Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

23 August 2015

Nyanyi 17-an

Entahlah sejak kapan saya suka bernyanyi. Sejak jaman TK ketika diajari Ibu Guru menyanyikan lagu anak-anak. Ataukah meloncat saat jaman SMP yang gemar nge-band. Tapi yang jelas, saya suka dengan orang menyanyi. Baik sendiri (solo) maupun berkelompok (band).

Ketika jaman anak-anak dulu ada nama Joshua dan Cikita Meidy. Ada juga Dea Ananda yang menyanyikan lagu Nabi dan Rasul. Dari nyanyian itu saya jadi hafal nama-nama Nabi yang berjumlah 25 tersebut. Kemudian ada grup band Dewa dan Sheila on 7. Lagu-lagu mereka suka saya tirukan ketika berkostum putih-biru (SMP). Sampai-sampai saya hunting kaset dan CD-nya di lapak-lapan kali lima di seputar pertokoan Porong.

Afiliasi saya berubah ketika SMA. Berada di asrama rasa-rasanya tiada hari tanpa mendengarkan lagu. Karena belum familiar dengan hape MP3, radio menjadi barang yang penting saat itu. Stasiun radio yang sering kami incar tuningnya adalah M-Radio. Ketika sampai pada channel tersebut, kita tak perlu gonta-ganti saluran untuk mendapatkan lagu yang kita inginkan. Karena dari M-Radio saja sudah cukup, dia (M-Radio) tak pernah berhenti memutar lagu-lagu yang sedang hits pada saat itu. Maka selera saya pun berganti pada grup Band Ungu. Salah satu alasannya adalah karena Ungu dapat mengerti dan mewakili perasaan hati saya pada saat itu, hehe..

Menginjak dunia kerja dan kemudian jadi mahasiswa, saya mengenal Maher Zain. Lagu-lagunya kemudian saya unduh dan saya mainkan pada laptop Pentium 3. Tentu mengunguhnya bukan pada laptop yang berharga 100 ribu itu. Tapi pada warnet, yang kemudian saya simpan pada laptop yang bermerk IBM itu. Selera saya itu sampai sekarang bertahan. Sedikit selingan dengan Sami Yusuf dan beberapa nama penyanyi yang bergenre religi.

**

Tujuh belasan kemarin. Sekolah kami, SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo mengadakan beragam lomba. Mulai dari lomba untuk siswa seperti story telling, catur, menyanyi solo, desain batik, melukis, sampai pada cipta puisi. Tak ketinggalan juga ada lomba yang khusus untuk para Guru. Nama keren lombanya adalah Singing Contest. Lagu yang dinyanyikan juga seputar lagu-lagu nasional seperti Tanah Airku , Satu Nusa Satu Bangsa, dan Indonesia Tanah Air Beta. Lomba dinyanyikan secara berkelompok berdasarkan rumpun mata pelajaran.

Para peserta yang merupakan Guru-guru dari latar belakang yang beragam, tampil heboh dan menggetarkan panggung kecil yang berada di kantin. Para penonton yang terdiri dari Guru dan sebagian murid itu bersorak-sorai. Para penonton meyakini, ternyata mereka (para guru) juga banyak yang bakat nyanyi.

Saya dan teman-teman Guru Penjas dapat nomor urut sebelas. Bersepakat juga membawakan lagu nasional Tanah Airku. Untungnya berada pada urutan akhir adalah bisa menilai kelebihan dan kekurangan para peserta yang sudah tampil sebelumnya. Dari situ kemudian ada kesimpulan: harus ada diferensiasi. Jika kita tampil dengan hanya berbekal nyanyi lagu tanpa ada sesuatu nilai lebih, maka kita hanya menjadi peserta yang biasa-biasa saja. Kami (guru penjas) akhirnya bersepakat untuk mengusung puisi menjelang penutupan lagu tersebut. Kami mencari kertas. Kami pinjam bolpoin, dan kurang dari lima menit akhirnya jadi puisi. Tak banyak, hanya beberapa bait. Menyesuaikan dengan durasi lagu.  

