Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

28 October 2013

Kisah

Menolehlah ke belakang sejenak. Lihat dirimu beberapa waktu yang lalu. Adakah yang berubah? Yang tak hanya rupa, tapi juga tutur, tingkahlaku, kepribadian, hingga ilmu dan orientasi dalam memandang kehidupan.

Adakah yang berubah disana? Kemana tren perubahannya mengarah? Lurus ke kutub positif, atau berbalik alur ke kutub negatif?

Aku bukanlah siapa-siapa. Hanya makhluk Allah yang diciptakan, kemudian diberi ketetapan untuk dilahirkan dari rahim seorang Ibu sederhana dalam proses yang penuh kesederhanaan.

Kesederhanaan?

Bila kamar bersalin berada dirumah sendiri dengan "bidan dan dokternya" adalah tetangga rumahnya, apakah itu kurang sederhana?

Sederhana, tanpa biaya operasi caesar, namun selamat tanpa cacat, tanpa bius, tanpa obat. Demikian sederhananya.

Dan aku kini, hanya bisa menghela nafas panjang penuh kesyukuran. Tentang jiwa-jiwa yang diberi hidayah olehNya. Dekapan syukur nikmat tiada terkira bertemu dan dipertemukan dengan mereka.

Aku yang disini, yang masih belum puas dengan mimpi-mimpi yang masih belum teraih. Dengan kuatnya azzam di tiap niat yang terpatri. Hanya satu harap, hanya satu keyakinan, dan hanya satu tujuan. Tak mungkin, tak lain. Hanya Dia.

Hanya Dia sebagai muaranya. Hanya Dia jujugannya. Hanya Dia tempat segala keluh kesah.

Walau makhluk lain memandang rendah, memicingkan sebelah mata. Menatap nanar penuh kebencian. Melihat sinis bertopeng manis. Ah, mereka-mereka hanya hambaNya. Tetap sama dimata Tuhanku, Allahu!

*bulan bahasa menginspirasiku. Semoga tak salah Jurusan. Karena pendidikan selalu ada di jiwaku.
^^

25 September 2013

Berguru Pengalaman, Karena Pengalaman adalah Guru Terbaik

Akhirnya saya pun mencoba menulis kembali. Setelah beberapa waktu lalu, tak sempat dan tak menyempatkan diri untuk sekedar menarikan jari-jemari di atas piranti canggih. Saya ingin kembali mengingat momen yang baru saya lewati. Dua bulan yang berkesan, di sekolah tengah kota. Dan bertemu dengan ragam karakter anak bangsa yang sedang berdjoeang mencari jati diri dan menggapai cita. 

Di SMK Ketintang saya melabuhkan waktu dua bulan. Ya, di tengah kesibukan ganda lain; antara kerja dan kuliah. Saya ingin menikmati keduanya, karena bagi saya, itulah ungkapan syukur selain mengucap kata. Tindakan nyata dengan kesungguhan meniatkan segala sesuatunya untuk beribadah kepadaNya. Bukankah kita adalah makhluk Allah yang diciptakan di dunia untuk beribadah kepadaNya? Jadi sangat naif bila ada tendensi lain dalam hidup selain mengambil petunjuk dari Allah semata. 

Kembali ke topik awal, kenapa saya dua bulan di Sketsa (julukan SMK Ketintang-red). Tak lain  karena saya dan beberapa mahasiswa lain yang berada di semester tujuh dan angkatan 2010, yang "bernasib sama" memprogram matakuliah yang bernama PPL. Apa itu PPL? Dan mengapa menjadi menu wajib bagi kami-kami semua?

PPL adalah matakuliah yang harus ditempuh bagi mereka yang mengambil kuliah di jurusan kependidikan. Tentu saja karena kepanjangan dari PPL adalah Program Pengalaman Lapangan, maka PPL kita anggap saja sama dengan anak-anak SMK yang sedang ber-praktik di perusahaan-perusahaan, pabrik, mal, dan tempat-tempat lain sesuai dengan jurusan yang ditempuhnya. Begitu pun juga dengan kami, yang menempuh matakuliah dengan bobot 2 (dua) SKS ini, juga wajib memprogramnya jika masih ingin lulus dengan gelar sarjana pendidikan (S.Pd).

