https://goo.gl/forms/RqtMG4Kper3ojFDC2
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
20 August 2018
Tugas Penjas Kelas 7
https://goo.gl/forms/RqtMG4Kper3ojFDC2
13 June 2018
Kayuhan Pedal Sepeda Pak AR Fakhruddin
(* artikel diterbitkan di majalah SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo edisi 5)
![]() |
| Film Perjalanan Hidup Pak AR Fakhruddin (foto: google) |
Mohamed Salah dan Orang-orang Buangan
![]() |
| foto: google |
12 March 2018
Anak Dokter tak Boleh Sakit
Seperti biasa, para siswa dibariskan berjajar rapi sebelum pelajaran dimulai. Materi Penjas saat itu tentang kebugaran jasmani. Setelah berdoa, Pak Darul, yang mengajar Penjas di kelas tersebut mengabsen satu per satu siswa untuk mencatat kehadiran.
Secara bergiliran mereka yang dipanggil namanya mengangkat tangan, Yang tidak hadir biasanya teman-temannya yang lain mengabarkan jika si A sedang izin, sakit, atau menjadi siswa antah berantah alias tanpa keterangan. Tibalah nama salah satu anak dipanggil.
"Fayza.."
"Fayza Arsy Kamila?" Kembali Pak Darul memanggil siswa yang bersangkutan.
"Maaf Pak, Fayza sakit," ujar Ghaida, salah satu kawan karibnya.
"Sakit apa?"
"Hmm, katanya sakit typus, Pak."
"Sudah berapa hari?"
"Sudah hampir satu pekan ini Pak, anaknya ndak masuk." Jawab yang lain.
"Hmm.." Pak Darul lalu menuliskan keterangan "S" di buku kehadiran yang dari tadi berada di tangan kirinya.
Tiba-tiba ada suara menyahut,
"Anaknya dokter koq sakit!" Suara yang berasal dari baris sebelah timur yang berisi para siswa laki-laki itu menghentak suasana. Mereka pun banyak yang tertawa, tersenyum, bahkan mungkin ada yang berpikir: "iya..iya, koq bisa anaknya dokter sakit.
***
Mungkin dalam benak kita, langsung kita jawab, memang sakit, wong manusia. Tapi, pikiran para siswa berbeda, mungkin hanya karena bercanda, yang menganggap anak dokter harus selalu sehat. Tidak boleh sakit,
Seperti judul sebuah buku, "Orang Miskin dilarang Sekolah" atau "Orang Miskin dilarang Sakit,"
Fayza yang merupakan anak dari dr. Tjatur Prijambodo, MKes. Dokter, Ustadz, dan juga seorang direktur Rumah Sakit Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan.
Beliau, saban Kamis malam keempat bergentayangan, eh memberikan kajian kesehatan dari perspektif kedokteran Islam di Masjid At Taqwa SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, tempat kami mengabdi.
Ketika kami bertemu dalam Safari Subuh Musasi Bina Iman dan Taqwa, Pak Dokter tersebut kami ceritakan kejadian lucu tentang tanggapan teman-teman sang anak waktu diabsen tidak masuk karena sakit. Beliau hanya tersenyum. Mungkin dalam benaknya: wong dokter aja pernah sakit, apalagi anaknya. Hehe..
Musasi Library, 120318
11 March 2018
'Banjir Bah' Tulisan Mayantara
Guru virtual kami, Pak Romi Satria Wahono, menulis di blognya terakhir pada Desember 2017. Padahal, di bukunya yang terbit tahun 2009, Pak Romi gencar untuk memprovokasi pada generasi galau untuk terjun dalam jalan perdjoeangan, menulis untuk mengikat ilmu.
Seabrek kegiatan yang kini dilakukan Pak Romi mungkin menjadi hadangan untuk kembali menulis di blog. Blog juga mendapat saingan berat dari fesbuk yang merupakan mini blog, dan juga media sosial lain seperti twitter dan instagram.
Jika sembilan tahun lalu saya baru pertama kali menulis di fesbuk. Tahun 2010, setelah terprovokasi tulisan di buku Pak Romi setahun sebelumnya, saya kemudian belajar ngeblog. Kuliah dan kerja menjadi bumbu penyedap tulisan saya dalam rentang waktu 2010-2014.
2016, saat sudah menjejak ranah pendidikan, tulisan kemudian merambah tataran situs. PWMU.Co menjadi ladang menyemai tulisan selain di fb, blog dan instagram. Karena ranah dakwah yang menjadi core utama situs milik LIK PWM Jatim itu, maka isi kajian yang saya ikuti menjadi branding awal tulisan-tulisan saya di PWMU.Co.