***

Menjelang salat dhuhur, diumumkan para pemenangnya. Di grup WA Guru Penjas, ada kata-kata semangat dan antusias. Saya belum percaya jika kami menang. Tapi kenyataannya seperti itu. Guru Penjas pun bisa seni, seni bernyanyi dan berpuisi..


Juwet, 230815


24 June 2015

Filosofi Pak Bon

Jaman putih biru, jika ada sosok yang menjadi penjaga sekolah maka kita memanggilnya dengan sebutan Pak Bon. Saya mengenal kosakata tersebut memang pas jaman puber. Maklum, ketika berseragam putih merah alias saat duduk di bangku sekolah dasar, kosakata Pak Bon belum terdengar. Penjaga sekolah pada saat itu kami panggil dengan nama sebutannya yang dibumbui dengan kata “cak”. Entah siapa nama sebenarnya dari Pak Bon kami saat SD dulu. Kami lebih akrab menyapanya dengan panggilan Cak Gandu.

Kembali ke jaman putih biru, dimana banyak haru biru yang mewarnai pada zaman itu. Saya mengenal beberapa nama Pak Bon, mengenalnya juga bukan dari perkenalan formal, tapi dari ikutan teman-teman. Saya lebih mengenal nama mereka (Pak Bon), karena salah satunya sama persis dengan nama Bapak saya. Pas jaman SMP dulu, kenakalan remaja dengan memanggil nama Bapak dan menjadi ejekan memang lagi gencar-gencarnya (entah sekarang). Meskipun begitu, tetap saja nama Bapak saya terungkap dan diketahui teman-teman. Entah siapa yang membocorkannya, padahal dulu belum ada fesbuk, twitter atau instagtram. Kalaupun ada, tentu saya tidak memajang nama Bapak saya disana, hehe..

Begitu pula saat kita hijrah ke SMA. Di SMANOR, saya mengenal nama mbah Baran. Beliau termasuk dekat dengan kami, para siswa multitalenta. Multitalenta? Iya, karena ketika pagi, kami sama dengan yang lainnya. Berangkat sekolah, memakai seragam layaknya siswa-siswa sekolah lain. Pelajaran pun setali tiga uang. Guru-gurunya saja mungkin yang agak tidak mainstream. Kami bersyukur bertemu dengan guru-guru luar biasa. Baik dari keilmuan maupun tingkah dan sikapnya. Bisa dikatakan, kami mendapatkan keteladanan salah satunya dari contoh sikap dari guru-guru kami tersebut.

Karena kami semua berada di asrama, dan hanya diperkenankan pulang seminggu sekali, tidak lebih. Maka ikatan persaudaraan lebih erat terangkai. Meksipun pada saat itu ada strata junior-senior, yang terkadang melindas keadilan, namun itu semua bermuara pada pembelajaran sikap kami pada sikap menghormati orang yang lebih tua. Suatu budaya ketimuran yang wajib kita junjung tinggi. Pak Baran, yang usianya kala itu sudah menua, menjadi jujugan kami untuk sebagai moodbooster,istilah peningkat mood, karena dari tutur beliau keluarlah nasehat-nasehat bijak. Kadang pula muncul kata motivasi yang tak terduga. Dan hal tersebut setidaknya memberikan sumbangsih pada kami untuk lebih semangat berlatih dan meraih prestasi.

Lepas SMA dan bekerja di Graha Pena, lagi-lagi saya bertemu dengan Pak Bon. JIka di SMP dan SMA hanya mengenal satu, dua, hingga tiga Pak Bon. Maka di Graha Pena, Pak Bon ada lima jumlahnya. Karena di Graha Pena ada bagian taman yang menjadi divisi tersendiri. Dan, pandangan saya terhadap Pak Bon tetaplah sama. Mereka yang sudah melewati banyak ujian hidup dan usianya sudah beranjak senja, itu yang saya sebut dengan Pak Bon. Bukan mereka yang memang ditugaskan mengurus taman, atau hanya sekedar menjalankan tugas, apalagi yang usianya sepantaran. Bisa dibilang, saya melihat filosofi yang ada dalam diri seorang Pak Bon. Ada hal menarik yang patut digali dari mereka. Salah satu yang sering saya minta pendapat dan bercerita lika-liku hidupnya adalah Suswoko. Teman-teman Graha Pena memanggilnya Pak Woko. Dari beliaulah saya banyak mengambil pesan-pesan moral dari perjalanan hidup yang sudah dilaluinya. Kegigihan dalam bertahan hidup menjadikan motor semangat buat saya yang saat itu juga nyambi bekerja dan kuliah.

