Perjalanan Porong-Lawang pada Kamis (25/12) siang itu
ternyata banyak menyita tenaga dan waktu. Bayangkan, jarak yang biasa ditempuh
hanya dalam waktu normal 2 x 30 menit (dengan mengesampingkan berhenti mengisi
bahan bakar dan duduk sebentar di warung pinggir jalan-red), kali ini bisa
memakan waktu sampai hampir dua jam lebih. Faktor klasik; kemacetan, masih
menjadi aktor utama terhambatnya perjalanan.
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
Blog Darul Setiawan
Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya
26 December 2014
24 December 2014
Membajak Einstein
Eits, tunggu dulu. Bukan bermaksud membuat bingung dengan
hadirnya judul. Tapi memang, bila dikaitkan dengan rumus dari Einsten; E=Mc2,
bolehlah kita katakan‘sah’ :)
Sepekan yang lalu, tepatnya tanggal 16-19 Desember 2014,
sekolah kami, SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo mengadakan kegiatan. Lembaga pendidikan yang
terkenal dengan akronim Musasi tersebut mengadakan acara untuk mengisi
kekosongan waktu usai ujian akhir semester (UAS). Sepekan sebelumnya, saya
dipanggil Bu Eni untuk menghadap.
Bila siswa yang menghadap Bu Eni, biasanya ada dua
pilihan; mau mengikuti lomba atau ada urusan kedisiplinan. Tapi, berhubung
status saya yang bukan lagi siswa, kedatangan saya di
depan meja kesiswaan tersebut untuk menerima sebuah amanah.
Amanah itu adalah menjadi ketua penyelenggara. Awalnya saya
begitu berat. Maklum, ada beberapa amanah lain yang belum bisa saya tunaikan.
Nah, ini malah ketambahan amanah baru. Jangan-jangan malah entar ga bisa
mengemban amanah dengan baik. Stempel “orang-orang yang tak amanah” bakal jadi
label baru nanti.
Kekhawatiran tersebut akhirnya saya kikis sendiri dengan menguatkan
komitmen. Maklum, kultur di Muhammadiyah adalah tidak mencari jabatan/ posisi.
Tapi. Bila diberi amanah tak boleh menolak. Saya kemudian teringat kata-kata
Pak Syafigh A. Mughni, ketua PP Muhammadiyah yang berdomisili di Sidoarjo.
Mantan rektor Umsida kelahiran Lamongan itu pernah ditanya
perihal kesiapannya untuk maju dalam Muktamar Muhammadiyah 2015 di Makassar.
Apa jawab beliau? Ternyata, untuk orang sekelas Pak Syafigh, beliau menjawab
dengan penuh ketawadhu’an. “Saya akan maju bila tidak ada calon lain yang
mencalonkan”, begitu jawab beliau.
Meneladani sikap Pak Syafigh diatas, maka tawaran pun
kusambut dengan Bismillah. Beda kultur antara pendidikan sekolah dengan kuliah
rupanya cukup terasa. Hal itu terlihat dari komposisi panitia. Menjadi ketua
dengan durasi menjadi warga sekolah yang baru beberapa bulan merupakan
tantangan tersendiri. Bagaimanapun, para guru senior yang berada di lingkungan
sekolah juga masuk dalam koordinator lomban serta juri.
Melihat hal tersebut dan atas saran dari pengarah dan
kawan-kawan yang baru. Akhirnya, kami pun bersegera membentuk konsep kegiatan.
Dari latar lomba antar kelas yang biasa disebut dengan class meeting. Maka
kemudian kami comot rumus Einsten agar lebih familiar. Ya, kegiatan tersebut
bernama Mc2, atau “Musasi Class Meeting Championship 2K14”.
Penggunaan 2K14 menandakan tahun penyelenggaraan, seperti
yang biasa kita lihat di even-even anak muda kebanyakan. Setelah nama kegiatan
sudah terbuat. Kemudian saya banyak melakukan konsultasi dengan Bu Eni, yang
sekaligus menjadi ketua pengarah. Dari diskusi dengan beliau, akhirnya diputuskanlah
kegiatan Mc2 dibagi menjadi dua kategor lomba; olahraga dan seni. Dari olahraga
ada lomba lari sprint 100 meter, sepak bola mini, badminton, tenis meja dan catur.
| Penampilan Musikalisasi Puisi |
Sementara dalam bidang seni ada lomba membaca puisi, story telling, dan
musikalisasi puisi. Selain untuk para siswa, even Mc2 kali ini turut melombakan
lomba untuk guru dan karyawan. Untuk guru dan karyawan putra ada lomba sepak
bola mini, sementara untuk guru-karyawan putri ada lomba bola voli.
