Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

14 June 2015

Bertekuk Lutut di Kaki Tata Bahasa

Banyak murid memiliki potensi menulis, tapi masih belum diberdayakan. Guna menghidupkan semangat menulis, yang pertama dan utama harus diajarkan tak lain pengalaman dan praktik menulis. Bukan menjejalkan teori menulis. Pembelajaran menulis merupakan penghargaan terhadap pikiran bebas. Bahasa dimanfaatkan buat mengungkapkan pikiran bebas itu. Guru berperan sebagai fasilitator atau pelatih, bukan wasit otoriter.

Supaya bisa menulis, gagasan harus dicari dan digali. Ide inilah yang mesti dituangkan dalam bentuk tulisan. Misalnya, ide perihal booming batu akik di seluruh penjuru negeri. Setelah ide ditemukan, tahap berikutnya menentukan “angle” atau sudut pandang yang akan digunakan sebagai panduan menulis. Angle merupakan sisi tulisan yang hendak dipilih.

Angle dipilih yang paling menarik, penting dan relevan. Agar tajam, angle dirumuskan dalam kalimat tanya. Misalnya: mengapa tiba-tiba masyarakat gandrung batu mulia? Angle bisa digali dengan 5W+1H: what, who, when, where, why, dan how.

Variasi angle bergantung rasa ingin tahu kreativitas penulis. Setelah angle ditetapkan, giliran mencari bahan tulisan. Caranya: riset pustaka, wawancara sumber, dan reportase suasana. Tulisan yang bagus berangkat dari penggalian bahan yang bagus. Good input, good output.

Sesudah bahan tersedia, outline atau kerangka tulisan bisa mulai digarap. Rencanakan alinea demi alinea yang akan ditulis. Satu alinea satu pokok pikiran. Jangan berjejalan banyak pokok pikiran dalam satu alinea. Setiap alinea terdiri atas satu kalimat utama (main sentence) yang diikuti dengan beberapa kalimat pendukung (support sentence).

Outline tulisan terdiri atas lead, bridging, badan tulisan, dan penutup. Lead itu pembuka tulisan yang menarik, simple, tidak direcoki data, dan angka. Lead bertugas memikat pembaca.

Bridging itu jembatan menuju badan tulisan. Biasanya berisi penjabaran lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dalam lead. Bridging juga  memasukkan konteks persoalan, yakni penjelasan kenapa topik tulisan yang diangkat penting untuk dibaca.

Badan tulisan adalah tempat penulis menjabarkan argumen, data, hasil, riset, dan observasi yang telah dikumpulkan. Penutup bisa berupa kesimpulan, renungan, saran, solusi, gugatan, atau sekadar pertanyaan yang menggantung.

Sikap dan pendapat subjektif penulis harus muncul bila tulisan berbentuk esai. Bukan sekadar rangkaian kutipan teori dan pendapat ahli. Ramuan esai: observasi yang jeli dibingkai pemahaman teori yang memadai.

Guru tidak akan bisa membuat muridnya gemar menulis bila dia tidak menghidupi semangat menulis.
 

Disadur dari J. Sumardianta, Jawa Pos (Ahad, 7 Juni 2015) 

2 June 2015

Surga Neraka ada di Fesbuk

Suatu hari seorang murid kelas 8 bertanya: “Pak, kenapa postingan fesbuk Bapak isinya koq selalu tentang agama?” Dia kemudian melanjutkan dengan memberikan perbandingan jika postingan salah satu guru lain lebih banyak bercerita tentang asmara dan cinta. Awalnya saya kaget mendengar pertanyaan dari murid yang memang keingintahuannya cukup tinggi itu. “Nanti setelah jam istirahat kedua (ba’da salat dhuhur), insya Allah saya jawab ya..”pesan saya padanya.

Pertanyaan yang singkat namun membuat saya kaget dan heran. Kaget karena saya tidak menyangka jika akan ditanya pertanyaan seperti itu. Heran. Emang ada yang salah dengan potongan rambut saya? Apa karena pendidikan jasmani sehingga postingannya hanya berkisar dunia jasmani, sehingga tidak boleh membahas agama? Wah, jangan-jangan ini karena Mustafa Kemal Attaturk yang memisahkan ilmu dunia dan ruhiyah? Pembahasannya bisa berjilid-jilid ini nanti.

Yang jelas, ada prinsip dasar yang saya pegang. Dimanapun kita berpijak, sebarkan kebaikan. Karena suatu kebaikan yang disebarkan, dan orang lain terinspirasi sehingga mengerjakan kebaikan itu, maka disanalah ladang pahala bagi kita. Begitupun sebaliknya.

