Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

15 May 2015

Sidoarjo Ber-Musywil

Tiga hari dua malam kota Sidoarjo dibuat benar-benar padat. Pada tanggal 8-10 Mei 2015 kota Delta menjadi tuan rumah Musywil XV Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur. Dalam Musywil yang mengusung tema “Progresivitas Dakwah Pemuda Muhammadiyah untuk Membangun Islam Berkemajuan” itu akhirnya memilih Pradana Boy ZTF sebagai ketua.

Menjadi jujugan ribuan musyawirin, kabupaten dengan 18 kecamatan itu berupaya dengan sekuat daya dan upaya di tengah keterbatasan dana untuk menyukseskan gawe lima tahunan itu. Terbukti sejak Jumat, komplek Perguruan Muhammadiyah yang juga menjadi Pusat Dakwah Muhammadiyah Sidoarjo tumplek blek didatangi para peserta Musywil dari segenap penjuru kota/kabupaten di Jawa Timur.

Sejak Jumat, Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah), sudah mulai menyerbu Sidoarjo Square (lokasi Musywil). Kedatangan Kokam tak lain turut serta dalam apel akbar di Alun-alun Sidoarjo. Selain apel Kokam, pada Sabtu (9/5) rangkaian acara Musywil diawali dengan Pawai dan Tabligh Akbar. Pawai yang diikuti ratusan peserta itu didominasi segenap siswa-siswi sekolah Muhammadiyah se-Sidoarjo.

Usai pawai, gelaran acara dilanjutkan dengan aksi Kokam dan pertunjukan seni beladiri Tapak Suci yang diperagakan ratusan murid SMP-SMA Muhammadiyah se-Sidoarjo. Dalam acara kolosal tersebut turut disaksikan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Abdul Mu’ti yang diusung dalam acara Tabligh Akbar. Selain Pak Mu’ti, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjutak juga hadir dengan rombongan. Tuan rumah yang  terdiri panitia lokal Pemuda Daerah Sidoarjo dan Panitia dari Pemuda Wilayah datang dengan komposisi penuh. Ketua PWM Prof. Thohir Luth, Ketua PWPM Khoirul Abduh, dan ketua PDPM Jasmuri.
 .
Acara Musywil sendiri dilaksanakan pada sore hingga malam hari di Auditorium Smamda. Konon ketika berlangsungnya acara, ruang yang berkapasitas ribuan tempat duduk itu sampai tak muat menampung para Musyawirin yang hadir. Sampai-sampai pada sesi pemungutan suara, karena keterbatasan ruang, dibuatlah sistem kloter. Dimana para Musyawirin diminta untuk melangkah keluar ruangan, dan akan dipanggil satu persatu daerah sesuai nomor urutan yang sudah diundi sebelumnya.

Pemungutan dan penghitungan suara berlangsung hingga Ahad dini hari. Dari enam kandidat yang maju dalam Musywil kali ini, Pradana Boy ZTF., mengungguli suara para kandidat lainnya. Dengan hasil tersebut, Maka mas Boy, panggilannya, memimpin Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur dalam lima tahun kedepan. Tugas dan bisa dikatakan tidak ringan.

Namun, keunggulan jejaring dan intelektualitas dosen UMM tersebut menjadi modal yang sangat diperlukan ketika menatap masa depan Pemuda Muhammadiyah. Dengan modal keilmuan, Pemuda Muhammadiyah masa depan diharapkan dapat mengemban amanah sebagai pelangsung, pelopor, dan penyempurna gerakan. Dengan kapasitas keilmuan yang mumpuni Pemuda Muhammadiyah mempunyai integritas tinggi dan tak mudah terkooptasi kepentingan. Jika impian itu bisa direalisasikan, besar harapan Pemuda Muhammadiyah tumbuh menjadi sosok organisasi otonom Muhammadiyah yang mandiri dan disegani. Dia akan menjadi kiblat serta mempunyai kemampuan memimpin dalam gerakan pencerahan. Dan tentu kita sangat berharap, dalam komando kepemimpinan yang baru ini ghirrah dakwah tetap ditumbuhkembangkan. Khittah agar dapat melahirkan kader ulama yang intelek dan intelek yang ulama tetap tersemai. Dengan jalan tersebut, insya Allah, Muhammadiyah akan lepas dari awan hitam krisis kader ulama dan kader intelektual. Semoga!

