Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

4 May 2015

Pak Guru: Potret Kehidupan “Oemar Bakrie” di Pedalaman Lamongan

“Kau tahu, Musa, apa tanda perbuatan kita akan mengantarkan ke surga?”

“Jika ada setan menghalangi, itulah tanda perbuatan kita benar. Ingatkah kamu kisah Ibrahim ketika ia menerima perintah menyembelih Ismail? Berhari-hari Ibrahim berpikir apakah ini perintah Allah atau sekadar bunga tidur. Ia bawa Ismail ke bukit dengan hati ragu-ragu. Tapi di jalan, iblis menghalang-halangi, maka yakinlah Ibrahim bahwa perbuatan itu benar-benar perintah Allah!” (Cuplikan Novel Pak Guru, hal. 307)

Mendengar kata Guru, pandangan sebagian dari kita akan terlempar pada sosok yang cerdas, penuh kharisma, berwibawa, dan lekat dengan keteladanan bagi muridnya. Namun, tunggu dulu, kita pun perlu menyodorkan sebuah logika: sosok guru juga manusia. Jika sudah demikian, maka tak perlu heran jika banyak kekurangan dan kealphaan dari seorang Umar Bakrie, karena sekali lagi, dia pun manusia. Tapi sejenak kita merenung, selain kembali pada FITRAH sebagai manusia, sosok guru juga harus meluruskan KHITTAH (garis besar perjuangan).

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa guru mempunyai 4 kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional serta kompetensi sosial. Nah, melihat kenyataan diatas, guru tak selayaknya menjadi manusia yang sama dengan manusia kebanyakan. Lho? Dalam hal kompetensi kepribadian, jika dianalogikan mahasiswa yang baru lulus kuliah dan mendapatkan nilai IPK, maka seorang guru harus mempunyai kepribadian yang ber-IPK diatas 3,00 atau yang lebih radikal dia harus cumlaude dalam kompetensi kepribadian.

Dalam novel Pak Guru, setidaknya kita dapati gambaran dan dinamika kehidupan guru. Lika-likunya menjadi berharga, ketika banyak nilai-nilai kearifan yang terkandung dalam novel bertebal 328 halaman ini.

Novel yang berlatar pedalaman Lamongan pada tahun 70-an itu menggambarkan sosok Musa, guru yang baru saja diangkat menjadi kepala sekolah di SDN Sidomulyo. Sebagai guru baru yang belum kenyang pengalaman, dia merasa berat ketika Pak Danutirto, kepala sekolah sebelumnya, menunjuk Musa untuk menerima tongkat jabatan sebagai kepala sekolah yang baru. Musa yang dianggap Pak Danutirto sebagai sosok yang berdisiplin tinggi dan penuh tanggungjawab dalam mengemban tugas dianggap paling cocok untuk menggantikan Pak Danutirto yang harus pensiun.

Padahal, jika melihat peta senioritas, masih ada sosok Pak Sarkowi, guru yang umur dan pengalamannya lebih tinggi dari Musa. Namun, Pak Danutirto mempunyai pandangan lain, maka dia tetap memilih Musa untuk menggantikannya. Karuan saja, keputusan sang kepala sekolah menjadikan iri hati Pak Sarkowi. Sebagai guru paling senior di sekolah yang sekelilingnya daerah pertambakan itu, dia merasa dilecehkan. Sejak Musa diangkat sebagai kepala sekolah baru, api kecemburuan Pak Sarkowi makin membesar. Dia mengannggap Musa anak kemarin sore yang tak pantas menjadi kepala sekolah.

Dalam tiap rapat guru yang dipimpin Musa, Pak Sarkowi selalu mencari alasan untuk enggan menghadiri. Dalam tiap kesempatan bertemu para guru yang lain, Pak Sarkowi selalu menghembuskan api permusuhan pada Musa, sang kepala sekolah. Puncaknya, ketika Musa menolak pengajuan KPN (Koperasi Pegawai Negara) yang diajukannya Pak Sarkowi. Bukan tanpa alasan Musa menolak permintaan tersebut. Menurut Musa, gaji guru yang tak seberapa, lalu banyak potongan, maka guru dikhawatirkan banyak mencari obyekan di luar. Para murid pun yang menjadi korban. Namun, karena sudah diliputi rasa kebencian, kebaikan yang disampaikan Musa tak berarti apa-apa dihadapan Pak Sarkowi.