Jadi, simple saja. Ketika kita bergelut dalam bidang apapun dalam ranah apapun. Kebaikan itu bisa ditularkan. Saya mengenal Mas Yanuardi Syukur, dan saya beruntung dapat membaca cerita inspirasinya dalam bukunya “Facebook Sebelah Surga Sebelah Neraka (FS3N)”. Dari buku yang saya baca pada saat awal fesbuk booming pada tahun 2009, menjadikan saya punya pijakan: fesbuk adalah ladang amal.

Sehingga mulai dari tahun 2009 hingga kini, postingan alhamdulillah ada nafas dakwah. Meskipun diri ini tidak mengikrarkan sebagai pendakwah. Hal itu seolah menjadikan pegangan, jika ada pesan dari nabi kita tercinta “Sampaikanah Walau Hanya Satu Ayat”.

Perjalanan panjang dari sebagai karyawan, mahasiswa, dan kini pengajar memberi banyak warna pengalaman dalam rangkaian perjuangan. Buku FS3N, yang kebetulan (sebenarnya telah Allah gariskan) dibeli misanan dari obralan buku di Ramayana rupanya meneguhkan sikap hidup agar terus beramal dalam kebaikan. Berlomba-lomba dalam Kebaikan, Fastabiqul Khairat!

Peristiwa beberapa hari lalu membuat saya merenung. Ternyata apa yang kita tulis akan dibaca oleh banyak orang, termasuk murid kita. Jadi sungguh berbahaya ketika sebuah tulisan, lebih-lebih yang ditulis pendidik, tidak memberikan ruh kebaikan dan menggerakkan, namun hanya tempelan hiasan. Masihkah ada waktu bagi kita mengisi hati mereka dengan nafas agama?

INSIPIRASI: Karya Yanuardi Syukur

Resensi bukunya ditunggu ya..^^
























sumber: http://4.bp.blogspot.com/

29 May 2015

Kisi-kisi UKK Penjasorkes Kelas 8 SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo

Tanpa terasa hari ini tatap muka terakhir pembelajaran Penjas kelas 8. Rabu lusa (3/6) sudah dimulai UKK. Bagi yang belum dapat kisi-kisi UKK Penjasorkes kelas 8 Semester II 2014-2015 bisa mengunduhnya disini.

Salam jumpa generasi emas Musasi. Tahun ajaran baru sudah menantimu. Tetap semangat menggapai cita-citamu, tetaplah ikhlas hanya berharap pada Rabbmu. Aamiin :)







*gambar: @roelsebloe

26 May 2015

Malu dan Mentalitas Bangsa Kulit Gosong


Ahad pagi saya mengantar adik kembali ke kampus. Berangkat dari Porong dengan motor merah perjuangan. Seperti biasa, raya Porong jadi langganan motor kami. Jalan yang di sebelah timurnya membentang tanggul lumpur itu berbeda kontras dengan pemandangan di sisi baratnya. Hamparan bangunan yang rata dibongkar lebih banyak mendominasi. Selebihnya hanya alang-alang dan tumbuhan liar yang merajai.

Pemandangan saya tertimpuk pada motor yang diparkir di tepi jalan. Tak jauh dari motor tersebut seorang laki-laki berdiri. Membelakangi jalan raya, tanpa malu-malu kemudian menuntaskan hajatnya. Ya, pengendara motor tersebut dengan rasa percaya dirinya (maaf) kencing di tepi jalan. Jika itu dilakukan saat malam, saya menjadi lumrah, tapi ini dilakukan pagi hari, saat matahari sudah bersinarl terang, dan pemandangan menjadi gamblang. Astaghfirulah, saya berdoa, semoga adik perempuan saya tidak melihat pemandangan yang di banyak negara masuk daftar pelanggaran berat.  

Saya tidak bisa membayangkan mengapa dengan populasi yang mayoritas muslim, negara kita ini menanggalkan rasa malunya. Mereka salat dan menjalankan puasa, tapi kemudian buang apa-apa sembarang saja. Jika untuk membuang barang najis saja seperti air seni sendiri, mereka tidak punya rasa malu. Apalagi untuk membuang sampah dan mengotori lingkungan.

Membandingkan dengan Singapura yang terkenal bersih saya jadi ngiri. Mendengar negeri singa itu menerapkan denda besar bagi mereka yang membuang sampah sembarangan, saya jadi sakit hati. Dan sakitnya itu di…(halah). “Ada yang salah dengan negeri ini?” pikir saya. Salah karena dijajah Belanda, bukan Inggris. Salah karena dijajah terlalu lama hingga 3,5 abad lamanya. Hingga mentalitas terjajahnya sampai beberapa turunan.