Porong, 150515

Meluruskan niat, Membersihkan hati, Menyucikan diri


7 May 2015

Assalamu’alaikum, Pak Rektor!

Hujan deras sore itu. Rahmat Allah turun dan mengguyur permukaan bumi. Sepanjang jalan Sidoarjo hingga Surabaya pun tak luput dari rintik air langit. Kami berangkat dari Porong. Gedung Balai Pemuda Surabaya siap menyambut tekad kami. Thalibul Ilmi.

Sabtu (2/5) menjadi rangkaian acara Surabaya Islamic Book Fair (SIBF) 2015 di gedung bersejarah itu. Lumrahnya acara SIBF dua-tiga tahun belakangan diadakan di Jatim Expo (JX) atau di DBL Arena. “Mungkin sedang penuh penyewa,”jawab Juhri, kawan seboncengan, seolah mengerti tanda tanya yang melayang di atas kepala. Selain hunting buku-buku berharga miring, undangan Bina Qolam yang tersebar di sosmed membuat langkah roda motor kami terus tergerak.

SMILE: Prof, Muchlas Samani*
Profesor Muchlas Samani, nama yang tak asing lagi bagi kami, khususnya warga Unesa. Rektor periode 2010-2014 itu revolusioner. Gagasan dan kiprahnya akan kami ceritakan di sesi lain. Yang jelas, kedatangan mantan staf ahli Menteri Ppendidikan Bambang Sudibyo itu memantik keingintahuan kami. Diskusi yang bertemakan “Berawal dari Membaca Kini Saatnya Menulis” menghangat. Semangat para peserta mengalahkan guyuran hujan.

Diskusi dimulai ba’da salat Isya’. Mas Oki Aryono, pemegang amanah Bina Qolam yang merasa dirinya hanya pemandu sorak, menjadi moderatornya. Prof. Muchlas malam itu memakai jaket coklat. Beliau berkata dua hari belakangan bisanya hanya tiduran, radang tenggorokannya kambuh. Alhamdulillah, malam itu beliau sudah sehat.

Dalam paparannya, Prof.  Muchlas mengawali akan betapa penting peran dunia tulis-menulis dalam sejarah peradaban manusia. “Jika tidak ada tulisan, mungkin manusia akan tetap seperti ini,” tutur beliau sembari memperlihatkan slide bergambar manusia purba. “Karena tidak ada transfer ilmu pengetahuan yang terjadi,” jelas lulusan teknik mesin IKIP Surabaya tersebut.

Transfer pengetahuan itu rupanya sudah diingatkan oleh Allah dalam ayat “balighu anni walau ayah”, jadi dalam arti yang lebih luas, menyampaikan ayat-ayat Allah tidak terbatas pada ayat-ayat kauliyah (tersurat), namun juga kauniyah (tersirat). Media yang digunakan pun bermacam-macam salah satunya dengan tulisan. “Ada inspirasi apapun, tulislah!” ajak guru besar Unesa itu.

Menulis itu, tambah Prof. Muchlas, ibarat orang belajar bersepeda. Membutuhkan skill atau keterampilan. Semakin sering diasah semakin baik. Mengasah skill menulis tak harus dari buku atau jurnal ilmiah. Dari fenomena yang terjadi di sekitar kita pun bisa menjadi bahan tulisan. “Contohnya seperti sekarang ini, mengapa dua hari terjadi hujan terus menerus. Orang-orang yang tidak belajar mengasah akan menganggap fenomena tersebut adalah hal biasa,” jelas pemilik akun blog muchlassamani.blogspot itu menambahkan.  


