Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

23 March 2015

Alumni Graha Pena

Sabtu lalu (21/3) ada acara bedah buku. Informasi awal yang sehari sebelumnya di fesbuk, kemudian tersebar di grup-grup WA dan beberapa kontak yang ada. Ada salah satu teman yang bertanya: “Pematerinya TOP ga?” tanyanya. “TOP, wartawan JP!” jawabku.

Eko Prasetyo, ‘eks’ kuli tinta surat kabar nomor wahid di ujung timur pulau Jawa itu memang sudah hadir. Ya, ketika perjalanan puluhan kilo dari Porong hingga Taman Bungkul, saat kaki sudah melangkah masuk ke TKP, menjadi semacam reuni yang tak disengaja.

Saya agak menjaga perasaan, agar ga sok kenal, ataupun sok dekat (meskipun faktanya, saya dan mas Eko dulu sama-sama sering ketemu, namun belum saling kenal). Maklum, ketika masih di Graha Pena, saya dan beberapa kawan se-profesi dituntut untuk tetap menjaga ‘marwah’ korps, agar tetap disegani dan dihormati (waduh kaya apa aja, hehe..). Yang jelas, ketika dulu masih sama-sama ‘mencangkul dollar’ di gedung dua puluh satu lantai itu, kami sering bersua, entah itu di musala lantai dua, pujasera, atau di kantor awak redaksi yang bercokol di lantai empat.

Dari beberapa media cetak, saya menjadi lebih penasaran dengan sosoknya. Di majalah Unesa, tulisannya yang menyoal istilah olahraga kerap nongol. Di kolom citizen reporter surat kabar ‘seribuan’ , tulisannya bejibun serta melimpah ruah. Rasa penasaran saya kemudian bermuara pada blognya. Dari sana, sedikit banyak saya mulai mengenal alumnus FBS IKIP Surabaya itu (sekarang Unesa-red).  

Karena tempat acaranya di Bina Qolam, yang notabene merupakan ‘sarang’ penulis-penulis yang dekat dengan nama ISID Gontor, MIUMI, INSIST, Hidayatulloh. Saya kemudian bertanya-tanya, apa korelasinya dengan narasumber yang  jelas-jelas merupakan wartawan surat kabar yang bisa dikatakan ‘sekuler’ itu?

Pertanyaan dan rasa penasaran saya kemudian sedikit demi sedikit terjawab, ketika sang narasumber menghampiri saya dan bertanya.

 “Mas..sebentar mas, saya koq pernah melihat sampeyan. Koq ga asing wajahnya?”

Saya yang cengar-cengir kemudian mengangguk,
“Iya mas, saya dulu di Graha Pena..”

“Lho..ya ga salah kan. Makanya saya tadi koq mikir terus. Koq kayanya pernah lihat ya. Sekarang dimana? Tanya beliau.

“Di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, mas..”

Dari percakapan awal tersebut, tabir yang sebelumnya melingkupi saya sedikit demi sedikit akhirnya terbuka.

 “Iya mas, alhamdulillah, saya sudah resign dari JP. Saya diingatkan Allah, jika fitrah tubuh manusia itu tidak didesain untuk beraktivitas malam. Kerja liver itu bagus-bagusnya pukul 2-3 dini hari. Nah, bayangkan pada waktu-waktu itu saya masih berkutat di kantor, sering malahan masih dikejar deadline.


Ah, mas Eko, mendengar ceritanya saya jadi berpikir, sebegitu kerasnya kerja seorang editor yang merangkap sebagai jurnalis. Saya yang dulu sering ketemu, lebih banyak berprasangka “betapa mudah kerja mereka”. Astaghfirullah.

Oia, acara bedah buku karangannya yang berjudul: “Jangan Cuma Pintar Menulis! Cara Dahsyat Menjadi Penulis Kreatif dan Produktif” banyak berkisah tentang proses kreatif dalam pembuatan buku tersebut.

Mas Eko menjelaskan, dalam membuat buku ada proses kreatif. Dimana ada tahapan-tahapannya. Seperti yang dicontohkannya. Di saat dulu masih menjadi mahasiswa Unesa, dia ditantang oleh salah seorang dosennya yang berkata lantang pada para mahasiswa:“Siapa yang tulisannya bisa tembus koran, tidak usah ikut ujian, langsung dapat nilai A!”