Kegiatan yang berlangsung empat hari tersebut dipamungkasi
dengan jalan sehat dan bazaar dari IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). Selain
itu, di hari terakhir ada pembagian doorprize jalan sehat dan pembagian hadiah
para pemenang lomba, serta tak ketinggalan request lomba dari kepala sekolah;
senam.
Dari kegiatan Musasi Class Meeting Championship 2K14
tersebut, saya pribadi banyak menimba ilmu dari rekan-rekan guru yang membantu.
Mulai dari persiapan lomba yang kurang sehari kita dikejar waktu. Saya masih
ingat hari Senin (sehari sebelum lomba dimulai. Dari pagi hingga malam, saya,
pak Heri, Pak Qoisul, Pak Huda, dan Mas Farid menginap di sekolahan. Karena pagi
kami masih menjalanakan amanah sebagai pengawas UAS. Maka mengurusi lomba dari
persiapan hanya bisa dilakukan setelahnya, alias usai UAS rampung.
| Juara 1: Bidikan Lensa Daffa Ahmadi |
Rasa ucapan terimakasih juga tak kalah besar kami sampaikan
pada Kak Wildan. Guru Ngaji dan Tapak Suci di TPQ Nurul Huda Gedang, yang
dipertemukan kembali di SMP Musasi. Saya baru tahu bila beliau sekarang
bergelut di dunia ‘printing digital’, dan sangat profesional saat harus diminta
cetak banner, spanduk, dan backdrop hanya dalam beberapa jam (meski harus kena
wanti-wanti jangan sampai diulangi lagi, hehe..).
Ucapan rasa terimakasih tak kalah tinggi pula untuk sahabat baru
saya; Pak Qoisul, yang rela menunda beberapa proyek desainnya, hanya untuk
segera menyelesaikan desain banner dkk., pesanan saya untuk lomba. Saya masih
belum percaya bila lulusan Unesa bidang seni rupa ini juga pandai ahli dalam
hal gerinda, las listrik, hingga menangani sound system. Saya harus banyak
belajar dari sosok ayah dua anak ini.
Kurang lengkap rasanya bila tak menyebut Pak Heri. Bagian
perlengkapan lomba yang sekaligus menjadi Waka Sarpras sekolah bersama Pak Edy.
Sarjana Teknik tersebut, dengan ikhlas mengantarkan kami ke Lamongan untuk
mengambil sound system milik Pak Qois malam-malam. Ya, rupanya acara menyetting
lapangan sepak bola mini dengan beragam pendukungnya baru bisa kita rampungkan
pada pukul 01.00 dini hari. Kami awalnya ragu, mau tidak sosok penghobi
fotografi itu mengantar? Kami pun sudah berancang-ancang untuk menyetir mobil
sekolah sendiri bila Pak Heri enggan mengantar. Tapi rupanya, dengan bekal
minuman energi yang dibelinya di rest area jalan tol, keraguan kami akhirnya
tertepis. Tiba di bumi Lamongan kurang lebih pukul tiga pagi. Dan disana,
ibunda Pak Qois menyambut ramah kami bertiga. Saya yang agak setengah sadar,
tiba-tiba disuguhi dengan teh anget dan indomie goreng. Subhanallah, Alhamdulillah!
| Juara 2: Life Style Photo Bidikan Bagas Ajitama |
Kami bertiga akhirnya bertolak dari tanah Joko Tingkir
tersebut pas adzan subuh. Sejenak kemudian kami berhenti di sebuah masjid untuk
menunaikan salat subuh secara berjamaah. Usai salat subuh saya tak bisa menahan
kantuk. Pak Qois yang berada di jok tengah rupanya sudah lelah. Tenaganya
terkuras setelah malam-malam me-ngelas dan menggerinda plat-plat besi. Dia
terlelap. Praktis, hanya tersisa Pak Heri dengan sisa-sisa tenaga dibelakang kemudi. Awalnya saya tak enak hati
membiarkan Pak Heri menyetir sendiri, tapi beliau kemudian berkata; “Dilanjut
saja tidurnya, Pak!”