Lain fragmen, Musa juga berhadapan dengan Bu Eni, guru pindahan dari SDN Alun-alun, sekolah yang berada di kawasan kota. Keinginan awalnya menjadi pegawai kantoran tak kesampaian karena Bapaknya menginginkan dirinya untuk jadi guru. Akibatnya pun bisa ditebak, dia banyak melamun ketika berada di kelas. Raganya berada di depan murid-muridnya, tapi pikirannya melanglangbuana kemana-mana. Penampilannya pun tak seperti kebanyakan guru pada umumnya. Jika digambarkan, sosoknya seperti etalase berjalan. Kegemarannya membaca majalah mode ibukota menuntutnya untuk selalu ikut tren. Gaya hidup dan cara berpakaian pun lebih banyak berkiblat pada majalah mode tersebut.

Ketika para guru pada saat itu paling mentok memakai sepeda pancal, Bu Eni nekat ingin memiliki motor. Setelah pengajuan KPN-nya tak disetujui kepala sekolah, dia memutar otak. Di dekatinya kepala sekolahnya dulu di SDN Alun-alun yang juga adik dari bapaknya itu untuk bisa pinjam KPN. Akhirnya dia menjadi guru pertama di sekolah itu yang memakai motor. Selain bekerja sampingan sebagai pedagang kosmetik pada para ibu-ibu, lama-lama ia juga menjadi joki dalam meloloskan murid-murid SD ke SMP negeri. Bu Eni dikenal mempunyai banyak channel pada orang dalam SMP. Tentu, untuk urusan tersebut tidak gratis, alias pasang tarif. Sebagai kepala sekolah, Musa tak ingin praktik ketidakjujuran tersebut tumbuh subur. Baginya, menuntut ilmu harus diperoleh dengan jalan kebaikan, bukan dengan sogokan.

Mulailah dia menjalani “jihad” memberantas kemungkaran yang terjadi di depannya dengan tangan (kekuasaan sebagai kepala sekolah). Bukan dengan jalan kekerasan, namun dengan cara yang moderat dan elegan, yakni mendatangkan sosok Ustadz. Cara tersebut rupanya ampuh ketika Ustadz tersebut memberikan nasehat pada para walimurid kelas 6 agar tak menggunakan cara-cara haram dalam memuluskan jalan anaknya untuk menuntut ilmu. Walimurid akhirnya lebih banyak menggunakan jalan legal. Musa lega, praktik kotor “bawah meja” tak terulang.

Novel besutan Awang Surya ini merupakan novel persembahan untuk “Musa” Mudjib Sholeh yang tak lain adalah guru, kepala sekolah dan bapaknya. Satu pesan kuat dalam novel ini, jika kita menempuh jalan kebenaran, akan selalu mendapat perlawanan dan hambatan dari setan. Musa tak ingin para guru menjadi sosok konsumtif, sehingga gajinya tak menjadi berkah bagi keluarganya. Dia juga tak ingin cara-cara kotor dilalui, hanya karena keyakinan yang kurang pada keberhasilan. Musa selalu ingat pada nasehat Haji Husin, kakaknya yang juga anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan, ketika sakit dia menyempatkan untuk menguatkan hati Musa.

“Kalau sekarang ini kamu mengajak anak buahmu hidup bener, tapi mereka menolak, itu tanda perbuatanmu benar. Jangan ragu…, hadapi! Insya Allah pertolongan Allah akan datang tepat pada waktunya.”
Judul : Pak Guru
Penulis: Awang Surya 
Penerbit: Ersa-Jakarta (2014)


PENULIS: Awang Surya

28 April 2015

Dari Remang-remang Menuju Cerah Berseri-seri

Perawakannya biasa, tanpa jubah, tak berjenggot panjang pula. Tapi, kiprahnya tak kalah dengan para “pasukan jubah putih”. Jika mereka (para pasukan jubah putih) berkoar atas nama Tuhan, membawa “pentungan”, mengobrak-abrik lahan kemaksiatan. Apa yang dilakukan M. Arif’an (41) berbeda 180’. Dalam berdakwah dia tak sekadar “bersenjata golok”.