Maka, banyak usaha yang dilakukannya. Mulai mengirim surat pembaca, puisi, cerpen, hingga sampai pada tahap menyusun sebuah buku. “Yang pasti, jangan menulis sesuatu yang tidak kita kuasai” ujar beliau mewanti-wanti.

Menurutnya konsep yang dibutuhkan penulis itu ada empat. “Yang pertama adalah kemampuan bertanya secara kritis. Kemudian konsep dan pengetahuan. Ketiga adalah kemampuan menganalisis, dan yang terakhir mampu mengorganisasi pemikiran,”jelasnya.

Pada akhir sesi acara, ketika saya memberitahu pada mas Pras (panggilan Eko Prasetyo-red), amanah kepala Perpustakaan SMP Musasi, agar dalam setiap beli buku ada tanda tangan penulisnya, mas Eko tersenyum dan segera menandatangani buku karyanya tersebut. Sembari menandatangani buku, saya kemudian berbisik,

“Mas Eko, nanti kapan-kapan saya mau bertanya banyak tentang dunia literasi pada sampeyan, mas.”

“Ok, siap mas. Sebagai sesama alumni Graha Pena, saya siap kapanpun.”jawab beliau sambil mengacungkan jari jempol.

Saya pun bersegera mengambil Samsung dari saku celana, menyentuh layar, kemudian mengulang beberapa angka-angka yang disebutkannya. *

Porong, 23 Maret 2015
Saat Ghirah Menulis Memyskat


4 February 2015

QUIZ, BOLA BASKET!

Assalamu'alaikum..

Next generation Musasi, Setelah menerima informasi sulitnya membuka link tugas Penjas , ternyata ada sedikit kesalahan pada pengaturan. Alhamdulillah kemarin, setelah berkonsultasi dengan Pak Edi, insya Allah link tersebut sudah bisa dibuka.


Untuk soal masih sama dengan kemarin yakni 10 (sepuluh) dengan jenis soal PILIHAN GANDA, tinggal pilih SATU diantara beberapa pilihan jawaban yang tersedia. Ok!

"Bagaimana cara mengerjakannya, Pak?"
Tenang, cukup kalian klik link di bawah ini:

http://goo.gl/forms/tbqbMtZKP7

Selesai mengerjakan, klik SUBMIT pada kolom yang paling bawah. Dan jangan lupa tulis nama dan kelas kalian masing-masing ya..

Jika ada yang kurang jelas, bisa langsung ke Ruang guru atau Perpus. Selamat Mengerjakan :)

sumber:https://lh6.googleusercontent.com


18 January 2015

Batu dan Air

Saya teringat dengan Bu Eri Hidayati, Guru Pendidikan Agama Islam ketika masih berseragam putih biru. Bu Eri, begitu panggilan anak-anak pada beliau, dalam menyampaikan materi tentang agama Islam selalu diselingi dengan nasehat bijak. Ketika beranjak dewasa, saya baru menyadari betapa beruntungnya saya mendengar tutur kata penuh hikmah dari Guru kami yang asli Sumatera itu.

Salah satu pesan dari beliau yang hingga kini masih terngiang adalah batu dan air. Dua perbandingan yang sering  diberikan pada kami, anak-anak SMP dengan segala keunikannya.

“Belajar di masa muda, bagai menulis diatas batu. Belajar di masa tua, bagai melukis diatas air.”

26 December 2014

Perjalanan Qalbi

Perjalanan Porong-Lawang pada Kamis (25/12) siang itu ternyata banyak menyita tenaga dan waktu. Bayangkan, jarak yang biasa ditempuh hanya dalam waktu normal 2 x 30 menit (dengan mengesampingkan berhenti mengisi bahan bakar dan duduk sebentar di warung pinggir jalan-red), kali ini bisa memakan waktu sampai hampir dua jam lebih. Faktor klasik; kemacetan, masih menjadi aktor utama terhambatnya perjalanan.