Saya juga sempat mengenal media guru. Akun juga sudah dibuat. Namun, karena lagi-lagi beralibi masalah kesibukan dan manajemen diri yang belum tertata, maka kembali media guru tak seberapa banyak berisi tulisan.
Kini, diantara menyambut amanah-amanah baru yang akan tergenggam. Terselip doa agar tetap istiqamah dalam tiap ketukan tuts keyboard hape atau laptop. Tentunya, harapan untuk memaqamkan menulis sebagai kegiatan produktif yang akan menghasilkan karya tetap membuncah di dada.
Bulu, 110318
![]() |
| gambar: http://anttilepisto.net |
10 December 2017
Membaca Buku agar Hidup 600 Tahun
![]() |
| INSPIRATIF: Buku Saga no Gabai Baachan |
Kisi-kisi dan Soal PAS Gasal Penjas Semester 1 SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo
Alhamdulillah, tuntas sudah perhelatan Penilaian Akhir Semester (PAS) Gasal 2017/2018. Nilai pun sudah disetorkan pada masing-masing walas. Untuk itu, ada review Kisi-kisi dan Soal PAS Penjas. Dengan maksud untuk memudahkan penulis dalam melihat karya yang sudah dibuat. Lebih dari itu, semoga link Kisi-kisi dan Soal dapat bermanfaat bagi semua, khususnya bagi para stakeholder Penjas (Guru/Siswa), umumnya bagi masyarakat yang haus akan ilmu. Semoga Allah mencatat segala niat dan amal baik kita. Aamiin.
Untuk Soal bisa di download di sini
Kisi-kisi bisa dilihat di sini
Jika ada saran dan masukan kami tunggu di email: roelsebloe@gmail.com atau DM di Instagram @roelsebloe

1 September 2017
Al Millah, Pak Iskalam, dan Spiritualitas Kaum Urban
26 December 2016
Membaca dan Mengikat Makna
Permasalahan dalam menyimpulkan bahan bacaan dan menuliskannya kembali menggunakan kata-kata sendiri, setidaknya menurut Hernowo Hasjim dalam kesempatan Seminar dan Lokakarya Menulis Kreatif, Ahad (18/9) di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur salah satu sebabnya adalah minimnya partisipasi siswa untuk membaca yang bermakna. Mengikat makna adalah konsep membaca yang bertujuan memberi dampak dari apa yang kita baca.
Konsep mengikat makna yang dicetuskan pria yang sehari-harinya bekerja di Mizan itu dapat diartikan dengan memadukan kemampuan membaca dan menulis secara bersama. Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang terkait dan saling berkelindan. Keduanya dapat bermakna memasukkan (membaca) dan mengeluarkan/mengalirkan (menulis). Penekanan terutama pada anak-anak dalam membaca, dengan tidak hanya menggunakan brain memory saja. Membaca dan menulis harus berada pada fase muscle memory. Ketika seseorang membaca teks yang ‘bergizi,’ maka dia akan menjadi produser teks berikutnya.
Ketika menulis cerita maka dominasinya adalah otak kanan. Sebaliknya ketika menulis sebuah karya ilmiah atau penelitian, maka kecenderungan menggunakan otak kiri lebih besar. Menulis menurut Hernowo adalah mengalirkan dan membebaskan pikiran pada lembar kertas atau layar laptop dan sejenisnya.
Dalam kesempatan yang diikuti ratusan pendidik yang tergabung dalam ikatan guru Indonesia (IGI) tersebut, beliau memberikan pemahaman, dalam aktivitas menulis yang dipentingkan adalah prosesnya. Di dalam proses tersebut, ada dua fase yang dilalui: merasakan mengetik (bila menggunakan laptop) dan merasakan emosi. Jadi, ketika kita menuliskan sesuatu, maka yang membedakan tulisan kita dengan tulisan orang lain terletak pada gagasannya.
Hernowo kemudian memberikan contoh, bagaimana aktivitas membaca artikel yang bermakna. Menurutnya, salah satu cara untuk mengikat makna adalah dengan menandai bacaan, menambahi catatan, atau memberikan pengingat dari bahan bacaan yang kita baca.
Dalam seminar dan lokakarya tersebut, setidaknya diberikan tiga jenis tahapan dalam latihan menulis. Tahap pertama adalah latihan menulis untuk membuang. Penekanan pada latihan pertama adalah mengalirkan tulisan selancar-lancarnya. Tidak boleh ada hambatan, walau itu salah ejaan. Jadi ketika salah ketik, maka biarkan saja, harus ada garis yang jelas antara menulis dan mengedit. Pesan dalam latihan pertama: menulis tidak boleh dalam keadaan tegang. Pada tahap pertama para peserta diberi kebebasan menuliskan apapun dalam waktu lima menit.