Guru SMA saya yang kini menjadi kepala sekolah pernah memberikan nasehat. Karena terlalu lamanya terjajah, bangsa kita terbentuk mentalitas terjajah. Bangsa terjajah yang mempunyai mentalitas terjajah, yang salah satu diantaranya adalah mentalitas anti malu. Bangsa kulit gosong—begitu beliau menyebutnya—tak lain adalah sebutan untuk bangsa dengan mentalitas inlander. Mentalitas inlander akut salah satunya adalah tak berani menegakkan kepala. Malu tidak pada tempatnya, dan merasa bisa padahal aslinya tidak bisa apa-apa.

Dua mentalitas terakhir rupanya kembali menyeruak dalam trending topic terkini. Malu dan rumangsa bisa menjadi cerminan jika bangsa kita masih belum lepas dari mental tertindas. Kisruh PSSI dan Kemenpora yang berlarut-larut seolah merupakan gambaran nyata jika bangsa yang lepas dari penjajahan berkat rahmat Allah semata ini masih berkutat dengan masalahnya sendiri. 

Kemenpora sebagai otoritas tertinggi pemegang kebijakan olahraga bertindak overprocedur. Di bawah kendali Imam Nahrawi yang tak lain merupakan politisi, Kemenpora masuk dalam lubang jarum. Alih-alih lepas dan mengurai masalah yang membelit PSSI, campur tangan pemerintah melalui Kemenpora membuat masalah semakin semrawut. Pembekuan PSSI tanpa disertai blue print kompetisi pengganti menjadikan sepak bola nasional diambang sanksi.

29 Mei 2015 adalah batas akhir yang diberikan FIFA agar pemerintah (Kemenpora) tidak memberikan intervensi dalam urusan si kulit bundar. Lepas dari batas waktu yang ditentukan, kiamat kecil bagi persepakbolaan nasional. Kabar gugatan PSSI terhadap SK Kemenpora yang dikabulkan PTUN setidaknya membawa angin segar. Sepak bola tetaplah sepak bola, biarkan bola tetap bundar dan menggelinding di lapangan. Jangan pernah membawanya keluar menuju panggung politik yang liar.

Porong, 260515

*gambar: http://www.girlslife.com/



Dilema Sepak Bola di Negara Berpenduduk 220 Juta Jiwa

Opini Jurnalistik Olahraga | 13 Desember 2012


Sabtu (1/12) seharusnya menjadi hari yang indah khususnya bagi Timnas dan seluruh rakyat Indonesia. Betapa tidak, unggul sementara di grup B dan memuncaki klasemen pada perhelatan Piala AFF 2012. Indonesia yang pada pertandingan terakhirnya hanya membutuhkan hasil seri melawan tuan rumah Malaysia, harus gigit jari dan menelan pil pahit kekalahan dua gol tanpa balas. Kekalahan Timnas Garuda atas Timnas Harimau Malaya-julukan Timnas Malaysia, seperti mengulang kembali kekalahan yang dialami pada perhelatan Piala AFF 2010 lalu. Ketika itu, Timnas Merah Putih yang masih dibesut Alfred Riedl harus bertekuk lutut saat bersua Laskar Negeri Jiran di babak final. Kalah 3-0 pada laga away di kandang Malaysia, Indonesia hanya mampu membalasnya dengan skor 2-1 di Jakarta. Indonesia pun kalah agregat 4-2 dan mengubur dalam-dalam impian menjadi juara.

Awan kelabu prestasi sepak bola Indonesia, sepertinya tak mau beranjak dan tetap menaungi dunia persepakbolaan nusantara. Karut marutnya sistem kompetisi, kurang tegasnya peran pemerintah, hingga dualisme kepemimpinan di tubuh PSSI, seolah menjadi salah satu sebab gagalnya Timnas Indonesia menggapai puncak prestasi. Jangankan berbicara di level Piala Dunia, untuk tingkat ASEAN saja, Timnas kita belum menunjukkan taringnya. Faktor terakhir, dualisme kepemimpinan seolah menjadi momok seretnya prestasi Timnas dalam dua tahun terakhir.