Peran membaca buku atau bacaan juga tak kalah penting. Fungsinya tak lain untuk memperkaya tulisan. Dengan membaca, wawasan seorang penulis akan bertambah. Dia (penulis) dapat membuka wacana dari bahan bacaan yang tentu menjadi paradigma bagi setiap pembaca.

Dengan didasari perintah menyampaikan walau hanya satu ayat, maka keikhlasan dalam menularkan tulisan itu perlu menjadi pegangan. “Dengan ikhlas dan berlandas niat menyampaikan ilmu yang bermanfaat, insya Allah akan menjadi pahala yang mengalir sampai nanti kita meninggal” ujarnya.

RESENSI?: Sabar :)
Acara diskusi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab peserta. Beberapa peserta yang bertanya mendapat hadiah buku karya Prof. Muchlas. Kami sendiri Alhamdulillah diberi kesempatan Allah untuk menikmati buku terbaru Prof. Muchlas. Judulnya pun membuat siapa saja penasaran dengan isinya. Di cover depan buku bertebal 266 halaman itu bertuliskan “Mohon Maaf..Masih Compang-Camping, Kumpulan Catatan sebagai Rektor Universitas Negeri Surabaya 2010-2015”. Resensi menyusul ya, hehe..




Salam Literasi,
Porong 070515

FOTO: Para Peserta Diskusi dan Prof. Muchlas Samani
























 *gambar sumber; http://antarajatim.com/

4 May 2015

Pak Guru: Potret Kehidupan “Oemar Bakrie” di Pedalaman Lamongan

“Kau tahu, Musa, apa tanda perbuatan kita akan mengantarkan ke surga?”

“Jika ada setan menghalangi, itulah tanda perbuatan kita benar. Ingatkah kamu kisah Ibrahim ketika ia menerima perintah menyembelih Ismail? Berhari-hari Ibrahim berpikir apakah ini perintah Allah atau sekadar bunga tidur. Ia bawa Ismail ke bukit dengan hati ragu-ragu. Tapi di jalan, iblis menghalang-halangi, maka yakinlah Ibrahim bahwa perbuatan itu benar-benar perintah Allah!” (Cuplikan Novel Pak Guru, hal. 307)

Mendengar kata Guru, pandangan sebagian dari kita akan terlempar pada sosok yang cerdas, penuh kharisma, berwibawa, dan lekat dengan keteladanan bagi muridnya. Namun, tunggu dulu, kita pun perlu menyodorkan sebuah logika: sosok guru juga manusia. Jika sudah demikian, maka tak perlu heran jika banyak kekurangan dan kealphaan dari seorang Umar Bakrie, karena sekali lagi, dia pun manusia. Tapi sejenak kita merenung, selain kembali pada FITRAH sebagai manusia, sosok guru juga harus meluruskan KHITTAH (garis besar perjuangan).

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa guru mempunyai 4 kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional serta kompetensi sosial. Nah, melihat kenyataan diatas, guru tak selayaknya menjadi manusia yang sama dengan manusia kebanyakan. Lho? Dalam hal kompetensi kepribadian, jika dianalogikan mahasiswa yang baru lulus kuliah dan mendapatkan nilai IPK, maka seorang guru harus mempunyai kepribadian yang ber-IPK diatas 3,00 atau yang lebih radikal dia harus cumlaude dalam kompetensi kepribadian.

Dalam novel Pak Guru, setidaknya kita dapati gambaran dan dinamika kehidupan guru. Lika-likunya menjadi berharga, ketika banyak nilai-nilai kearifan yang terkandung dalam novel bertebal 328 halaman ini.

Novel yang berlatar pedalaman Lamongan pada tahun 70-an itu menggambarkan sosok Musa, guru yang baru saja diangkat menjadi kepala sekolah di SDN Sidomulyo. Sebagai guru baru yang belum kenyang pengalaman, dia merasa berat ketika Pak Danutirto, kepala sekolah sebelumnya, menunjuk Musa untuk menerima tongkat jabatan sebagai kepala sekolah yang baru. Musa yang dianggap Pak Danutirto sebagai sosok yang berdisiplin tinggi dan penuh tanggungjawab dalam mengemban tugas dianggap paling cocok untuk menggantikan Pak Danutirto yang harus pensiun.

