-gemilang banyak melahirkan generasi penulis yang handal. Sebut saja nama Al-Biruni, Syekh As-Sulami, hingga Imam Al-Ghazali. Di Indonesia, nama-nama seperti Prof. Dr. HAMKA hingga M. Natsir menjadikan harum nama bangsa berkat karya-karya monumentalnya.

Dan kini, ketika fasilitas begitu mudah didapat, harusnya kita tak boleh kalah bersemangat dalam berjihad. Dengan tulisan yang di dalamnya ada ruhul jihad, maka kita termasuk barisan-barisan yang memuliakan agama Allah dengan kalam. Kemudian beliau berucap:

“Hina dan Mulianya Agama Allah Bergantung pada Jihad”

Hmm..ketika menuntut ilmu pahalanya sama dengan berjihad. Dan di era yang modern ini, jihad tak lagi terbatas pada tataran fisik, namun juga dalam bentuk intelektualitas berupa dakwah bil-qolam. Nah, agar kita bukan termasuk golongan para pemburu yang kehilangan buruannya, mari kita ikat ilmu itu dengan menuliskannya, mau..?

"Jihad Tak Harus dengan Kekerasan, Amarah, dan Perang. Dengan Pena-pun Bisa Merubah Dunia."

-99 Cahaya di Langit Eropa-

Porong, 25 Maret 2015
Ghirah itu  Masih Menyala..

*foto-foto: file facebook

23 March 2015

Alumni Graha Pena

Sabtu lalu (21/3) ada acara bedah buku. Informasi awal yang sehari sebelumnya di fesbuk, kemudian tersebar di grup-grup WA dan beberapa kontak yang ada. Ada salah satu teman yang bertanya: “Pematerinya TOP ga?” tanyanya. “TOP, wartawan JP!” jawabku.

Eko Prasetyo, ‘eks’ kuli tinta surat kabar nomor wahid di ujung timur pulau Jawa itu memang sudah hadir. Ya, ketika perjalanan puluhan kilo dari Porong hingga Taman Bungkul, saat kaki sudah melangkah masuk ke TKP, menjadi semacam reuni yang tak disengaja.

Saya agak menjaga perasaan, agar ga sok kenal, ataupun sok dekat (meskipun faktanya, saya dan mas Eko dulu sama-sama sering ketemu, namun belum saling kenal). Maklum, ketika masih di Graha Pena, saya dan beberapa kawan se-profesi dituntut untuk tetap menjaga ‘marwah’ korps, agar tetap disegani dan dihormati (waduh kaya apa aja, hehe..). Yang jelas, ketika dulu masih sama-sama ‘mencangkul dollar’ di gedung dua puluh satu lantai itu, kami sering bersua, entah itu di musala lantai dua, pujasera, atau di kantor awak redaksi yang bercokol di lantai empat.

Dari beberapa media cetak, saya menjadi lebih penasaran dengan sosoknya. Di majalah Unesa, tulisannya yang menyoal istilah olahraga kerap nongol. Di kolom citizen reporter surat kabar ‘seribuan’ , tulisannya bejibun serta melimpah ruah. Rasa penasaran saya kemudian bermuara pada blognya. Dari sana, sedikit banyak saya mulai mengenal alumnus FBS IKIP Surabaya itu (sekarang Unesa-red).  

Karena tempat acaranya di Bina Qolam, yang notabene merupakan ‘sarang’ penulis-penulis yang dekat dengan nama ISID Gontor, MIUMI, INSIST, Hidayatulloh. Saya kemudian bertanya-tanya, apa korelasinya dengan narasumber yang  jelas-jelas merupakan wartawan surat kabar yang bisa dikatakan ‘sekuler’ itu?

Pertanyaan dan rasa penasaran saya kemudian sedikit demi sedikit terjawab, ketika sang narasumber menghampiri saya dan bertanya.

 “Mas..sebentar mas, saya koq pernah melihat sampeyan. Koq ga asing wajahnya?”