Baginya dakwah adalah jalan kebenaran yang harus ditempuh dengan cara yang terbaik. “Dakwah itu mengajak dan merangkul, bukan menakut-nakuti lantas membuat lari,” tambah pria yang menjadi ketua PCM Krembangan itu.

Ketika hadir dalam Pelatihan Ideopolitor di Graha Umsida, Sabtu-Ahad (25-26/4), pria yang menamatkan gelar sarjananya di Unmuh Surabaya itu menggambarkan lika-likunya dalam dakwah lokalisasi. “Saya tinggal di lingkungan prostitusi, jadi saya tahu betapa kelamnya para wanita yang menggantungkan hidupnya pada “lembah hitam” tersebut,”tukasnya.

Tekad dan keinginannya yang kuat, tak lantas menjadikan jalan dakwahnya lurus tak berpenghalang. Pernah suatu hari dia diprotes ibu-ibu Aisyiyah karena para bapak diajak bertabligh di wisma-wisma. Namun, beragam penolakan yang datang dari Ibu-ibu ‘Aisyiyah maupun dari warga Muhammadiyah sendiri tak menyurutkan tekadnya untuk tetap melanjutkan gagasan besarnya tersebut. “Karena dakwah sesungguhnya tak berhenti pada masjid, musala, atau tempat-tempat “nyaman” lainnya,”imbuh Bapak dua anak itu menambahkan.

Tekadnya semakin membulat ketika dirinya terpilih menjadi ketua pada Musycam PCM Krembangan. Sebagai pimpinan persyarikatan pada taraf cabang, dia tak segan mengganti para pimpinan ranting yang jarang berjamaah di masjid dan musala. “Ketika kita dipilih menjadi pimpinan, apalagi dalam organisasi besar seperti Muhammadiyah, maka pada saat itu kita menjadi teladan bagi masyarakat,”ungkapnya. Dia menambahkan sebagai pimpinan persyarikatan dalam apapun kapasitasnya, setidaknya punya kriteria 4-er, pinter, bener, kober, dan . “Pimpinan Muhammadiyah ibaratnya bekerja pada perusahaan Allah. Jangan pernah jadikan sampingan, harus sungguh-sungguh mengelolanya,”lanjutnya dengan nada serius.

Perjuangannya setidaknya membuahkan hasil, ketika banyak perusahaan yang menyalurkan dana CSR-nya pada PCM Krembangan. Beberapa perusahaan itu bahkan tak segan memberikan berapapun dana yang diminta untuk bisa memberdayakan para pekerja PSK agar mandiri dan mentas dari “lembah hitam”.

Namun, bukannya tanpa halangan perjuangan yang dirintisnya. Banyak ancaman dan teror datang, terutama dari para preman yang tidak ingin “lahan basahnya” berpindah atau menghilang. “Saya pernah dikalungi (lehernya dilingkari) pedang oleh salah seorang preman. Beberapa saudara juga lari menjauh dari saya karena merasa tidak aman,”kenangnya. Namun, pada akhirnya, ketika seseorang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya. Dukungan yang diterimanya pun semakin banyak, hal itu terlihat ketika PDM dan Aisyiyah lambat laun menyambut gagasannya. Walikota Tri Rismaharini pun turut membantu ketika lokalisasi yang berada di Dupak Bangunsari dan Kremil itu dicanangkan untuk ditutup.

Para peserta tampak tak beranjak sedikitpun dari tempat duduk, antusiasme berlanjut ketika pada sesi tanya jawab, para peserta ingin tahu bagaimana kiat perjuangannya Rif’an dalam mengembangkan cabang dan ranting lebih lanjut. Pada akhir sesi, narasumber bahkan “ditahan” oleh para peserta karena rasa ingin tahunya yang masih tinggi.  