Padahal, jika melihat peta senioritas, masih ada sosok Pak Sarkowi, guru yang umur dan pengalamannya lebih tinggi dari Musa. Namun, Pak Danutirto mempunyai pandangan lain, maka dia tetap memilih Musa untuk menggantikannya. Karuan saja, keputusan sang kepala sekolah menjadikan iri hati Pak Sarkowi. Sebagai guru paling senior di sekolah yang sekelilingnya daerah pertambakan itu, dia merasa dilecehkan. Sejak Musa diangkat sebagai kepala sekolah baru, api kecemburuan Pak Sarkowi makin membesar. Dia mengannggap Musa anak kemarin sore yang tak pantas menjadi kepala sekolah.

Dalam tiap rapat guru yang dipimpin Musa, Pak Sarkowi selalu mencari alasan untuk enggan menghadiri. Dalam tiap kesempatan bertemu para guru yang lain, Pak Sarkowi selalu menghembuskan api permusuhan pada Musa, sang kepala sekolah. Puncaknya, ketika Musa menolak pengajuan KPN (Koperasi Pegawai Negara) yang diajukannya Pak Sarkowi. Bukan tanpa alasan Musa menolak permintaan tersebut. Menurut Musa, gaji guru yang tak seberapa, lalu banyak potongan, maka guru dikhawatirkan banyak mencari obyekan di luar. Para murid pun yang menjadi korban. Namun, karena sudah diliputi rasa kebencian, kebaikan yang disampaikan Musa tak berarti apa-apa dihadapan Pak Sarkowi.

Lain fragmen, Musa juga berhadapan dengan Bu Eni, guru pindahan dari SDN Alun-alun, sekolah yang berada di kawasan kota. Keinginan awalnya menjadi pegawai kantoran tak kesampaian karena Bapaknya menginginkan dirinya untuk jadi guru. Akibatnya pun bisa ditebak, dia banyak melamun ketika berada di kelas. Raganya berada di depan murid-muridnya, tapi pikirannya melanglangbuana kemana-mana. Penampilannya pun tak seperti kebanyakan guru pada umumnya. Jika digambarkan, sosoknya seperti etalase berjalan. Kegemarannya membaca majalah mode ibukota menuntutnya untuk selalu ikut tren. Gaya hidup dan cara berpakaian pun lebih banyak berkiblat pada majalah mode tersebut.

Ketika para guru pada saat itu paling mentok memakai sepeda pancal, Bu Eni nekat ingin memiliki motor. Setelah pengajuan KPN-nya tak disetujui kepala sekolah, dia memutar otak. Di dekatinya kepala sekolahnya dulu di SDN Alun-alun yang juga adik dari bapaknya itu untuk bisa pinjam KPN. Akhirnya dia menjadi guru pertama di sekolah itu yang memakai motor. Selain bekerja sampingan sebagai pedagang kosmetik pada para ibu-ibu, lama-lama ia juga menjadi joki dalam meloloskan murid-murid SD ke SMP negeri. Bu Eni dikenal mempunyai banyak channel pada orang dalam SMP. Tentu, untuk urusan tersebut tidak gratis, alias pasang tarif. Sebagai kepala sekolah, Musa tak ingin praktik ketidakjujuran tersebut tumbuh subur. Baginya, menuntut ilmu harus diperoleh dengan jalan kebaikan, bukan dengan sogokan.

Mulailah dia menjalani “jihad” memberantas kemungkaran yang terjadi di depannya dengan tangan (kekuasaan sebagai kepala sekolah). Bukan dengan jalan kekerasan, namun dengan cara yang moderat dan elegan, yakni mendatangkan sosok Ustadz. Cara tersebut rupanya ampuh ketika Ustadz tersebut memberikan nasehat pada para walimurid kelas 6 agar tak menggunakan cara-cara haram dalam memuluskan jalan anaknya untuk menuntut ilmu. Walimurid akhirnya lebih banyak menggunakan jalan legal. Musa lega, praktik kotor “bawah meja” tak terulang.