Saya yang cengar-cengir kemudian mengangguk,
“Iya mas, saya dulu di Graha Pena..”

“Lho..ya ga salah kan. Makanya saya tadi koq mikir terus. Koq kayanya pernah lihat ya. Sekarang dimana? Tanya beliau.

“Di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, mas..”

Dari percakapan awal tersebut, tabir yang sebelumnya melingkupi saya sedikit demi sedikit akhirnya terbuka.

 “Iya mas, alhamdulillah, saya sudah resign dari JP. Saya diingatkan Allah, jika fitrah tubuh manusia itu tidak didesain untuk beraktivitas malam. Kerja liver itu bagus-bagusnya pukul 2-3 dini hari. Nah, bayangkan pada waktu-waktu itu saya masih berkutat di kantor, sering malahan masih dikejar deadline.


Ah, mas Eko, mendengar ceritanya saya jadi berpikir, sebegitu kerasnya kerja seorang editor yang merangkap sebagai jurnalis. Saya yang dulu sering ketemu, lebih banyak berprasangka “betapa mudah kerja mereka”. Astaghfirullah.

Oia, acara bedah buku karangannya yang berjudul: “Jangan Cuma Pintar Menulis! Cara Dahsyat Menjadi Penulis Kreatif dan Produktif” banyak berkisah tentang proses kreatif dalam pembuatan buku tersebut.

Mas Eko menjelaskan, dalam membuat buku ada proses kreatif. Dimana ada tahapan-tahapannya. Seperti yang dicontohkannya. Di saat dulu masih menjadi mahasiswa Unesa, dia ditantang oleh salah seorang dosennya yang berkata lantang pada para mahasiswa:“Siapa yang tulisannya bisa tembus koran, tidak usah ikut ujian, langsung dapat nilai A!”

Maka, banyak usaha yang dilakukannya. Mulai mengirim surat pembaca, puisi, cerpen, hingga sampai pada tahap menyusun sebuah buku. “Yang pasti, jangan menulis sesuatu yang tidak kita kuasai” ujar beliau mewanti-wanti.

Menurutnya konsep yang dibutuhkan penulis itu ada empat. “Yang pertama adalah kemampuan bertanya secara kritis. Kemudian konsep dan pengetahuan. Ketiga adalah kemampuan menganalisis, dan yang terakhir mampu mengorganisasi pemikiran,”jelasnya.

Pada akhir sesi acara, ketika saya memberitahu pada mas Pras (panggilan Eko Prasetyo-red), amanah kepala Perpustakaan SMP Musasi, agar dalam setiap beli buku ada tanda tangan penulisnya, mas Eko tersenyum dan segera menandatangani buku karyanya tersebut. Sembari menandatangani buku, saya kemudian berbisik,

“Mas Eko, nanti kapan-kapan saya mau bertanya banyak tentang dunia literasi pada sampeyan, mas.”

“Ok, siap mas. Sebagai sesama alumni Graha Pena, saya siap kapanpun.”jawab beliau sambil mengacungkan jari jempol.

Saya pun bersegera mengambil Samsung dari saku celana, menyentuh layar, kemudian mengulang beberapa angka-angka yang disebutkannya. *

Porong, 23 Maret 2015
Saat Ghirah Menulis Memyskat


18 January 2015

Batu dan Air

Saya teringat dengan Bu Eri Hidayati, Guru Pendidikan Agama Islam ketika masih berseragam putih biru. Bu Eri, begitu panggilan anak-anak pada beliau, dalam menyampaikan materi tentang agama Islam selalu diselingi dengan nasehat bijak. Ketika beranjak dewasa, saya baru menyadari betapa beruntungnya saya mendengar tutur kata penuh hikmah dari Guru kami yang asli Sumatera itu.

Salah satu pesan dari beliau yang hingga kini masih terngiang adalah batu dan air. Dua perbandingan yang sering  diberikan pada kami, anak-anak SMP dengan segala keunikannya.

“Belajar di masa muda, bagai menulis diatas batu. Belajar di masa tua, bagai melukis diatas air.”