Pelatihan ideopolitor diselenggarakan Majelis Pendidikan Kader (MPK) PDM Sidoarjo, yang bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR), turut juga mengundang perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Sidoarjo. Selain memberikan penguatan akan pentingnya ideologi Muhammadiyah dalam gerakan dan organisasi, panitia yang didominasi para Pemuda Muhammadiyah Daerah Sidoarjo itu juga menghadirkan ketua fraksi PAN Kabupaten, yang memberikan wacana perpolitikan di kota delta.

Sehari sebelumnya acara tersebut dibuka ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo Ustadz Dzul Himam, Lc. Pada kesempatan yang sama ketua MPK dan kepala SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo Drs. Aunur Rofiq hadir saat sesi penguatan cabang dan ranting. Setelahnya rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Drs. Hidayatulloh, M.Si., memberikan percik inspirasi ideologi Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan yang melintas zaman. Dalam ceramahnya, Pak Dayat mengingatkan bila setiap perubahan yang dilakukan Muhammadiyah berkat para tokohnyayang berani mendobrak kemapanan. Contoh misalnya KH. Ahmad Dahlan, dengan keberaniannya mengubah arah kiblat masjid Agung Kauman yang sejak lama salah. Juga ada Pak AR Fachruddin, dengan kemampuan komunikasinya yang baik pada Presiden saat itu, menjadikan Muhammadiyah lebih besar dan berkembang. Selain itu ada Pak Amien Rais, sang lokomotif reformasi, menggulingkan rezim yang sudah 32 tahun berdiri. Kini, ada Pak Din Syamsuddin yang menabuh genderang jihad konstitusi.

Jangan pernah berhenti Mujahid-mujahid Muhammadiyah, jadikan negeri ini tercerahkan oleh langkah dakwahmu..

Trawas-Jasem, 280415
Dalam Dekapan CintaNya


SEMANGAT: Sebagian Peserta dan Panitia Mengabadikan Momen*
foto: fesbuk Abi Nurbian

22 April 2015

Sekuler

Api Tauhid, novel terbaru Habiburahman El Shirazy tak hanya mengulas bagaimana rona kisah cinta antara Fahmi dan Nuzula. Disamping roman tersebut, penulis yang akrab disapa Kang Abik itu menceritakan pula kisah perjuangan seorang pahlawan akidah, dialah Badiuzzaman Said Nursi.

Bisa dibilang, Said Nursi merupakan ulama lintas zaman. Ia lahir ketika Khilafah Utsmani masih kokoh berdiri. Ketika masa Sultan Abdul Hamid yang amanah menjalankan sistem khilafah, Said Nursi ingin memberi masukan pada kebijakan yang diambil Sultan. Ketika itu, tidak sedikit warga Turki yang mulai banyak “terkontaminasi” dengan gaya hidup barat. Maklum, Turki adalah negara dua benua, Eropa dan Asia. Masukan dari Said Nursi hampir saja dijalankan, namun sayang, “rongrongan” dari luar rupanya banyak menggoyahkan keteguhan Sultan, dimana saat itu kekuatan Ottoman sudah mulai berkurang.

Menjelang kekhilafahan Utsmani runtuh, kobar perjuangan Said Nursi belum padam. Bahkan ketika tampuk kekuasaan bertransisi ke arah sekuler, dimana pelajaran agama dihapus, para ulama diberangus, sampai pada hal lafadz adzan pun diganti dengan bahasa Turki, Said Nursi tak berdiam diri. Saat fatwa para ulama dibungkam menurut hawa nafsu pemerintah, Said Nursi enggan menerima. Baginya, harum Islam harus tetap disebar, jangan karena rendah diri, nama Islam kemudian dikucilkan dari peradaban. Paham sekuler merupakan ideologi yang memisahkan ranah agama dengan dunia. Bagi penganut sekularisme, membawa-bawa agama hanya akan membawa masalah. “Jauhkan agama dari tempat umum, masukkan dia ke ruang privat,” kata mereka.