24 December 2014

Membajak Einstein

Eits, tunggu dulu. Bukan bermaksud membuat bingung dengan hadirnya judul. Tapi memang, bila dikaitkan dengan rumus dari Einsten; E=Mc2, bolehlah kita katakan‘sah’ :)

Sepekan yang lalu, tepatnya tanggal 16-19 Desember 2014, sekolah kami, SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo mengadakan kegiatan. Lembaga pendidikan yang terkenal dengan akronim Musasi tersebut mengadakan acara untuk mengisi kekosongan waktu usai ujian akhir semester (UAS). Sepekan sebelumnya, saya dipanggil Bu Eni untuk menghadap.

Bila siswa yang menghadap Bu Eni, biasanya ada dua pilihan; mau mengikuti lomba atau ada urusan kedisiplinan. Tapi, berhubung status saya yang bukan lagi siswa, kedatangan saya di depan meja kesiswaan tersebut untuk menerima sebuah amanah.

Amanah itu adalah menjadi ketua penyelenggara. Awalnya saya begitu berat. Maklum, ada beberapa amanah lain yang belum bisa saya tunaikan. Nah, ini malah ketambahan amanah baru. Jangan-jangan malah entar ga bisa mengemban amanah dengan baik. Stempel “orang-orang yang tak amanah” bakal jadi label baru nanti.

Kekhawatiran tersebut akhirnya saya kikis sendiri dengan menguatkan komitmen. Maklum, kultur di Muhammadiyah adalah tidak mencari jabatan/ posisi. Tapi. Bila diberi amanah tak boleh menolak. Saya kemudian teringat kata-kata Pak Syafigh A. Mughni, ketua PP Muhammadiyah yang berdomisili di Sidoarjo.

Mantan rektor Umsida kelahiran Lamongan itu pernah ditanya perihal kesiapannya untuk maju dalam Muktamar Muhammadiyah 2015 di Makassar. Apa jawab beliau? Ternyata, untuk orang sekelas Pak Syafigh, beliau menjawab dengan penuh ketawadhu’an. “Saya akan maju bila tidak ada calon lain yang mencalonkan”, begitu jawab beliau.

Meneladani sikap Pak Syafigh diatas, maka tawaran pun kusambut dengan Bismillah. Beda kultur antara pendidikan sekolah dengan kuliah rupanya cukup terasa. Hal itu terlihat dari komposisi panitia. Menjadi ketua dengan durasi menjadi warga sekolah yang baru beberapa bulan merupakan tantangan tersendiri. Bagaimanapun, para guru senior yang berada di lingkungan sekolah juga masuk dalam koordinator lomban serta juri.

Melihat hal tersebut dan atas saran dari pengarah dan kawan-kawan yang baru. Akhirnya, kami pun bersegera membentuk konsep kegiatan. Dari latar lomba antar kelas yang biasa disebut dengan class meeting. Maka kemudian kami comot rumus Einsten agar lebih familiar. Ya, kegiatan tersebut bernama Mc2, atau “Musasi Class Meeting Championship 2K14”.

Penggunaan 2K14 menandakan tahun penyelenggaraan, seperti yang biasa kita lihat di even-even anak muda kebanyakan. Setelah nama kegiatan sudah terbuat. Kemudian saya banyak melakukan konsultasi dengan Bu Eni, yang sekaligus menjadi ketua pengarah. Dari diskusi dengan beliau, akhirnya diputuskanlah kegiatan Mc2 dibagi menjadi dua kategor lomba; olahraga dan seni. Dari olahraga ada lomba lari sprint 100 meter, sepak bola mini, badminton, tenis meja dan catur. 

Penampilan Musikalisasi Puisi
Sementara dalam bidang seni ada lomba membaca puisi, story telling, dan musikalisasi puisi. Selain untuk para siswa, even Mc2 kali ini turut melombakan lomba untuk guru dan karyawan. Untuk guru dan karyawan putra ada lomba sepak bola mini, sementara untuk guru-karyawan putri ada lomba bola voli.

Kegiatan yang berlangsung empat hari tersebut dipamungkasi dengan jalan sehat dan bazaar dari IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). Selain itu, di hari terakhir ada pembagian doorprize jalan sehat dan pembagian hadiah para pemenang lomba, serta tak ketinggalan request lomba dari kepala sekolah; senam.