Pagi itu saya tak hanya melihat mentari mengendap
memancarkan cahaya cerahnya ke segala penjuru bumi. Tapi pagi itu, saya turut
merasakan cahaya-cahaya ketulusan dan keikhlasan yang terpancar dari hati para
guru Musasi..
Porong, 24 Desember 2014
Foto-foto Daffa Ahmadi (9A), Bagas Ajitama (8G), dan Alysa Aldrin (7F)
| Serius; Para Peserta Lomba Catur |
| Badminton on Shoot |
| Ustadz Kifly Tak Mau Ketinggalan |
| Berlomba-lomba dalam Mini Soccer |
| Rangkep-rangkep: Penulis Ketika Mewasiti Sepak Bola Mini Guru dan Karyawan |
15 November 2014
Dunia Tanpa "A"

Kita pun tak akan pernah mendengar lantunan suara adzan di masjid dan langgar. Telinga kita juga akan asing dengan lantunan tarhim dan bacaan Al-Quran sebelum seruan kemenangan diperdengungkan.
Indahkah dunia tanpa agama, atau malah menyeramkan dan penuh dengan kebusukan?
Mereka yang tak menginginkan agama hidup bebas di dunia, mengajukan dalil: bila kebanyakan perang yang terjadi, mayoritas mengatasnamakan agama, benarkah? Atas nama agama banyak dari mereka yang mencederai hak asasi manusia, sungguh?
Lihat disana, ketika mereka yang menyebut diri mereka beragama, menyerbu dan membakar musala hanya karena beda pemahaman? Tengok juga yang sedang terusir dari tanah kelahiran mereka, benarkah dengan cara pengusiran ini mereka akan tersadar dengan klaim kebenaran sepihak, atau mereka akan menanamkan keyakinan yang begitu kuat pada anak-anak mereka tentang kejahatan yang dilakukan kita pada mereka?
Kita tak pernah memahami hal itu, Karena bagi kita, agama hanya ada dan hadir di shaf-shaf masjid, langgar, dan musala. Agama hanya sebatas kita kenakan ketika hari raya dan bermaaf-maafan pada keluarga dan sanak saudara. Agama hanya sebatas kita jadikan simbol yang hanya berlaku saat kita memakai baju koko, kopiah, atau mukena.
Kita belum sampai pada tataran bila agama itu memberi manfaat kebaikan bagi sesama. Kita belum membaca perjuangan para pendiri bangsa mencitrakan agama kita dengan penuh moderat dan anggun Dan kita masih harus banyak belajar, beberapa kesalahan masa lalu, keruntuhan kejayaan agama kita, salah satunya karena kita tak pernah menghargai perbedaan dan memaksakan kehendak yang kita punya dengan semaunya.
Kita masih belum menjadi golongan ulil albab, yang termasuk dari mereka yang mengingat penciptaan Allah baik ketika berdiri, duduk, maupun akan terbaring, Kita masih disibukkan dengan keduniaan dan kefanaan. Dan kita lupa untuk bertasbih padaNya. Memuji dan mengagungkan namaNya di setiap sendi dan nafas kehidupan. Bukan yang muncul di saat-saat tertentu.
"Mustahil Islam akan hilang di dunia, tapi Islam bisa punah di Indonesia"
Masih belum percaya? Mari kita berkaca pada Andalusia!
*foto Alhambra http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02168/alhambra3_2168406b.jpg
Guru Kreatif Guru Masa Depan
Guru Kreatif, siapa yang tidak suka? Semua murid pasti selalu menunggu kedatangannya. Mereka terpacu dan bersemangat ketika diajar guru kreatif. Betapa tidak, guru kreatif mengajarnya dengan cara yang menyenangkan, nir-boring, dan selalu hadir dengan kejutan-kejutan serta menampilkan sesuatu yang baru. Maka tak salah, bila profesi pendidik atau guru dituntut harus kreatif.
Bu Siti Romlah, guru PNS berprestasi asal Probolinggo, dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, "Seorang Guru haruslah kreatif, apapun itu kondisinya." Intinya, seorang guru, ketika berada dalam lingkungan sekolah dengan latar dan kondisi bagaimanapun, harusnya menjadi sosok kreatif. Beliau mengibaratkan, ketika sarana dan prasarananya kurang di sekolahnya, maka seorang guru kreatif wajib menjadikan media pembelajaran alternatif dan kreatif yang fungsinya sebagai subtitute (pengganti) sarana/ prasarana yang tidak bisa di dapatkan sekolah tersebut. Termasuk juga ketika di sekolah tersebut mayoritas muridnya nakal-nakal (padahal Pak Munif Chatib mengatakan tidak ada murid nakal, tapi murid yang tidak dapat stimulan yang kompatibel), tetap harus berpikir kreatif dengan memberikan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-murid yang dianggap "menyimpang".