Tahap kedua adalah menulis dengan mengikat makna. Menuliskan poin demi poin yang menarik dari sebuah artikel. Peserta yang sudah diberi selembar artikel dari koran kemudian diminta untuk menandai atau membuat catatan. Selanjutnya poin dan catatan tersebut dituliskan dengan kata-kata sendiri pada lembar kertas atau laptop.
Ketiga, menulis dengan topik yang disukai. Pada tahap ini, topik lebih detail daripada tema. Topik bisa bermacam-macam, dari kuliner, kesehatan, parenting, dan lain-lain. Poin penting dari kualitas pikiran yang akan kita tulis dapat dilihat dari topik (materi) dan gagasan (unik). Dalam tahap yang ketiga ini, eksplorasi pikiran kita pada saat mencari sisi unik dan detail pada topik yang hendak kita tulis, mutlak untuk dilakukan.
Tidak ada kesempuranaan tanpa latihan. Pesepakbola seperti C. Ronaldo juga harus tiap hari latihan untuk menjadi pemain yang berkelas. Begitupun dengan menulis. Mengalokasikan sepuluh menit untuk membaca dan lima menit menulis tiap harinya dapat meningkatkan kemampuan fisik dan non-fisik kita saat menulis.
Muara dari hasil pengukuran PISA menyentak kesadaran kita bersama. Ada amanah super berat untuk menggalakkan anak-anak, para peserta didik kita, yang notabene merupakan generasi emas bangsa agar melek literasi. Setidaknya, goal literasi yang tiap hari dilakukan bukan hanya sebatas rutinitas harian tanpa arah. Harus ada trisula tujuan dalam literasi: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.
4 October 2016
PTS (penilaian tengah semester) Kisi-kisi Penjas kelas 9 Semester Ganjil
Ada yang berbeda dan tak biasa ketika penilaian tengah semester (PTS) semester ganjil kali ini (3-21 Oktober 2016). Bagi para siswa Musasi kelas 8 dan 9 menggunakan CBT (Computer Based Test) adalah hal yang biasa. Tapi bagi kelas 7 yang baru menjadi siswa baru sekolah yang beralamat di jalan KH. Samanhudi tersebut, menggunakan CBT adalah sesuatu yang baru.
29 August 2016
Olahragawan atau Pustakawan?
Di Smanor--sekolah yang menasbihkan dirinya sebagai sekolah pencetak atlet--berkutat dengan keringat adalah hal yang lumrah. Bagaimana tidak, ketika pagi dan sore diharuskan memeras keringat sebelum menuju pertandingan dan bersaing memetik gelar/juara. Menu latihan dua hari sekali itu tidak lain menjadi fardhu 'ain, selain menambah jatah latihan sendiri pada siang hari atawa malamnya.
Saya sendiri memilih olahraga Judo karena melihat peluang. Disamping ajakan dari saudara tetangga yang sebelumnya sudah menjadi atlet di sekolah yang berada di kawasan Pondok Jati Utara itu. Sebelum mencemplungkan diri di olahraga bantingan asli Jepang itu, saya pernah mencoba "peruntungan" tes atletik nomor lari sprint dan akhirnya gagal, hiks. Itulah yang kemudian membuat saya banting stir menjajal beladiri yang mengutamakan teknik bantingan, kuncian dan randori (permainan bawah).
Imam Moehasib, seorang takmir Mushala Nurul Huda pernah berpesan, jika kekuatan manusia hanya ada tiga; berikhtiar, berdoa, dan bertawakal pada ketetapan Allah Ta'ala. Kata ikhtiar dan doa itulah yang menjadikan mindset di pikiran saya mengatakan, tidak ada yang tidak bisa selama kita berusaha dengan kemampuan maksimal kita. Tiada pernah berhasil jika kita tidak pernah mencobanya. Begitulah, pola pikir yang saya resapi dari beberapa kajian dengan bekal siraman ruhani yang memperkokoh jiwa untuk selalu bersikap optimis terhadap apa-apa saja ketentuan dari Allah Ta'ala.
Keyakinan itu pulalah yang mengantarkan diri ini sampai gerbang Graha Pena yang kemudian Allah bukakan takdir berikutnya untuk menuntut ilmu hingga ke Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Meski harus pula menjalani dua peran--mahasiswa dan pekerja--tak pernah menjadikan diri ini menyerah dengan keadaan dan mengeluh dengan kondisi kekinian.
Allah pulalah jua yang meridhai ketika diri ini menyelesaikan skripsi dan berwisuda di Graha Pena, tempat pertama kali menerima gaji sebagai karyawan profesional. Kata Mas Syahrul, tidak ada yang pernah terjadi secara kebetulan. Dalam Al Quran, bahkan daun yang jatuh sudah tertulis dan menjadi catatan. Begitupun dengan semua yang pernah kita lalui dan akan kita perjuangkan.