Gaung pengaruh sekuler rupanya terendus sampai Indonesia. Peran Islam dalam sejarah kemerdekaan tak banyak ditampilkan. Buku-buku sejarah yang seharusnya menyajikan fakta sejarah yang sebenarnya tertutupi beragam kepentingan sentimen agama. Nama-nama ulama dan pejuang Islam mendapat porsi lebih sedikit dalam materi sejarah di sekolah. Akibatnya pun bisa ditebak. Generasi muda Indonesia lebih mengenal Kartini daripada Nyai Walidah. Mereka kurang familiar dengan Dewi Sartika dan Rohana Kudus. Mereka lebih senang Kartinian daripada Cut Nyak Dien-an, atau Malahayatian. Impact-nya lebih jauh bisa ditebak, ghirrah—semangat dalam beragamanya tidak lagi militan. Fanatiklah pada klub sepak bola, pada bintang korea, jangan fanatik beragama. “Agama hanyalah candu,”kata Nietzche.

Jika sudah demikian, apa yang dikhawatirkan dari virus sekularisme akan menjadi kenyataan. Mereka—para generasi muda, akan memberikan disparitas antara ilmu agama dan ilmu dunia. Ilmu dunia akan diposisikan pada masalah dunia, ilmu agama akan ditempatkan pada ranah akhirat. Mereka akan sulit menangkap dan membaca “ayat-ayat tersirat”.  

Tak salah ketika di dalam kelas, seorang guru Penjasorkes dalam mengawali materi lompat jauhnya, memberikan pemahaman pada seluruh murid betapa pentingnya mengungkap fakta sejarah yang lurus. Guru tersebut menyampaikan argumen, bila di masa Kartini hidup, banyak nama-nama pejuang wanita yang tak kalah gigih berkorban demi pemberdayaan dan kemerdekaan.

Namun sayang, upaya sang guru belum bisa ditangkap salah seorang murid. Dalam sebuah diskusi, murid tadi bertanya pada sang guru; “apa hubungannya Kartini dengan Olahraga?” Guru tersebut hanya bergumam dalam hati,”banyak-banyaklah membaca, Nak, kau akan tahu sendiri.” Kendati di bagian hatinya yang lain dia ingin berucap lirih,”di Jepara itu ada Stadion Sepak Bola yang bernama Gelora Bumi Kartini.”

Porong, 220415
Ketika Mayantara membawa Imajinasi Nyata



*gambar:http://opinion.bdnews24.com/

Bermuhammadiyahlah, Bergeraklah!

“Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku”

Semboyan diatas bukan sembarang semboyan. Jargon yang populer di kalangan warga persyarikatan tersebut rupanya menjadi semacam parameter; “bermuhammadiyahlah, maka dirimu akan bergerak!”

Ibarat air, ketika diam menggenang maka akan menjadi sarang penyakit. Berbeda ketika air tersebut mengalir, tiap lekukan batu, sawah, dan sungai menjadi hidup karena air yang mengalir. Maka menjadi warga Muhammadiyah dalam apapun kapasitasnya, kewajiban bergerak, mengalir seperti air, sudah saatnya menjadi keharusan.  

Gerakan Muhammadiyah adalah amar ma’ruf nahi munkar, menyuruh dalam kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Dalam tataran praktis, ketika ada “lahan” untuk berbuat ma’ruf, maka ada kewajiban untuk menjalankan dakwah ma’ruf di sana. Contoh kecilnya, ketika di sekeliling tempat tinggal banyak anak-anak kecil dan remaja, bahkan orangtua yang kurang bisa atau belum lancar membaca Al-Quran, ada rasa keterpanggilan kita untuk mengajarinya. Lebih-lebih ketika kita menggerakkan teman-teman sejawat untuk mendirikan TPQ atau taman belajar Al-Quran. Demikian pula, jika ada tetangga yang kekurangan dalam hal materi. Sebagai warga Muhammadiyah, yang selalu berpedoman tajdid, maka tak cukup dengan memberi “ikan”, harus “kail”, agar kemandirian bisa tercapai.

Mencegah pada yang munkar idealnya menjadi pedoman bagi seluruh elemen warga Persyarikatan. Tentunya, tetap dalam koridor cara yang terbaik. Jika sudah demikian, diperlukan semacam kreatifitas dalam dakwah. Dakwah tak lagi terbatas hanya dalam tataran ceramah. Bukan pula, atas nama dakwah, cara-cara kekerasan dilegalkan. Jika ingin menjadi warga persyarikatan yang baik, terus meneruslah belajar, agar dapat mengurusi Muhammadiyah, bukan malah sebaliknya: menjadi obyek yang harus diurusi Muhammadiyah.