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes), sebagai matapelajaran penting bagi tumbuh kembang peserta didik, yang bertujuan agar setiap peserta didik menyadari betapa pentingnya pola hidup sehat dengan aktif bergerak dan cerdas memilih serta memilah asupan makanan. Tidak bisa dilepaskan dari keterbatasan sarana dan prasarana. Termasuk ketika masuk pada salah satu kompetensi dasar tentang pembelajaran atletik. Dimana salah satu sub indikatornya adalah mengenalkan dan membelajarkan salah satu cabang atletik lompat jauh.
Belum adanya bak pasir sebagai tumpuan ketika melakukan pendaratan saat melompat, menjadikan seorang guru penjasorkes diharuskan memutar otaknya agar pembelajaran tersebut dapat tetap tersampaikan, dengan cara memodifikasi pembelajaran yang meliputi sarana dan prasarana dengan tetap memenuhi standar keamanan.
Melihat peluang di sekitarnya, ketika di sekolah terdapat matras pencak silat dan matras busa (yang biasa dipakai untuk senam lantai) serta ada bekas bantalan kursi yang teronggok di gudang. Maka dengan sedikit sentuhan kreatifitas, mengolah ketiga komponen bahan tadi menjadi satu rangkaian dalam pembelajaran lompat jauh.
Hasilnya, meskipun bel pergantian pelajaran sudah berbunyi, namun antusiasme peserta didik untuk mencoba melakukan lompatan berkali-kali tetap tinggi. Selamat mencoba!

Bu Siti Romlah, guru PNS berprestasi asal Probolinggo, dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, "Seorang Guru haruslah kreatif, apapun itu kondisinya." Intinya, seorang guru, ketika berada dalam lingkungan sekolah dengan latar dan kondisi bagaimanapun, harusnya menjadi sosok kreatif. Beliau mengibaratkan, ketika sarana dan prasarananya kurang di sekolahnya, maka seorang guru kreatif wajib menjadikan media pembelajaran alternatif dan kreatif yang fungsinya sebagai subtitute (pengganti) sarana/ prasarana yang tidak bisa di dapatkan sekolah tersebut. Termasuk juga ketika di sekolah tersebut mayoritas muridnya nakal-nakal (padahal Pak Munif Chatib mengatakan tidak ada murid nakal, tapi murid yang tidak dapat stimulan yang kompatibel), tetap harus berpikir kreatif dengan memberikan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-murid yang dianggap "menyimpang".
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes), sebagai matapelajaran penting bagi tumbuh kembang peserta didik, yang bertujuan agar setiap peserta didik menyadari betapa pentingnya pola hidup sehat dengan aktif bergerak dan cerdas memilih serta memilah asupan makanan. Tidak bisa dilepaskan dari keterbatasan sarana dan prasarana. Termasuk ketika masuk pada salah satu kompetensi dasar tentang pembelajaran atletik. Dimana salah satu sub indikatornya adalah mengenalkan dan membelajarkan salah satu cabang atletik lompat jauh.
Belum adanya bak pasir sebagai tumpuan ketika melakukan pendaratan saat melompat, menjadikan seorang guru penjasorkes diharuskan memutar otaknya agar pembelajaran tersebut dapat tetap tersampaikan, dengan cara memodifikasi pembelajaran yang meliputi sarana dan prasarana dengan tetap memenuhi standar keamanan.
Melihat peluang di sekitarnya, ketika di sekolah terdapat matras pencak silat dan matras busa (yang biasa dipakai untuk senam lantai) serta ada bekas bantalan kursi yang teronggok di gudang. Maka dengan sedikit sentuhan kreatifitas, mengolah ketiga komponen bahan tadi menjadi satu rangkaian dalam pembelajaran lompat jauh.
Hasilnya, meskipun bel pergantian pelajaran sudah berbunyi, namun antusiasme peserta didik untuk mencoba melakukan lompatan berkali-kali tetap tinggi. Selamat mencoba!
13 November 2014
Pahlawan, Siapakah Gerangan?