4 November 2014

Namanya Mas Gong

Bila kemudian Allah mentakdirkan kita bertemu dengan salah seorang penulis hebat, yang kita lebih banyak membaca karya-karyanya daripada melihat rupa dan penampilannya. Maka, ketika bertemu mereka, membeli karya mereka, dan mendapatkan limpahan ilmu dan pengalaman yang tak ternilai harganya, sebutlah segala sesuatu itu dengan anugerah :)

Gempa, satu kata yang membuat siapa pun akan membayangkan imajinasi atau gambaran tentang getaran yang luar biasa. Guncangannya terkadang membuat apapun berhamburan keluar dan lari tunggang-langgang mencari keselamatan. Namun, sore itu sebuah "gempa" yang melanda rumah di jalan Bengawan nomor 2A malah membuat orang-orang yang berada di dalamnya merasa semangatnya menyala-nyala. Lho koq?

Ya, dialah Gerakan Gempa Literasi. Kegiatan yang dibarengi Tur Anyer-Panarukan untuk menggaungkan dan menggetarkan semangat gerakan membaca dan menulis itu sampai juga di Surabaya. Adalah Gol A Gong, penulis novel fenomenal Balada Si Roy tersebut berbagi inspirasi dan pengalamannya. Traveler yang sekaligus penggagas Rumah Dunia itu juga sharing beragam catatan-catatan yang berkaitan dengan dunia literasi (baca-tulis). 

Tak kurang puluhan peserta hadir dalam kegiatan yang digagas Forum Aktif Menulis (FAM) dan Bina Qolam Indonesia (BQI) itu. Mereka yang datang pun tak hanya dari kalangan pegiat literasi, namun banyak juga para siswa, mahasiswa, guru, serta para wartawan majalah yang tak menyia-nyiakan kesempatan langka berjumpa penulis dengan karya 90 buku tersebut. 

Dalam even yang bertajuk "90 Menit Bersama Gol A Gong", para peserta disuguhi beberapa trik agar dapat menjadi penulis hebat. Salah satu tips yang diberikan Mas Gong, sapaan akrabnya, yaitu jangan pernah malas membaca. Mengapa? Pertama, sebagai umat muslim seharusnya kita menjadi umat pertama yang tidak pernah lepas dari membaca. Sebab, ayat Al Quran yang pertama kali turun adalah "IQRA'!", bacalah! Maka sungguh naif, bila negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini peringkatnya terperosok jauh kedasar, kalah dengan negara-negara yang mayoritas berpenduduk non-muslim. 

Selain itu, menurut Mas Gong, dengan membaca maka kita akan menyediakan nutrisi bagi otak. Karena sehari-harinya, kita kebanyakan hanya menyediakan konsumsi untuk bagian tubuh bagian bawah mulai dari leher sampai perut.Melupakan leher ke atas (otak-pen). "Karena sesungguhnya aktivitas menulis tak lain merupakan kegiatan membaca dua kali", tambahnya. 

Selain banyak membaca, mantan juara bulutangkis khusus difabel se-Asia Pasifik tersebut juga menambahkan dua kiat lain; membeli buku dari penulisnya sebagai bentuk menghargai karya penulis; serta berinteraksi dan bertatap muka, mulai dari meminta nasehat hingga berfoto bersama. 

Sebagai penulis yang telah banyak menelurkan karya (60 karyanya berupa novel), Mas Gong terlihat begitu bersahaja. Datang dengan memakai alas kaki berupa sandal jepit dan ketika bercerita lebih memilih untuk berdiri (karena sudah lebih dari 28 jam duduk di kursi mobil katanya, hehe..). Serta menihilkan pengeras suara (konon bersebab ingin memaksimalkan panca indera), berbanding terbalik dengan aktivitasnya yang sungguh luar biasa. 