Novel besutan Awang Surya ini merupakan novel persembahan untuk “Musa” Mudjib Sholeh yang tak lain adalah guru, kepala sekolah dan bapaknya. Satu pesan kuat dalam novel ini, jika kita menempuh jalan kebenaran, akan selalu mendapat perlawanan dan hambatan dari setan. Musa tak ingin para guru menjadi sosok konsumtif, sehingga gajinya tak menjadi berkah bagi keluarganya. Dia juga tak ingin cara-cara kotor dilalui, hanya karena keyakinan yang kurang pada keberhasilan. Musa selalu ingat pada nasehat Haji Husin, kakaknya yang juga anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan, ketika sakit dia menyempatkan untuk menguatkan hati Musa.

“Kalau sekarang ini kamu mengajak anak buahmu hidup bener, tapi mereka menolak, itu tanda perbuatanmu benar. Jangan ragu…, hadapi! Insya Allah pertolongan Allah akan datang tepat pada waktunya.”
Judul : Pak Guru
Penulis: Awang Surya 
Penerbit: Ersa-Jakarta (2014)


PENULIS: Awang Surya

28 April 2015

Dari Remang-remang Menuju Cerah Berseri-seri

Perawakannya biasa, tanpa jubah, tak berjenggot panjang pula. Tapi, kiprahnya tak kalah dengan para “pasukan jubah putih”. Jika mereka (para pasukan jubah putih) berkoar atas nama Tuhan, membawa “pentungan”, mengobrak-abrik lahan kemaksiatan. Apa yang dilakukan M. Arif’an (41) berbeda 180’. Dalam berdakwah dia tak sekadar “bersenjata golok”.

Baginya dakwah adalah jalan kebenaran yang harus ditempuh dengan cara yang terbaik. “Dakwah itu mengajak dan merangkul, bukan menakut-nakuti lantas membuat lari,” tambah pria yang menjadi ketua PCM Krembangan itu.

Ketika hadir dalam Pelatihan Ideopolitor di Graha Umsida, Sabtu-Ahad (25-26/4), pria yang menamatkan gelar sarjananya di Unmuh Surabaya itu menggambarkan lika-likunya dalam dakwah lokalisasi. “Saya tinggal di lingkungan prostitusi, jadi saya tahu betapa kelamnya para wanita yang menggantungkan hidupnya pada “lembah hitam” tersebut,”tukasnya.

Tekad dan keinginannya yang kuat, tak lantas menjadikan jalan dakwahnya lurus tak berpenghalang. Pernah suatu hari dia diprotes ibu-ibu Aisyiyah karena para bapak diajak bertabligh di wisma-wisma. Namun, beragam penolakan yang datang dari Ibu-ibu ‘Aisyiyah maupun dari warga Muhammadiyah sendiri tak menyurutkan tekadnya untuk tetap melanjutkan gagasan besarnya tersebut. “Karena dakwah sesungguhnya tak berhenti pada masjid, musala, atau tempat-tempat “nyaman” lainnya,”imbuh Bapak dua anak itu menambahkan.

Tekadnya semakin membulat ketika dirinya terpilih menjadi ketua pada Musycam PCM Krembangan. Sebagai pimpinan persyarikatan pada taraf cabang, dia tak segan mengganti para pimpinan ranting yang jarang berjamaah di masjid dan musala. “Ketika kita dipilih menjadi pimpinan, apalagi dalam organisasi besar seperti Muhammadiyah, maka pada saat itu kita menjadi teladan bagi masyarakat,”ungkapnya. Dia menambahkan sebagai pimpinan persyarikatan dalam apapun kapasitasnya, setidaknya punya kriteria 4-er, pinter, bener, kober, dan . “Pimpinan Muhammadiyah ibaratnya bekerja pada perusahaan Allah. Jangan pernah jadikan sampingan, harus sungguh-sungguh mengelolanya,”lanjutnya dengan nada serius.