Kini, ketika takdir Allah menghantarkan pada sebuah fase baru, dimana amanah yang teremban semakin besar dan berat. Kita perlu merenungkan kembali kekuatan yang Allah berikan pada manusia. Berikhtiar dengan maksimal, berdoa dengan sungguh-sungguh dan berkeyakinan. Bekal tawakal, jika Allah tak pernah menganiaya hamba-hambaNya.
SK (surat keputusan) yang diterima tahun ketiga di sekolah ini: menjadi pendidik mata pelajaran Penjas, menerima amanah menjadi takmir masjid sekolah, serta, ketika diri ini mendapat kepercayaan dan tanggung jawab untuk menjadi staf perpustakaan. Belajar dan terus belajar. Akan banyak tantangan yang dihadapi, Menguatkan diri untuk terus menerus dalam jalan keridhoanNya.
Satu anugerah menjadi perpustakaan terbaik se-kabupaten tingkat kabupaten telah teraih. Ya, Perpustakaan SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, dinyatakan terbaik kedua dalam lomba perpustakaan tingkat kabupaten yang diadakan Perpusda Sidoarjo. Semoga September nanti, ketika penyerahan piala oleh Bupati Sidoarjo dapat menjadi kado termanis dan pemicu untuk terus berprestasi. Semoga!
Bulusidokare, 290816
Mengakhiri tulisan ketika adzan Isya berkumandang
16 August 2016
Memerdekakan Bambu
Resolusi Kemerdekaan RI: Menulis atau Mati!
Terjerembab Inspirasi_
9 July 2016
Balada Sandal Gunung
Khususnya saya, mengenal sandal gunung ketika menginjakkan kaki di "rimba" Graha Pena. Delapan tahun lalu, ketika dinyatakan diterima menjadi garda terdepan keamanan gedung 21 lantai itu. Mas Gondho, menjadi sosok teman kerja yang bisa dibilang stylist (baca: gaul). Cara berpakaiannya yang kasual meskipun menjadi staf keamanan, seolah menyiratkan pesan: tunjukkan otakmu dalam bekerja. Penampilannya yang khas adalah kaos oblong, celana 3/4, tas selempang dan sandal gunung.
Sandal gunungnya itu, yang usut punya usut ternyata ber-merk Eig*r.
Sandal yang pabrikannya di Bandung itu dalam pandangan saya yang dulu masih berlum berkarya adalah 'sosok' yang amat mahal. Susah dijangkau. Namun, ketika sudah punya rekening dan tiap bulan mendapatkan angka di saldonya, pandangan tersebut lama kelamaan berubah.
Akhirnya sejarah pun tercipta. Sandal gunung pertama akhirnya terbeli. Sandal yang cukup nyaman itu akhirnya saya pakai berangkat dan pulang kerja. Satu set dengan sarung sandalnya yang berupa jaring-jaring yang berbentuk seperti tas cangklong. Pembelian yang pertama itu ternyata tak berlangsung lama.
Hanya beberapa bulan. Rekor baru memiliki sandal yang biasanya bertahan sampai satu tahun dengan raihan berkurangnya sol dan usangnya warna sandal, kini berganti dengan raibnya sandal.
Sandal Eig*r ternyata diminati banyak kalangan. Termasuk para pencuri yang menyambi menjadi jamaah masjid. Kehilangan sandal pertama, tempatnya di masjid An-Nur-Sidoarjo. Sedikit menyesal dengan gumaman dalam hati: koq teganya. Apalagi dengan wajah melas, menaiki motor tanpa alas kaki, hiks..
Pengalaman kehilangan barang membuat saya menjadi ekstra waspada. Apalagi dalam lingkungan kerja yang dulu dituntut untuk selalu siap dalam setiap keadaan. Kehilangan tidak lantas membuat saya kapok untuk bersentuhan lagi dengan sandal gunung. Saya beranikan untuk membeli sandal Eig*r lagi. Tetap mengingat pepatah: pengalaman adalah guru yang terbaik.
Saya tetap konsis dengan model sandal jepit, Warna hitam legam. Untuk nomor sandal masih setia dengan 43. Tidak ada lagi sandal yang ditaruh di pelataran. Harus diletakkan entah itu dalam lemari sandal atau loker. Tapi tetap saja, mata pencuri bisa tembus pandang. Lho?