Saat berbagi inspirasi, suami Tias Tatanka tersebut memperlihatkan ragam kegiatan yang dilakukan sebelum sampai ke Bina Qolam hingga seabrek kesibukannya di Rrumah Dunia. Salah satu yang menginspirasi adalah proses mengawali masyarakat Banten untuk diajak datang ke Rumah Dunia. Meskipun sudah diberi label gratis dan bahkan ada embel-embel uang saku-pun tak mempan. Sampai akhirnya dapat mengajak para penjual gorengan, abang tukang becak, hingga penjual bakso untuk menciptakan puisi. Tentu puisi yang dibuat juga berkaitan dengan profesi yang mereka jalani. 

Well, hadir dalam forum tersebut seolah membuka cakrawala pemikiran serta memberikan cahaya pencerahan baru bagi saya. Alhamdulillah..

(bersambung edisi selanjutnya ya.^^,)

23 June 2014

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Jalan Bengawan

Pukul 13.30 dari rumah singgah (kos) Abah Kajat Lidah Wetan, motor keluaran tahun 2001 pabrikan negeri sakura ku keluarkan, nyetater dan berangkat dengan iringan bacaan basmalah.

Diniati dalam hati untuk ber-thalibul ilmi alias menunut ilmu, berangkatlah aku bersama misi dan visi yang menjulang tinggi.

Jalan Bengawan tujuanku, dekat Darmokali dari Joyoboyo lurus ke utara hingga ke Jalan Darmo, putar balik di Taman Bungkul kemudian lurus ke timur dan belok kiri sedikit, disitulah Jalan Bengawan, markas Bina Qolam, tempat dimana pelatihan yang berbingkai Madrasah Kreativitas Muslim diselenggarakan.

Sampailah jua akhirnya, meski sebelumnya sempet muter-muter bukan karena kesasar, tapi karena mencari tempat pengisian logistik yang ‘aman’, hehe..

Pukul tiga kurang seperempat tepat, roda duaku akhirnya masuk ke ke pelataran rumah no. 2A tempat dimana acara dihelat. Nampaknya masih sangat sepi dan belum banyak peserta yang datang. Dan ternyata benar, hanya aku seorang yang datang lebih awal, di dalam hanya ada tiga panitia acara dan dua orang pengurus yayasan penyelenggara acara.

Selanjutnya menuju musala agar salat Asar-nya tak ketinggalan dan tak menjadi tanggungan. Dan ketika melihat tempat wudlu yang baru dipermak dan musala-nya yang menempati sebuah ruangan, dapat disimpulkan rumah tersebut baru dibeli dan direnovasi.

Hampir pukul setengah empat ketika acara akan segera dibuka, mulailah satu persatu peserta berdatangan. Cholis Akbar sebagai pemateri dalam acara yang bertajuk Pengenalan Dasar-dasar Jurnalistik itu.
Redaktur majalah Hidayatullah yang sekaligus menjadi pengelola web Hidayatullah.com itu menyampaikan materi slide demi slide via powerpoint.

Dalam slide pembukanya, beliau memperlihatkan peta kepemilikan media di Indonesia yang 90 persen dimiliki oleh media non-Islam. Sisanya yang hanya kurang dari 10% dimiliki umat Islam, itupun tidak begitu laku di masyarakat. Selain memperlihatkan fakta-fakta tentang perkembangan media, mulai dari kepentingan, tujuan dan kekuatan dari media itu sendiri, yang sedikit banyak diantaranya adalah untuk menciptakan opini publik (public opinion), melahirkan efek dramatis, efek kognitif (tahu), afektif (sadar), dan konatif (berbuat). Pria yang sudah 15 tahun bergelut menjadi wartawan itu juga menyampaikan kekuatan dari media yang lainnya berupa melahirkan ideologi dan nilai, politik imagery dan framing (pembingkaian), serta melahirkan yang namanya worldview dan agama baru.

Selain menyampaikan beragam materi tentang media, beliau juga banyak menceritakan asam garam dalam penulisan berita. Haru birunya terhadap pemberitaan tentang Islam dan juga bermacam pengalaman saat liputan.