Dari kegiatan Musasi Class Meeting Championship 2K14 tersebut, saya pribadi banyak menimba ilmu dari rekan-rekan guru yang membantu. Mulai dari persiapan lomba yang kurang sehari kita dikejar waktu. Saya masih ingat hari Senin (sehari sebelum lomba dimulai. Dari pagi hingga malam, saya, pak Heri, Pak Qoisul, Pak Huda, dan Mas Farid menginap di sekolahan. Karena pagi kami masih menjalanakan amanah sebagai pengawas UAS. Maka mengurusi lomba dari persiapan hanya bisa dilakukan setelahnya, alias usai UAS rampung.

Juara 1: Bidikan Lensa Daffa Ahmadi 
Rasa ucapan terimakasih juga tak kalah besar kami sampaikan pada Kak Wildan. Guru Ngaji dan Tapak Suci di TPQ Nurul Huda Gedang, yang dipertemukan kembali di SMP Musasi. Saya baru tahu bila beliau sekarang bergelut di dunia ‘printing digital’, dan sangat profesional saat harus diminta cetak banner, spanduk, dan backdrop hanya dalam beberapa jam (meski harus kena wanti-wanti jangan sampai diulangi lagi, hehe..).

Ucapan rasa terimakasih tak kalah tinggi pula untuk sahabat baru saya; Pak Qoisul, yang rela menunda beberapa proyek desainnya, hanya untuk segera menyelesaikan desain banner dkk., pesanan saya untuk lomba. Saya masih belum percaya bila lulusan Unesa bidang seni rupa ini juga pandai ahli dalam hal gerinda, las listrik, hingga menangani sound system. Saya harus banyak belajar dari sosok ayah dua anak ini.

Kurang lengkap rasanya bila tak menyebut Pak Heri. Bagian perlengkapan lomba yang sekaligus menjadi Waka Sarpras sekolah bersama Pak Edy. Sarjana Teknik tersebut, dengan ikhlas mengantarkan kami ke Lamongan untuk mengambil sound system milik Pak Qois malam-malam. Ya, rupanya acara menyetting lapangan sepak bola mini dengan beragam pendukungnya baru bisa kita rampungkan pada pukul 01.00 dini hari. Kami awalnya ragu, mau tidak sosok penghobi fotografi itu mengantar? Kami pun sudah berancang-ancang untuk menyetir mobil sekolah sendiri bila Pak Heri enggan mengantar. Tapi rupanya, dengan bekal minuman energi yang dibelinya di rest area jalan tol, keraguan kami akhirnya tertepis. Tiba di bumi Lamongan kurang lebih pukul tiga pagi. Dan disana, ibunda Pak Qois menyambut ramah kami bertiga. Saya yang agak setengah sadar, tiba-tiba disuguhi dengan teh anget dan indomie goreng. Subhanallah, Alhamdulillah!

Juara 2: Life Style Photo Bidikan Bagas Ajitama
Kami bertiga akhirnya bertolak dari tanah Joko Tingkir tersebut pas adzan subuh. Sejenak kemudian kami berhenti di sebuah masjid untuk menunaikan salat subuh secara berjamaah. Usai salat subuh saya tak bisa menahan kantuk. Pak Qois yang berada di jok tengah rupanya sudah lelah. Tenaganya terkuras setelah malam-malam me-ngelas dan menggerinda plat-plat besi. Dia terlelap. Praktis, hanya tersisa Pak Heri dengan sisa-sisa tenaga  dibelakang kemudi. Awalnya saya tak enak hati membiarkan Pak Heri menyetir sendiri, tapi beliau kemudian berkata; “Dilanjut saja tidurnya, Pak!”

Pagi itu saya tak hanya melihat mentari mengendap memancarkan cahaya cerahnya ke segala penjuru bumi. Tapi pagi itu, saya turut merasakan cahaya-cahaya ketulusan dan keikhlasan yang terpancar dari hati para guru Musasi..

Porong, 24 Desember 2014


Foto-foto Daffa Ahmadi (9A), Bagas Ajitama (8G), dan Alysa Aldrin (7F)


Serius; Para Peserta Lomba Catur
Badminton on Shoot
Ustadz Kifly Tak Mau Ketinggalan
Berlomba-lomba dalam Mini Soccer
Rangkep-rangkep: Penulis Ketika Mewasiti Sepak Bola Mini Guru dan Karyawan