Masih teringat jelas, ketika subuh berangkat ke masjid Al Millah-Pondok Jati untuk ikut shalat berjamaah dan pengajian salah satu ustadz disana. Sandal sudah dirasa aman karena sudah masuk loker. Meskipun lokernya tidak terkunci, tapi khusnudzan lebih banyak dari prasangka buruk. "Apalagi ini di masjid," begitu kata saya dalam hati, meski sebelumnya juga pernah kehilangan.
Tanpa dinyana, ketika hendak pulang dan mengambil sandal. Barang yang dimaksud sudah tidak ada di tempat. Kehilangan yang kedua, mengulang kembali sejarah. Hiks..
Ketika saya membeli (lagi) sandal di konter Eig*r lantai dua pusat perbelanjaan di kota udang. Salah seorang penjaga konternya bertanya,
"sandalnya hilang, ya mas?"
"Lho, koq tahu?"
"Iya, mas, soalnya kebanyakan yang beli kembali kesini karena sandalnya hilang."
Weleh..weleh..
Saya tidak mau berandai-andai, mau hilang (lagi) atau tidak saya pasrahkan pada Allah. "Semoga nggak hilang lagi, mas," ucap saya pada penjaga konter di pembayaran.
Takdir Allah yang menghendaki. Tepat di bulan ramadan lalu, lagi-lagi ketika kaki melangkah ke sebuah tempat yang bisa dikatakan nol dosa: masjid. Namun, kali ini bukan karena kehilangan, tapi tertukar.
Sandal saya yang berukuran nomor 43 tertukar dengan nomor 40. Bayangkan, bagaimana kaki gajah harus beradaptasi dengan kaki jerapah? hehe..Saya beberapa hari kembali ke masjid tersebut dan menempatkan alas kaki yang sebenarnya bukan hak saya itu, tapi hasilnya lagi-lagi, nihil.
Inilah asam garam memiliki sandal gunung merk Eig*r. Saya tak pernah menyangka bila harus menelan pil pahit kehilangan dan tertukar yang semuanya itu berada ketika di masjid, Saya jadi merenung, apa karena ini balasan dari Allah, karena dulu saya sempat jadi re-seller sandal kw??
Bulusidokare, 4 Syawal 1437H
![]() |
| foto pinterest |
30 June 2016
Motto Hidup
Sebenarnya bukan karena ingin menjadi motivator dalam tulisan ini. Tapi, pada saat mengisi kajian Darul Arqam di SMP Muhammadiyah 4 Porong, ada salah satu peserta yang nyeletuk, "Pak, motto hidupnya apa?" Itu ditanyakannya ketika saya baru saja menyampaikan profil diri.
Segera saja saya jawab sekenanya, "Fastabiqul khairat!"
Hehe..
Fastabiqul khairat adalah berlomba dalam kebaikan. Slogan yang kerap dijadikan tagline di gerakan ortom-ortom Muhammadiyah terutama di Pemuda Muhammadiyah dan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Terkait slogan itu saya jadi teringat nasehat dari Dr. Hidayatullah ketika dulu masih menjadi kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (SMAMDA). Menurut Pak Dayat, berfastabiqul khairat berarti berlomba melakukan kebaikan yang terbaik.
Analoginya, kita berlomba dalam melakukan kebaikan yang terbaik, terus-menerus, dan menjadi yang pertama dalam melakukan kebaikan. Berfastabiqul khairat berarti kebaikan harus sama-sama ditampilkan. Sepak bola yang baik dan indah adalah ketika kedua tim sama-sama menampilkan permainan yang terbaik.
Kebaikan harus dilakukan terus menerus. Prinsip kontinuitas harus menjadi landasan agar semangat dalam berbuat kebaikan tidak patah di tengah jalan. Mutungan. Jika kebaikan sudah menjadi habit bagi dirinya, maka ketika seseorang itu tidak melakukan kebaikan sedikit saja dalam sehari maka terasa ada yang kurang dalam hidupnya.
Ketiga, ketika berfastabiqul khairat adalah melakukan kebaikan yang pertama. Jika sudah melakukan kebaikan yang terbaik, terus-menerus, maka kebaikan yang menjadi pamungkas dan mempunyai maqam tertinggi adalah kebaikan yang dilakukan pertama kali.
Ketika yang lain masih belum menyentuh kebaikan di suatu daerah, maka kita diwajibkan untuk mempeloporinya. Ketika di dalam suatu lingkungan masih belum ada pencerahan, maka kita dituntut untuk mengawalinya. Maka tak salah, ortom-ortom yang ada di Muhammadiyah menjadikan fastabiqul khairat menjadi slogan dalam pergerakannya. Menjadi pelanjut, pelangsung, dan penyempurna dalam gerakan yang didirikan KH. Ahmad Dahlan tersebut.