Empat bulan berjalan, secara de jure saya berada di lingkungan SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Meskipun secara de facto, sejak bulan Maret, saya diberikan amanah oleh kawan-kawan Pemuda Muhammadiyah untuk mengabdi di sekolah yang berdiri sejak tahun 70-an itu. Selama itu pula saya mengenal sosok-sosok "pahlawan" yang tak hanya mendedikasikan hidupnya untuk para murid yang sedang berproses, namun mereka juga menjadi sosok pahlawan bagi anak-anak yang tak sempat mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya. Mereka merupakan sedikit dari sosok yang rela menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dan tanpa tanda terima.
**
"Pak Darul, kapan mampir ke panti?"
"Sekarang pantinya sedang dibangun kolam pemandian untuk anak-anak, lho!"
"Monggo mampir, masa' cuma pas ramadan saja kesana.."
Pertanyaan yang kadang saya sendiri tidak dapat menjawabnya dengan pasti. Ketika ditanya Bu Khol, panggilan akrab Bu Kholifah Nurdiana, Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo yang juga menjadi Ibu pengasuh bagi anak-anak yatim piatu di Panti Asuhan Hidayatul Ummah, Kebonsari-Candi.
Namun sore itu saya akhirnya diberikan kesempatan Allah untuk bertandang kembali ke panti yang para pengasuhnya mayoritas kaum hawa tersebut. Bu Khol yang pulang dari SMP Musasi lebih awal, tampak sedang membersihkan lantai keramik yang berada di ruang tamu. Beliau kemudian mempersilakan saya masuk, sesaat setelah uluk salam saya dijawabnya. "Selamat datang di rumahnya umat!"
Ihwal kedatangan saya kedua kalinya ke panti yang lokasinya berada di sentra pembuatan telur asin aneka rasa itu sebenarnya berkaitan dengan kalimat Bu Khol yang meminta saya 'melihat' komputer baru yang kini dimiliki panti. Dan dari cerita Bu Khol, saya baru tahu bila komputer asal pabrikan negara paman sam tersebut merupakan infaq dari salah seorang donatur. Kata-kata rumah umat yang sebelumnya menjadi tanda tanya akhirnya terjawab ketika mengingat cerita Bu Khol tadi.
Rumah umat itu kemudian tergambar semakin jelas, manakala di dalamnya saya menyaksikan para anak-anak panti sedang belajar mengaji, Disaat Bu Khol mengenalkan saya (kembali) dan menyuruh mereka untuk salim (salaman sambil cium tangan), ada perasaan haru yang melingkupi tatkala tangan-tangan dan pipi-pipi mungil nan hangat itu menyentuh punggung tangan saya. Mereka yang rata-rata berusia dibawah sepuluh tahun dan mayoritas masih menjadi siswa sekolah dasar tersebut terlihat ada yang sedang mengaji dan disimak oleh pengasuh, ada yang tidur-tiduran, dan ada juga yang sedang bercanda dengan 'saudara' yang sudah dianggap kakak atau adik kandung sendiri.
Panti tersebut memang tak hanya dikhususkan untuk laki-laki atau perempuan saja. Dengan jumlah anak didik sekitar 15 anak yang diantaranya ada yang tidur di dalam (panti) dan sebagian yang lainnya ada yang tidak tinggal di panti. Para anak didik panti tersebut tergolong berasal dari beragam daerah dan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Ada yang memang kedua orangtuanya sudah meninggal. Ada pula yang berasal dari keluarga single parent, namun karena Bapak/ Ibunya menikah lagi kemudian anak-anak tersebut tak pernah diurus dan kemudian pengurusan anaknya diserahkan ke panti. Terkadang orangtuanya juga ada yang mengidap kelainan jiwa, sehingga anaknya yang masih kecil tak pernah tersentuh pendidikan, dan kemudian diserahkan ke panti. Bu Khol dan kawan-kawan kemudian yang mengajari mereka.
Ketika meninjau kolam pemandian yang masih dibuat, saya melihat beberapa anak panti sedang membantu pekerjaan Pak No, tukang bangunan yang merangkap 'jabatan' sebagai 'arsitek design' panti tersebut. Beberapa diantaranya ada yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Dari penjelasan Bu Khol, mereka tiba di panti tersebut sekitar tahun 2011.