Perjuangannya setidaknya membuahkan hasil, ketika banyak perusahaan yang menyalurkan dana CSR-nya pada PCM Krembangan. Beberapa perusahaan itu bahkan tak segan memberikan berapapun dana yang diminta untuk bisa memberdayakan para pekerja PSK agar mandiri dan mentas dari “lembah hitam”.

Namun, bukannya tanpa halangan perjuangan yang dirintisnya. Banyak ancaman dan teror datang, terutama dari para preman yang tidak ingin “lahan basahnya” berpindah atau menghilang. “Saya pernah dikalungi (lehernya dilingkari) pedang oleh salah seorang preman. Beberapa saudara juga lari menjauh dari saya karena merasa tidak aman,”kenangnya. Namun, pada akhirnya, ketika seseorang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya. Dukungan yang diterimanya pun semakin banyak, hal itu terlihat ketika PDM dan Aisyiyah lambat laun menyambut gagasannya. Walikota Tri Rismaharini pun turut membantu ketika lokalisasi yang berada di Dupak Bangunsari dan Kremil itu dicanangkan untuk ditutup.

Para peserta tampak tak beranjak sedikitpun dari tempat duduk, antusiasme berlanjut ketika pada sesi tanya jawab, para peserta ingin tahu bagaimana kiat perjuangannya Rif’an dalam mengembangkan cabang dan ranting lebih lanjut. Pada akhir sesi, narasumber bahkan “ditahan” oleh para peserta karena rasa ingin tahunya yang masih tinggi.  

Pelatihan ideopolitor diselenggarakan Majelis Pendidikan Kader (MPK) PDM Sidoarjo, yang bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR), turut juga mengundang perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Sidoarjo. Selain memberikan penguatan akan pentingnya ideologi Muhammadiyah dalam gerakan dan organisasi, panitia yang didominasi para Pemuda Muhammadiyah Daerah Sidoarjo itu juga menghadirkan ketua fraksi PAN Kabupaten, yang memberikan wacana perpolitikan di kota delta.

Sehari sebelumnya acara tersebut dibuka ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo Ustadz Dzul Himam, Lc. Pada kesempatan yang sama ketua MPK dan kepala SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo Drs. Aunur Rofiq hadir saat sesi penguatan cabang dan ranting. Setelahnya rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Drs. Hidayatulloh, M.Si., memberikan percik inspirasi ideologi Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan yang melintas zaman. Dalam ceramahnya, Pak Dayat mengingatkan bila setiap perubahan yang dilakukan Muhammadiyah berkat para tokohnyayang berani mendobrak kemapanan. Contoh misalnya KH. Ahmad Dahlan, dengan keberaniannya mengubah arah kiblat masjid Agung Kauman yang sejak lama salah. Juga ada Pak AR Fachruddin, dengan kemampuan komunikasinya yang baik pada Presiden saat itu, menjadikan Muhammadiyah lebih besar dan berkembang. Selain itu ada Pak Amien Rais, sang lokomotif reformasi, menggulingkan rezim yang sudah 32 tahun berdiri. Kini, ada Pak Din Syamsuddin yang menabuh genderang jihad konstitusi.

Jangan pernah berhenti Mujahid-mujahid Muhammadiyah, jadikan negeri ini tercerahkan oleh langkah dakwahmu..

Trawas-Jasem, 280415
Dalam Dekapan CintaNya


SEMANGAT: Sebagian Peserta dan Panitia Mengabadikan Momen*
foto: fesbuk Abi Nurbian

22 April 2015

Sekuler

Api Tauhid, novel terbaru Habiburahman El Shirazy tak hanya mengulas bagaimana rona kisah cinta antara Fahmi dan Nuzula. Disamping roman tersebut, penulis yang akrab disapa Kang Abik itu menceritakan pula kisah perjuangan seorang pahlawan akidah, dialah Badiuzzaman Said Nursi.