Menariknya, lanjut Pak Dayat, ketika slogan fastabiqul khairat itu ternyata menjadi tagline dan tertanam di alam bawah sadar para siswa yang ada di Korea Selatan. Menurut rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu, semangat fastabiqul khairat sudah menjalar layaknya spirit membangun yang ada di negeri ginseng itu. Mereka berlomba menjadi yang pertama. Lihatlah slogan para pelajar dari negeri Gangnam Style itu:
"Ketika yang lain masih tidur, aku sudah bangun. Ketika yang lain sudah bangun, aku sudah berjalan. Ketika yang lain sudah berjalan, aku sudah berlari. Dan ketika yang lain sudah berlari, aku sudah terbang."
Mereka rupanya sudah menerapkan terlebih dahulu yang ada dalam Al Quran, Ketika kita sebagai umat muslim terbesar, yang seperti dikutip Dr. Zakir Naik dalam ceramahnya kita menjadi bangsa mulim terbesar dengan populasi 200 juta jiwa, namun harus kita sadari kita masih dalam tataran wacana. Kita masih bangga dengan keadaan muslim yang kita punya sejak lahir.
Dr. Saad Ibrahim, ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pernah mengatakan jika Lee Kuan Yew, perdana menteri Singapura pertama yang menjadi ikon pembangunan negeri jiran itu juga menerapkan semangat yang ada dalam Al Quran untuk membenahi wajah Negeri Singa. Singapura yang pada awalnya adalah negara yang juga terseok-seok. Banyak kemiskinan dan negaranya masih belum tertata dengan baik. Namun, Lee Kuan Yew tidak berputus asa. Dia memimpikan negerinya menjadi negeri yang seperti digambarkan dalam Al Quran. Dalam visinya lebih lanjut, dia gambarkan negeri itu dalam bentuk prangko dan dibagikan ke seluruh negeri untuk memotivasi seluruh penduduk negerinya agar tidak menyerah dengan keadaan. Dan kita bisa lihat hasilnya sekarang.
Apa mungkin orang-orang Korea dan Singapura itu terilhami Al Quran? Atau jangan-jangan kita yang hanya terlena dengan sekedar membaca kitab suci kita sendiri? Sudah sampaikah kita pada tataran men-tadabbur/mengkaji kemudian mengimplementasikan pesan-pesan kauniyah dan kauliyah yang ada dalam firmanNya? Hanya kita yang bisa merabanya. Wallahu a'lam.
Jasem, 25 Ramadan 1437 H
![]() |
| gambar: https://lehmansbaseball.files.wordpress.com |
25 June 2016
Catatan Lomba Perpustakaan 2016
Setelah lolos dalam proses verifikasi data dan survei tempat, Perpus Musasi akhirnya masuk lima besar. Dalam sesi presentasi yang bertempat di lantai dua Aula Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Sidoarjo (21/6), tim perpus Musasi mendapatkan nomor urutan keempat.
Tim perpus Musasi yang terdiri dari ketua Navy Armanda J, S.Pd., Pelayanan Teknis Kholifa Nurdiana, Pelayanan Pengguna Darul Setiawan, S.Pd., Waka Sarpras Edy Prawoto, S.Ag., dan Anggota Sarpras Cahyo Heriadi, ST., itu banyak belajar dari penampilan sekolah yang terlebih dahulu melakukan presentasi. Dari lima kontestan yang masuk lima besar hanya dua sekolah swasta dan sisanya diisi sekolah negeri.
SMPN 1 Jabon dan SMPN 2 Krembung yang terlebih dahulu tampil menjadi bahan evaluasi singkat tim perpus Musasi sebelum dapat giliran presentasi. Termasuk juga penampilan SMPN 6 Sidoarjo yang membuat para peserta lain menjadi terpukau. Sedikit informasi, presentasi tim SMPN 6 Sidoarjo menjadikan banyak catatan dan pembelajaran untuk tim Perpus Musasi.
Tibalah giliran tim Perpus Musasi tampil. Koordinator presentasi tim Perpus Musasi Darul Setiawan, S.Pd yang menggantikan ketua perpustakaan yang berhalangan hadir, didaulat untuk memaparkan profil dan program Perpus Musasi. Tak ketinggalan yang tampil di depan ada Edy Prawoto, S.Ag., Kholifah Nurdiana, dan Dra. Eny Sulistyowati. Nama terakhir adalah Waka Kesiswaan Musasi yang turut hadir beserta Ka. Lab Musasi Ratna Puspitasari, M.Pfis., dan Kepala Sekolah Drs. Aunur Rofiq, M.Si., yang turut menjadi penyemangat tim.