Ketika menjadi mahasiswa dua kaki, antara ngampus dan ngantor, maka saat itu ada dua bagian yang mengisi aktivitas keseharian. Yang pertama atau bisa disebut dengan aktivitas utama adalah kuliah itu sendiri, saya menerapkan skala prioritas pada saat itu. Disaat yang sama , saya ingin menjaga sikap profesionalitas dalam bekerja. Jadi, meskipun ketika pagi saya di kampus, sore hari ketika sudah pulang dari kampus, saya langsung meluncur ke Graha Pena, bukan nyangkruk bersama teman-teman di warung kopi dekat kampus. Meskipun banyak yang bilang kurang membumi, setidaknya sudah ada bukti, jika pekerja dan mahasiswa lebih bisa lulus dulu daripada mereka yang ongkang-ongkang kaki di warug kopi, hehe..(just kid).

Hingga akhirnya, ketika saya terdampar di tempat saya mencurahkan segala potensi yang saya miliki: SMP Muhamamadiyah 1 Sidoarjo, saya pun kembali bertemu dengan mereka, barisan para Pak Bon. Tiga lantai yang menjulang di sekolah milik Persyarikatan Muhammadiyah itu, seluruhnya hanya diisi tiga Pak Bon. Jumlah yang tidak sebanding dengan luas bangunan itu sendiri.

Supardi, atau biasa dipanggil Pak Su, berada di lantai satu. Toni Kurniawan, atau Mas Boy, bercokol di lantai dua. Dan Pak Yas, nama panggilan dari Ilyas, Pak Bon paling senior diantara mereka. Ketiganya memliki kelebihan. Pak Su, orangnya rajin, selalu menjadi yang pertama menginjakkan kaki di sekolah. Pernah suatu hari, saya menyelesaikan penilaian hingga lembur sampai pagi. Dan saat itu jam dinding masih bergerak di angka tiga, tapi Pak Su sudah tiba, dan menggandeng sapu dan pel, dipagi yang dingin, dia sudah bergelut dengan peluh.

Di lantai dua dengan ukuran lahan lebih luas dari lantai satu dan dua, disanalah tempat Mas Boy, bergerak melakukan laku “ibadah” dengan menyapu lantai, mengepel, membersihkan kaca, dan lain-lainnya. Mas Boy, termasuk yang paling muda diantara para Pak Bon di Musasi. Meski demikian, dia tidak ingin tertinggal. Aktivitasnya bekerja juga disambi kuliah di jurusan yang sama dengan saya: olahraga. Tapi tempat ngampusnya di Malang, di IKIP Budi Utomo. Dia mengambil kelas ekstensi, kuliah Sabtu-Ahad. Pagi hari dia bersih-bersih, sore hari dia merangkap pelatih si kulit bundar di Sekolah Sepak Bola (SSB) di kota delta.

Dan yang terakhir adalah Pak Yas. Beliau merupakan Pak Bon paling senior. Bertengger di lantai tiga dengan beban pekerjaan yang bisa dikatakan tidak ringan dengan usia yang tidak lagi muda. Dia mempunyai Istri yang juga menjadi penjaga kantin Musasi. Tiga anaknya berada di AUM. Anak pertama mengikuti jejaknya di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Anak keduanya, menjadi penjaga keamanan di Musasi. Sementara yang terakhir baru kelas tiga SMP, sekolahnya juga di jalan KH. Samanhudi no. 81.