Keberadaan Bu Khol di panti sama lamanya dengan usia panti tersebut. Sosok yang juga sudah mengabdikan dirinya di SMP Musasi selama 22 tahun itu tak hanya menjadi ibu pengasuh bagi mereka. Ummi, panggilan anak-anak panti pada Bu Khol, juga merangkap sebagai penjaring donatur agar tergerak kepeduliannya.
(to be continue..)
**
"Pak Darul, kapan mampir ke panti?"
"Sekarang pantinya sedang dibangun kolam pemandian untuk anak-anak, lho!"
"Monggo mampir, masa' cuma pas ramadan saja kesana.."
Pertanyaan yang kadang saya sendiri tidak dapat menjawabnya dengan pasti. Ketika ditanya Bu Khol, panggilan akrab Bu Kholifah Nurdiana, Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo yang juga menjadi Ibu pengasuh bagi anak-anak yatim piatu di Panti Asuhan Hidayatul Ummah, Kebonsari-Candi.
Namun sore itu saya akhirnya diberikan kesempatan Allah untuk bertandang kembali ke panti yang para pengasuhnya mayoritas kaum hawa tersebut. Bu Khol yang pulang dari SMP Musasi lebih awal, tampak sedang membersihkan lantai keramik yang berada di ruang tamu. Beliau kemudian mempersilakan saya masuk, sesaat setelah uluk salam saya dijawabnya. "Selamat datang di rumahnya umat!"
Ihwal kedatangan saya kedua kalinya ke panti yang lokasinya berada di sentra pembuatan telur asin aneka rasa itu sebenarnya berkaitan dengan kalimat Bu Khol yang meminta saya 'melihat' komputer baru yang kini dimiliki panti. Dan dari cerita Bu Khol, saya baru tahu bila komputer asal pabrikan negara paman sam tersebut merupakan infaq dari salah seorang donatur. Kata-kata rumah umat yang sebelumnya menjadi tanda tanya akhirnya terjawab ketika mengingat cerita Bu Khol tadi.
Rumah umat itu kemudian tergambar semakin jelas, manakala di dalamnya saya menyaksikan para anak-anak panti sedang belajar mengaji, Disaat Bu Khol mengenalkan saya (kembali) dan menyuruh mereka untuk salim (salaman sambil cium tangan), ada perasaan haru yang melingkupi tatkala tangan-tangan dan pipi-pipi mungil nan hangat itu menyentuh punggung tangan saya. Mereka yang rata-rata berusia dibawah sepuluh tahun dan mayoritas masih menjadi siswa sekolah dasar tersebut terlihat ada yang sedang mengaji dan disimak oleh pengasuh, ada yang tidur-tiduran, dan ada juga yang sedang bercanda dengan 'saudara' yang sudah dianggap kakak atau adik kandung sendiri.
Panti tersebut memang tak hanya dikhususkan untuk laki-laki atau perempuan saja. Dengan jumlah anak didik sekitar 15 anak yang diantaranya ada yang tidur di dalam (panti) dan sebagian yang lainnya ada yang tidak tinggal di panti. Para anak didik panti tersebut tergolong berasal dari beragam daerah dan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Ada yang memang kedua orangtuanya sudah meninggal. Ada pula yang berasal dari keluarga single parent, namun karena Bapak/ Ibunya menikah lagi kemudian anak-anak tersebut tak pernah diurus dan kemudian pengurusan anaknya diserahkan ke panti. Terkadang orangtuanya juga ada yang mengidap kelainan jiwa, sehingga anaknya yang masih kecil tak pernah tersentuh pendidikan, dan kemudian diserahkan ke panti. Bu Khol dan kawan-kawan kemudian yang mengajari mereka.
Ketika meninjau kolam pemandian yang masih dibuat, saya melihat beberapa anak panti sedang membantu pekerjaan Pak No, tukang bangunan yang merangkap 'jabatan' sebagai 'arsitek design' panti tersebut. Beberapa diantaranya ada yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Dari penjelasan Bu Khol, mereka tiba di panti tersebut sekitar tahun 2011.
Keberadaan Bu Khol di panti sama lamanya dengan usia panti tersebut. Sosok yang juga sudah mengabdikan dirinya di SMP Musasi selama 22 tahun itu tak hanya menjadi ibu pengasuh bagi mereka. Ummi, panggilan anak-anak panti pada Bu Khol, juga merangkap sebagai penjaring donatur agar tergerak kepeduliannya.
(to be continue..)
![]() |
| ilustrasi: sudirman http://fc05.deviantart.net |