Masing-masing tim diberi waktu 30 menit yang terdiri atas 15 menit presentasi dan sisanya tanya jawab dari dewan juri. Alokasi tersebut dimanfaatkan baik untuk menyampaikan visi-misi, koleksi, anggaran, perangkat lunak dan beberapa program-kegiatan yang telah atau akan dilaksanakan tim perpus Musasi.
Usai presentasi, giliran pertanyaan diajukan tiga dewan juri. Dewan juri pertama menanyakan tentang anggaran perpus Musasi dalam Rencana Anggaran Belanja Sekolah (RABS). Pertanyaan yang kemudian dijawab Edy Prawoto, S.Ag., jika anggaran Perpus Musasi dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan seperti yang ditayangkan dalam slide presentasi.
Dalam tiga tahun terakhir, anggaran Perpustakaan mengalami kenaikan dari angka 3,6% ke 7,1%. Jawaban dari Pak Edy tersebut nampaknya sudah sesuai dengan peraturan yang mengharuskan anggaran perpustakaan di sebuah sekolah minimal 5% dari total keseluruhan pembelanjaan.
Pertanyaan selanjutnya yang dilayangkan juri kedua mengenai program perangkat lunak yang dijalankan Perpus Musasi. Darul Setiawan, S.Pd., sebagai koordinator menyatakan jika program "Si Pinter" merupakan program sirkulasi dan pengolahan perpustakaan. Guru Penjasorkes tersebut juga menyatakan jika program yang digunakan Perpus Musasi tidak lain merupakan perangkat lunak yang terintegrasi dengan PT. Daya Matahari Utama (DMU). PT DMU adalah amal usaha Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur .
Juri ketiga lebih banyak menanyakan salah satu program yang akan dijalankan Perpus Musasi yakni Klub Suka Baca dan Cinta Buku (KSBCB). "Apa keluaran yang diinginkan dari program KSBCB tersebut?" tanya juri ketiga Bu Mus pada tim Perpus Musasi.
Pertanyaan juri ketiga sejatinya ingin memotivasi tim perpus Musasi agar menjadikan output program yang akan dijalankan tersebut dengan membentuk Duta Perpustakaan. Sebagai ajang promosi, duta perpustakaan yang terbentuk tersebut nantinya sebagai penyampai pesan dan mengajak siswa yang lain untuk beramai-ramai datang ke Perpustakaan.
Ada yang menarik ketika juri ketiga bertanya pada Kepala Sekolah Musasi Drs. Aunur Rofiq., tentang bagaimana dukungan kepala sekolah terhadap program pengembangan Perpustakaan. Pak Rofiq yang didaulat untuk maju ke depan memberikan penjelasan jika dukungan sekolah terhadap anggaran dan program pengembangan adalah mutlak untuk perpustakaan sekolah. Menurutnya, perpustakaan merupakan jantung dari proses pembelajaran yang ada di sekolah
Usai seluruh peserta memaparkan hasil presentasinya, dilanjutkan penutupan oleh kepala Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Sidoarjo, Drs. Sutjipto, MM. Pesan Pak Cip kepada seluruh finalis agar menyamakan visi dan misi program Perpustakaan dengan garis-garis yang sudah ditetapkan dalam buku Bimtek Perpustakaan. Pemberian dua eksemplar buku Bimtek Perpustakaan kepada masing-masing sekolah mengakhiri jalannya fase presentasi.
Tiga hari setelah presentasi, atau kemarin Jumat (24/6) pemenang lomba akhirnya diumumkan. Melalui rilis di website resminya (http://perpus-arsip.sidoarjokab.go.id/), Perpustakaan SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo dinyatakan juara dua (lihat gambar). Penyerahan piagam penghargaan dan piala akan diberikan langsung Bapak Bupati Sidoarjo Saiful Illah pada September mendatang. (roelsebloe).
22 June 2016
Menggores Pena untuk Kisah Ibu
https://drive.google.com/file/d/0B6tVvL_cAftRTHRKbnhEMVVQcjA/view?usp=sharing
![]() |
| Ilustrasi Gambar dari Buku Parenting Guide |
27 January 2016
Merevolusi Mental Struktural
20 January 2016
Resolusi Sepenuh Hati
22 December 2015
Ketika Tongkat Musa Berbicara
Inspirasi bisa datang dari manapun. Membaca buku, majalah, membuka ranah maya, atau ketika bertemu seseorang. Ya, bertatap muka dengan orang-orang berilmu salah satunya. Bersyukur ketika lahan mujahadah, 'jalan perjuangan para ksatria ilmu' tempat kita berpijak memfasilitasinya.