Beritakemarin agak mengagetkan kami. Pak Yas, tukang kebun sekolah yang tahun kemarin diangkat menjadi karyawan tetap sekolah, mengalami kecelakaan saat mengendarai motornya. “Keadaannya kritis, dan sampai sekarang belum sadar,” bunyi kalimat yang tertera pada pesan masuk itu kemarin. Kronologisnya, sore menjelang berbuka, Pak Yas berniat membeli bekal takjil untuk keluarga. Dengan kecepatan tinggi, saat mau mendahului mobil di depannya, dari arah berlawanan muncul Yamaha v-ixion, tabrakan pun tak dapat terelekkkan. Hingga tulisan ini diketik, beliau belum sadar. 
Ada pendarahan di otak, yang menyebabkannya koma. Saat menjenguknya bersama para guru dan karyawan Musasi tadi pagi, beliau masih dipasang selang oksigen. Keluarga dan kerabat banyak yang menungguinya. Kami berdoa semoga Pak Yas lekas siuman. Dan dapat berkarya kembali di SMP Musasi. Aamiin.

Sekelumit tulisan tentang Pak Bon,
Gedang 240515
Menunggu Beduk Maghrib. 

foto http://www.jawapos.com/ abdulsyukur (tukang becak dan penambal jalan)



2 June 2015

Surga Neraka ada di Fesbuk

Suatu hari seorang murid kelas 8 bertanya: “Pak, kenapa postingan fesbuk Bapak isinya koq selalu tentang agama?” Dia kemudian melanjutkan dengan memberikan perbandingan jika postingan salah satu guru lain lebih banyak bercerita tentang asmara dan cinta. Awalnya saya kaget mendengar pertanyaan dari murid yang memang keingintahuannya cukup tinggi itu. “Nanti setelah jam istirahat kedua (ba’da salat dhuhur), insya Allah saya jawab ya..”pesan saya padanya.

Pertanyaan yang singkat namun membuat saya kaget dan heran. Kaget karena saya tidak menyangka jika akan ditanya pertanyaan seperti itu. Heran. Emang ada yang salah dengan potongan rambut saya? Apa karena pendidikan jasmani sehingga postingannya hanya berkisar dunia jasmani, sehingga tidak boleh membahas agama? Wah, jangan-jangan ini karena Mustafa Kemal Attaturk yang memisahkan ilmu dunia dan ruhiyah? Pembahasannya bisa berjilid-jilid ini nanti.

Yang jelas, ada prinsip dasar yang saya pegang. Dimanapun kita berpijak, sebarkan kebaikan. Karena suatu kebaikan yang disebarkan, dan orang lain terinspirasi sehingga mengerjakan kebaikan itu, maka disanalah ladang pahala bagi kita. Begitupun sebaliknya.

Jadi, simple saja. Ketika kita bergelut dalam bidang apapun dalam ranah apapun. Kebaikan itu bisa ditularkan. Saya mengenal Mas Yanuardi Syukur, dan saya beruntung dapat membaca cerita inspirasinya dalam bukunya “Facebook Sebelah Surga Sebelah Neraka (FS3N)”. Dari buku yang saya baca pada saat awal fesbuk booming pada tahun 2009, menjadikan saya punya pijakan: fesbuk adalah ladang amal.

Sehingga mulai dari tahun 2009 hingga kini, postingan alhamdulillah ada nafas dakwah. Meskipun diri ini tidak mengikrarkan sebagai pendakwah. Hal itu seolah menjadikan pegangan, jika ada pesan dari nabi kita tercinta “Sampaikanah Walau Hanya Satu Ayat”.

Perjalanan panjang dari sebagai karyawan, mahasiswa, dan kini pengajar memberi banyak warna pengalaman dalam rangkaian perjuangan. Buku FS3N, yang kebetulan (sebenarnya telah Allah gariskan) dibeli misanan dari obralan buku di Ramayana rupanya meneguhkan sikap hidup agar terus beramal dalam kebaikan. Berlomba-lomba dalam Kebaikan, Fastabiqul Khairat!

Peristiwa beberapa hari lalu membuat saya merenung. Ternyata apa yang kita tulis akan dibaca oleh banyak orang, termasuk murid kita. Jadi sungguh berbahaya ketika sebuah tulisan, lebih-lebih yang ditulis pendidik, tidak memberikan ruh kebaikan dan menggerakkan, namun hanya tempelan hiasan. Masihkah ada waktu bagi kita mengisi hati mereka dengan nafas agama?

INSIPIRASI: Karya Yanuardi Syukur

Resensi bukunya ditunggu ya..^^
























sumber: http://4.bp.blogspot.com/