Kaya materi namun belum sampai pada tahap pemecahan masalah, kesimpulan yang didapat dalam pelatihan hari pertama kali ini. Dan memang, masih ada episode kedua dalam pengenalan dasar Jurnalistik yang akan berlangsung lusa. 

Esok, akan ada materi menggali inspirasi dari kehidupan sehari-hari yang akan disampaikan penulis yang juga menjadi dosen di STIKOSA AWS Zainal Arifin Emka. 

“Sok ketemu maneh,” jare wong Lamongan..

28 December 2013

Menulis itu..

"Menulis itu ibarat menyanyi,"kata Asma Nadia dalam laman fanpage KBM-nya. Saya setuju sekali bila aktivitas menulis diibaratkan layaknya menyanyi. Kita tak pernah peduli, biar orang lain berkomentar apa tentang lagu yang kita nyanyikan. Biarlah mereka mengatakan suara kita fals, serak, atau mendayu-dayu, tapi kita tetap senang menyanyi. Karena itu tadi; senang. Dan aktivitas yang dilakukan dengan kesenangan bisa disebut dengan hobi. Walhasil, jika kita melakukan aktivitas berdasar hobi, selayaknya kita sedang bermain, bersenang-senang, tanpa terbebani oleh apapun.

Awal-awal dulu ketika masih bergiat menulis di warnet, saya menulis hanya beberapa kali dalam sepekan. Dan itu pun kadang tak rutin, kadang sepekan sekali, dua kali, tiga kali, atau saat dulu masih booming facebook,bisa sampai lima sampai tujuh kali mengunjungi warnet.Dan menulisnya pun dengan bebas tanpa beban. Tanpa harus memikirkan tulisan ini bakal enak dibaca atau tidak. Dan, setelah saya baca dan amati, tulisan-tulisan saya yang saya buat dulu sungguh natural. Ibarat sebuah puisi, munculnya itu dari lubuk hati yang paling dalam (he..mungkin karena saking ngempetnya mau nulis tu ya..)

Sampai kemudian saya masuk kuliah di Unesa dan berkeinginan punya amunisi sendiri, yakni laptop. Dan melengkapinya dengan modem yang tersambung dalam dunia mayantara. Awalnya, sangat giat dan semangat dalam menorehkan goresan keyboard. Baik itu di FB, blog, maupun dalam catatan di Word. Tapi, itu tak berlangsung lama. Karena ada daya tarik lain yang disajikan dunia maya. Apalagi ketika sudah mengenal Youtube, aplikasi desain seperti Coreldraw dan Photoshop, praktis saya sendiri yang awam dalam hal desain-mendesain harus mengerahkan daya dan upaya untuk bisa mencobanya dan memahami kinerja aplikasi tadi.

Dan bisa ditebak. Kuantitas dan kualitas tulisan semakin menurun. Resolusi tahun ini juga nampaknya agak sedikit ada evaluasi. Menerbitkan buku kelihatannya masih harus diusahakan dan menunggu tahun depan. Menulis harus saya kembalikan ke khittah semula, yaitu untuk kesenangan dan kepuasan batin, Menulis pun harus saya lakukan tanpa beban, ibarat hobi atau kesenangan, yang semakin dilakukan, semakin menyenangkan.

Dua ribu empat belas tinggal menunggu hari. Resolusi tahun ini sedikit demi sedikit saya evaluasi dan susun kembali. "Harus detail, dan memberikan energi,"kata Jamil Azzaini dalam tweet-nya. Semoga, saya menulis tanpa terpengaruh mood.

Membaca bacaan-bacaan bagus juga harus menjadi kebutuhan. Karena membaca adalah pabrik dari aktivitas produksi menulis. Entah itu dalam suasana baru gajian, banyak utangan, jatuh cinta, patah hati, dapat rezeki, kehilangan laptop, atau apalah itu yang menimpa dan memberi warna kehidupan, semoga tetap ISTIQAMAH menulis dan menyebar salam, menyebar kebenaran dan kemaslahatan.
Amiin..

*Porong 281213
Dalam suasana ruang tamu yang bertaburan sinar wifi