Aster Hotel menjadi kali kedua labuhan ilmu. Jika tahun lalu, acara dikemas dengan nama family gathering. Tahun ini, hotel yang diresmikan Wali Kota Eddy Rumpoko tersebut menjadi tempat berlangsungnya kegiatan rihlah ruhiyah (wisata rohani/ spiritual trip) SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Kegiatan sebenarnya setali tiga uang dengan unsur rekreatif di dalamnya, namun dikemas dengan semangat ilmu. Untuk itu, jajaran pimpinan sekolah mengundang Pak Nur Cholis Huda dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, untuk memimpin jalannya 'perjalanan wisata' selama kurang lebih dua jam pada senin malam (21/12).
Bertempat di ruang rapat hotel yang berkapasitas kurang lebih 50 orang itu, Pak Nur, sapaan akrabnya, membawakan materi tentang Komunikasi Islami. Gaya penyampaian yang tidak monoton dan segar menjadikan suasana malam itu begitu semangat dan hidup. Setiap sub materi yang berkaitan dengan materi pokok selalu diiringi dengan cerita berkesan. Ya, penulis buku yang kini genap berusia 63 tahun itu selalu menyampaikan makna yang tersirat dari apa yang 'tersurat' yang ditampilkannya melalui slide.
Seperti ketika sampai pada Qaulan Layyina, perkataan yang lemah lembut. Seperti perintah Allah pada Musa dalam Quran Surat Thaha, agar Musa memberikan perkataan yang lembut pada Umara (Firaun) agar terbuka hatinya. Pak Nur kemudian mengaitkan dengan peristiwa yang mengesankan yang pernah dialaminya.
Syahdan, pada saat orde baru berkuasa, dengan Pak Harto sebagai pemimpin tunggalnya. Apa-apa yang menjadi titah Presiden harus diikuti oleh para menteri dan bawahannya. Tak terkecuali ketika Pak Harto menginginkan terjadinya dualisme kepemimpinan pada saat pemilihan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar Aceh 1995. Pak Amien Rais sebagai calon ketua terkuat, digoyang posisinya. Namun, tak dinyana, para muktamirin menyerahkan mayoritas dukungan pada doktor ilmu politik itu. Kandas misi Pak Harto. Dan akhirnya Presiden ke-2 RI itu membuat statement jika dia adalah kader Muhammadiyah yang ditanam untuk bangsa dan negara. Sejak saat itu hubungan eksekutif dengan Persyarikatan menjadi hangat. Bahkan banyak pejabat yang mengaku menjadi warga Muhammadiyah, meski hanya sekedar pernah menjadi siswa di sekolah Muhammadiyah atau pernah lahir di rumah sakit Muhammadiyah.
Namun situasi menjadi berubah, kata Pak Nur, ketika Pak Amien menyuarakan isu suksesi. Hubungan pemerintah dengan Muhammadiyah menjadi dingin. Termasuk pada tataran dibawahnya, antara Kodam, Gubernur dengan PWM atau Kodim-Bupati dengan PDM. Kondisi hubungan semakin renggang, ketika Pak Amien yang terkenal vokal dan kritis pada kebijakan Pak Harto yang tidak pro rakyat.
"Sampai kemudian Pak Amien silaturahim dengan PWM Jatim," lanjut Pak Nur. Saat itu ketuanya adalah Ustadz Abdurrahim Nur, Allahuyarham. "Duduk menemui Pak Amien ada Pak Rahim, Pak Fasich, Pak Mu'ammal, dan saya sendiri," kenang Kakek lima cucu tersebut.
Kemudian terjadilah dialog, yang pada intinya, Pak Rahim menyampaikan kondisi hubungan PWM dengan instansi pemerintahan yang kurang harmonis. Pak Rahim kemudian bertanya pada Pak Amien, "Adakah manusia yang lebih kejam dari Fir'aun?"
"Tidak ada"
Kemudian Pak Rahim membacakan ayat ke 36 pada QS. Thaha yang menekankan perlunya Qaulan Layyina pada pemimpin. Seperti Musa yang diperintah Allah untuk berkata yang lemah lembut pada Fir'aun.
Karena sama-sama "berilmu". Pak Amien pun menyampaikan pendapatnya, jika menghadapi pemimpin ada tahapan-jenjangnya. "Jika Firaun itu tidak bisa diingatkan dengan perkataan yang lemah lembut, maka tongkat Nabi Musa yang berbicara. Nah, pada Pak Harto ini sudah masuk pada tahapan tongkat yang berbicara. Karena sebelumnya sudah disampaikan dengan wacana suksesi."
Pak Nur menjadi inspirasi para guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Memberi wejangan tanpa nasehat, mengajak nalar untuk berpikir dalam derap cerita dan kisah yang dibawakannya.
Merangkai kata dari kamar Hotel sampai kampung halaman
21-26 Desember 2015
^^,v
