KPSI (Komisi Penyelamat Sepak Bola Indonesia) mendeklarasikan diri sebagai tandingan PSSI sebagai upaya perlawanan atas ketidakadilan yang dilakukan Induk Organisasi Sepak Bola Indonesia itu terhadap kubu yang sebelumnya mendukung Nurdin Halid. Djohar Arifin Hussein sebagai pemegang otoritas tertinggi Induk organisasi itu pun meradang. Dampaknya pun bisa diprediksi. PSSI tak mengakui adanya liga bentukan lain, selain IPL (Liga dalam naungan PSSI). ISL (Indonesian Super League) yang menjadi liga tandingan IPL (Indonesian Premier league) di blacklist. Ultimatum pun diberikan, yang intinya, tidak mengakui pemain, pelatih, wasit, dan perangkat pertandingan lainnya yang terlibat di liga tandingan PSSI tersebut.

Ketika Joint-Comittee (JC) yang diprakarsai FIFA ingin menyatukan dua kubu yang berseteru pun akhirnya tak mampu. Kesepakatan yang sudah diteken pun akhirnya buyar, dan kedua kubu kembali memegang teguh kemauannya.  Para pemain yang merumput bersama klub ISL, dilarang bergabung Timnas. Atas keputusan itu, tak ada lagi nama-nama layaknya Firman Utina, Ahmad Bustomi, Patrich Wanggai, atau Christian Gonzales. Yang ada malah nama-nama pemain IPL yang bisa dikatakan minim skill dan belum teruji jam terbangnya. Pemain-pemain naturalisasi, seperti Raphael Maitimo, Toni Cussel, maupun Johny van Baukering pun belum menunjukkan skill terbaiknya.

Sulitkah Mencari Sebelas Pemain?

Jumlah penduduk terbesar kelima sedunia belum menjadi jaminan bagi Indonesia untuk menunjukkan prestasi terbaiknya. Dengan melimpahnya Sumber Daya Manusia yang ada di negara kita tercinta, tak sulit sebenarnya mencari sebelas pemain hebat untuk dibentuk menjadi Timnas yang kuat. Kita mestinya malu dengan Malaysia yang tak mempunyai pemain Naturalisasi tapi mampu menunjukkan prestasi. Bahkan bisa mengalahkan Timnas kita yang diperkuat sejumlah pemain impor yang masih diragukan nasionalismenya. Dua kali kekalahan beruntun dari Tim Harimau Malaya, seharusnya menjadi cambuk dan cermin bagi pemegang tertinggi otoritas persepakbolaan nasional. Jangan sampai dualisme kepemimpinan menjadi masalah yang berlarut-larut yang tak berkesudahan, yang berpengaruh tak hanya pada terhambatnya prestasi Timnas, namun juga pada iklim persepakbolaan nasional. Kita tak ingin karut marutnya persepakbolaan nasional malah menjadikan Indonesia menuai sanksi FIFA.

Jauhkan Sepak Bola dari Kepentingan Politis!

Pertarungan dua partai politik diduga juga berpengaruh dalam karut-marutnya persepakbolaan nasional yang tak kunjung usai. Dua partai yang berlatar belakang berbeda dan mempunyai kepentingan yang tak sama, menjadi salah satu faktor mandegnya prestasi dan iklim persepakbolaan Indonesia. Kita semestinya berkaca pada Thailand yang dalam beberapa tahun yang lalu juga diwarnai kisruh politik yang sempat membuat perekonomian negeri Gajah Putih tersebut ambruk. Namun, yang  perlu digarisbawahi, meskipun perekonomian dan stabilitas keamanann terganggu, namun iklim persepakbolaan negara yang bermata uang Baht itu tetap berjalan kondusif, urusan politik tidak sampai mencampuri.

Bila kita menengok kembali kekisruhan yang terjadi dalam tubuh PSSI, perlunya ketegasan pemimpin dari Menteri sebagai pembantu Presiden, agar dapat membuat regulasi dalam kepemimpinan yang berintegritas. Menteri Pemuda dan Olahraga sebagai pemegang komando kepemimpinan diatas ketua umum PSSI, seharusnya memberikan efek jera terhadap para provokator yang menghambat laju prestasi persepakbolaan nasional.

Diatas itu semua, upaya menyatukan kembali kepemimpinan dalam tubuh organisasi sepak bola terbesar di Indonesia ini wajib diwujudkan bersama agar negeri dengan rakyat yang mayoritas penyuka si kulit bundar ini dapat berbangga diri dengan tim nasionalnya. Dan, tentunya iklim kompetisi yang kondusif akan menarik pihak sponsor, yang berkorelasi positif terhadap kemampuan finansial klub yang bernaung dibawah organisasi PSSI itu sendiri.


Daftar Pustaka:
Harian Jawa Pos, terbitan Minggu, 2 Desember 2012
gambar: http://previews.123rf.com/