Muhammadiyah di tahun ini sudah berumur 103 M/106 H. Usia yang layak dikatakan matang, bahkan sangat matang. Tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks. Satu abad lebih usia Muhammadiyah seperti sepotong kue besar, yang diperebutkan banyak orang.
Atas nama organisasi, tak jarang banyak oknum yang memperkaya diri. Dengan dalih meraup banyak suara, nama Muhammadiyah dijual murah. Atas nama kekuasaan dan jabatan, lagi-lagi kebesaran Muhammadiyah digadaikan. Ketika sudah menjabat, nama Muhammadiyah ditanggalkan. Beragam alasan diungkapkan.

Bermuhammadiyahlah, maka dirimu akan bergerak!

Lebih dari itu, Muhammadiyah adalah satu  gerakan yang dilandasi semangat dakwah. Dalam pendidikan harus ada nafas Islam pada tiap hembusannya. Dalam ranah politik, cita-cita “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” selayaknya menggantikan orientasi “kursi” dan materi. Jangan kemudian lalai, lantas menjadi semacam “buih yang terombang-ambing di lautan”. Adakah indikasi kesana? Sedikitnya jumlah Ulama Muhammadiyah saat ini, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Wallahua'lamu bisshawwab.

Porong, 220415
Saat Kultum Pak Anang pada Briefing Pagi Menginspirasi



 *gambar: muhammaddaradjat1962.files.wordpress.com

20 April 2015

Teacher’s Blogger

Menjadi guru pada era kekinian dituntut update perkembangan teknologi. Hal tersebut wajar, ketika daya tangkap dan nalar anak-anak zaman sekarang bisa dikatakan lebih unggul dari masa kanak-kanak tempo dulu. Memang ada gap yang cukup kentara antara sekolah pinggiran dan sekolah perkotaan, baik dari segi bangunan, fasilitas, sumber daya guru pengajar, maupun teknologi yang sedang berkembang.

Namun, seorang pendidik harusnya memegang prinsip "dimanapun tempat kita mendidik dan mengajar, kita harus siap!" Mereka yang mengabdi di pinggiran, rasa syukur itu harus tetap dijaga dan dipelihara. Jangan sampai keterbatasan mematikan kreativitas. Bagaimanapun juga, menjadi guru sekolah pinggiran memberikan kesempatan menularkan teladan keikhlasan di tengah keterbatasan. Teladan yang dicampur bumbu ikhlas akan memberikan dampak luar biasa bagi masa depan para anak didik. Guru tersebut akan memberikan "warna" yang akan selalu melekat hingga dewasa kelak. Sama halnya dengan mereka yang sekarang mengajar di sekolah perkotaan, kiranya wajib mensyukuri. Kemudahan aksesibilitas diantara kesibukan sudah waktunya dinikmati, bukan diratapi.

Musasi, merupakan akronim dari SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Sekolah yang letaknya tak jauh dari pusat kota delta itu tak lagi mengalami keterbatasan dalam fasilitas dan teknologi seperti yang banyak dialami sekolah-sekolah lain. Jika ruang kelas sekolah lain—dalam artian sekolah swasta yang setara—untuk fasilitas semacam LCD saja belum tentu lengkap, maka sekolah yang terletak di Jalan KH, Samanhudi itu malah bisa dikatakan wah. Lihat saja sarana kantin sekolah dan Lab IPA-nya yang cukup mewah, belum lagi fasilitas “sinar” wifi yang berpendar dimana-mana (terutama ruang guru-red). Maka tak salah bila sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 60-an itu terpilih menjadi salah satu sekolah yang menjadi pilot project pengembangan teknologi dari Google Indonesia.