Bisa dibilang, Said Nursi merupakan ulama lintas zaman. Ia lahir ketika Khilafah Utsmani masih kokoh berdiri. Ketika masa Sultan Abdul Hamid yang amanah menjalankan sistem khilafah, Said Nursi ingin memberi masukan pada kebijakan yang diambil Sultan. Ketika itu, tidak sedikit warga Turki yang mulai banyak “terkontaminasi” dengan gaya hidup barat. Maklum, Turki adalah negara dua benua, Eropa dan Asia. Masukan dari Said Nursi hampir saja dijalankan, namun sayang, “rongrongan” dari luar rupanya banyak menggoyahkan keteguhan Sultan, dimana saat itu kekuatan Ottoman sudah mulai berkurang.

Menjelang kekhilafahan Utsmani runtuh, kobar perjuangan Said Nursi belum padam. Bahkan ketika tampuk kekuasaan bertransisi ke arah sekuler, dimana pelajaran agama dihapus, para ulama diberangus, sampai pada hal lafadz adzan pun diganti dengan bahasa Turki, Said Nursi tak berdiam diri. Saat fatwa para ulama dibungkam menurut hawa nafsu pemerintah, Said Nursi enggan menerima. Baginya, harum Islam harus tetap disebar, jangan karena rendah diri, nama Islam kemudian dikucilkan dari peradaban. Paham sekuler merupakan ideologi yang memisahkan ranah agama dengan dunia. Bagi penganut sekularisme, membawa-bawa agama hanya akan membawa masalah. “Jauhkan agama dari tempat umum, masukkan dia ke ruang privat,” kata mereka.

Gaung pengaruh sekuler rupanya terendus sampai Indonesia. Peran Islam dalam sejarah kemerdekaan tak banyak ditampilkan. Buku-buku sejarah yang seharusnya menyajikan fakta sejarah yang sebenarnya tertutupi beragam kepentingan sentimen agama. Nama-nama ulama dan pejuang Islam mendapat porsi lebih sedikit dalam materi sejarah di sekolah. Akibatnya pun bisa ditebak. Generasi muda Indonesia lebih mengenal Kartini daripada Nyai Walidah. Mereka kurang familiar dengan Dewi Sartika dan Rohana Kudus. Mereka lebih senang Kartinian daripada Cut Nyak Dien-an, atau Malahayatian. Impact-nya lebih jauh bisa ditebak, ghirrah—semangat dalam beragamanya tidak lagi militan. Fanatiklah pada klub sepak bola, pada bintang korea, jangan fanatik beragama. “Agama hanyalah candu,”kata Nietzche.

Jika sudah demikian, apa yang dikhawatirkan dari virus sekularisme akan menjadi kenyataan. Mereka—para generasi muda, akan memberikan disparitas antara ilmu agama dan ilmu dunia. Ilmu dunia akan diposisikan pada masalah dunia, ilmu agama akan ditempatkan pada ranah akhirat. Mereka akan sulit menangkap dan membaca “ayat-ayat tersirat”.  

Tak salah ketika di dalam kelas, seorang guru Penjasorkes dalam mengawali materi lompat jauhnya, memberikan pemahaman pada seluruh murid betapa pentingnya mengungkap fakta sejarah yang lurus. Guru tersebut menyampaikan argumen, bila di masa Kartini hidup, banyak nama-nama pejuang wanita yang tak kalah gigih berkorban demi pemberdayaan dan kemerdekaan.

Namun sayang, upaya sang guru belum bisa ditangkap salah seorang murid. Dalam sebuah diskusi, murid tadi bertanya pada sang guru; “apa hubungannya Kartini dengan Olahraga?” Guru tersebut hanya bergumam dalam hati,”banyak-banyaklah membaca, Nak, kau akan tahu sendiri.” Kendati di bagian hatinya yang lain dia ingin berucap lirih,”di Jepara itu ada Stadion Sepak Bola yang bernama Gelora Bumi Kartini.”

Porong, 220415
Ketika Mayantara membawa Imajinasi Nyata



*gambar:http://opinion.bdnews24.com/