Sudah beberapa kali tim Google memberikan pelatihan pada para warga sekolah, khususnya para guru. Tujuannya jelas, untuk memberikan alternatif media pembelajaran yang tidak hanya terpaku di dalam ruang kelas. Menjadi sekolah percontohan juga memberikan keberkahan. Salah keuntungannya adalah fasilitas ruang penyimpanan Gmail yang sampai 30 gigabyte (GB). Dan itu diberikan cuma-cuma pada seluruh warga Musasi. Maka jangan heran sekarang para guru, karyawan, dan siswa menggunakan akun Gmail dengan domain @smpm1sda.sch,id, bukan lagi memakai @gmail.com yang “hanya” berkapasitas 15 GB. 

Untuk menunjang sekolah berbudaya, baik teknologi maupun literasi, maka sekolah mengadakan lomba blog bagi para guru dan karyawan Musasi. Bagi guru yang sudah memiliki blog tinggal meneruskan saja catatan-catatannya. Sedangkan bagi mereka yang belum, maka hukumnya wajib untuk membuat dan berpartisipasi. Sabtu lalu (18/4) pimpinan sekolah yang dikomandoi Waka Sarana dan Prasana Edy Prawoto mengadakan pelatihan dan tanya interaktif tentang blog. Sejak pagi, ruang guru dipenuhi hampir seluruh peserta pelatihan yang terdiri dari Guru dan Karyawan. Mereka dengan mimik serius mendengar dan mengikuti arahan dari guru multitalent pemilik blog laci guru tersebut. .

Awalnya Pak Edy memberikan tutorial membuat blog baru dengan menggunakan blogspot. Setelah blog dibuat, para peserta diminta untuk menuliskan catatan atau fotonya di halaman entri . Setelah itu para peserta "digiring" untuk menghias blog dengan beragam widget, baik yang bersifat bawaan dari blogger maupun tambahan dari pihak ketiga. “Salah satu widget bawaan adalah tautan, di dalamnya dapat ditambahkan link dari blog guru atau siapapun yang sudah membuat blog” kata Pak Edy disambut antusia para peserta. 

Beberapa peserta yang belum punya blog tampak begitu bersemangat. Dengan sabar Pak Edy mengajari dan memberikan penjelasan bagi yang masih bingung. Bagi mereka yang sudah mempunyai blog, pelatihan tersebut tak ubahnya ajang berbagi pengalaman dalam mengelola dan menghias blog untuk agar terlihat semakin memikat. 

Blog “Singbaurekso” besutan kepala perpustakaan Kholifah Nurdiana adalah salah satu yang "beringas". Dibuat singbaurekso Musasi dua puluh tahun itu secara mandiri. Bayangkan, untuk ukuran usia Bu Khol yang diatas kepala lima, namun semangatnya tak kalah dengan yang baru beranjak remaja, (hehe..). Blog itu dibuat sedikit demi sedikit di sela-sela aktivitas beliau mengurus perpus. Blog yang penuh dengan ulasan-ulasan buku yang ada di perpustakaan Musasi itu sejatinya ingin diubah tampilannya agar lebih hidup dan menarik. Sayang, bawaan template yang tak bisa diutak-atik membuat keinginannya menambahkan slide foto pada postingan harus tertunda. Blognya pun sementara hanya berhias slide foto di bilah samping serta sedikit modifikasi pada kursor. 

Lain "Singbaurekso" lain pula "Alis Baja", nama blog dari Waka Ismuba Moch. Mughir. Meskipun menggunakan template biasa, namun konten di dalamnya indah tiada terkira. Blog Pak Mughir, berisi banyak foto kegiatan, guru dan karyawan, juga tak ketinggalan materi pelajaran agama Islam, terutama Ke-Muhammadiyahan. Maklum, pria yang sekaligus mengemban amanah sebagai Waka Humas tersebut juga mengampu Al Islam, mata pelajaran khas di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Tak lupa, Pak Mughir juga menambahkan Al Quran digital di blognya, wah..wah..super!

Tanpa terasa dua jam lebih waktu pelatihan terlewati. Pak Edy akhirnya menutup sesi dengan memberikan polling blog yang penilaiannya diberikan batas sampai akhir Mei 2015.
Teacher’s Blogger..Yes, We Are!


Jasem 200415 at Teacher’s Room Musasi
*gambar http://cdn.teachhub.com/