Trus apa yang membedakan antara  PPL, PKL dan KKN??

Itu pertanyaan yang sering keluar dari pada murid yang saya ajar ketika di kelas. Kawan-kawan dari tempat kerja pun sering menanyakan hal serupa. 

Jadi, jika PPL itu harus ditempuh selama dua bulan di sekolah mitra/ lembaga pendidikan yang sudah dikategorikan oleh UPT-P4 (Unit Pelaksana Teknis Pusat Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan) atau yang mengurus bagian per-PPL-an, contohnya seperti Kemenag yang mengurusi haji, maka UPT-P4 ini juga yang menjadi tombak dalam menjalin relasi dengan beberapa sekolah mitra. Yang membedakan pertama adalah tempat untuk mendapatkan pengalaman dan mengasah keterampilannya. 

PPL jelas dilaksanakan disebuah lembaga pendidikan/ sekolah. Adapun PKL di sebuah perusahaan dan tempat usaha. Sedangkan KKN wajib di suatu daerah terpelosok dan terpencil. Tujuan melaksanakan PPL pun jelas untuk mendapatkan pengalaman mengajar. Sedangkan PKL goal-nya mendapatkan pengalaman di dunia kerja. Pun demikian dengan KKN, yang harapannya dapat memberikan sumbangsih yang nyata untuk masyarakat di sekitarnya. Seperti itu kurang lebih. 

Saya ingin berbagi cerita yang banyak, berbagi kebahagiaan saat mengajar dan bertemu dengan guru-guru senior yang sudah malang-melintang di dunia pendidikan dan pengajaran. Juga bertemu dan berinteraksi dengan para murid yang sungguh luar biasa. Maklum, pusat kota menawarkan beragam pilihan bagi para anak didik yang sedang mencari jati dirinya. Doakan bisa istiqamah dalam menulis. Agar keterampilan ini bisa semakin terasah, dan laptop yang belinya nyicil ini dapat memberikan sumbangsih dan daya guna. 

Kita sambut esok hari, mari kita tutup hari dengan ucapan alhamdulillah atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah beri ^^.


Kos Abah Kajat Tengah Wengi Sepi_

Saya (dua dari kanan) bersama kawan-kawan "T-Generation" PPL 2 SMK Ketintang Surabaya



13 June 2013

Semaikan Entrepreneur dari Kampus

Kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan Entrepreneur sebagai orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya.

Dengan ciri tersebut, maka entrepreneur harus memiliki kemampuan untuk berfikir kreatif serta imajinatif ketika ada sebuah peluang usaha dan bisnis baru, serta harus dapat memberdayakan dirinya untuk kebaikan sekitarnya, bukan orang yang memanfaatkan sekitarnya untuk kepentingan dirinya (lihat http://cahayaentrepeneur.blogspot.com).

Dari pengertian diatas, entrepreneur menjadi semacam kebutuhan yang harus dimiliki setiap orang yang menginginkan pada dirinya muncul sebuah hal-hal baru. Yang mampu mengelola hal-hal baru tersebut, tak hanya bagi dirinya sendiri, namun untuk khalayak luas.

Setali tiga uang dengan pengertian tersebut, maka peran mahasiswa sebagai agent perubahan (agent of change) dituntut untuk selalu dapat berpikir kreatif dalam menyelesaikan problem-problem yang ada di sekitarnya.

Dengan pola pikir yang kreatif dan imajinatif, mahasiswa tak terkungkung dalam stigma intelektual yang berada di menara gading, alias tak dapat bersentuhan dengan problem kehidupan yang multikompleks.

Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan menumbuhkembangkan jiwa entrepeneur ke dalam  sistem kurikulum pembelajaran di setiap kampus dan mengintegrasikannya tak hanya terbatas dalam sekat ruang kelas. Membagi porsi teori dan praktik yang memadai dengan dukungan sumber daya manusia pengajar yang mumpuni dan berkualitas, sehingga diharapkan tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.

Tiap mahasiswa yang memprogram matakuliah entrepeneur, diharapkan tak hanya mendapatkan wawasan tentang ke-entrepreneuran semata, namun lebih dari itu, mereka mampu memberikan produk pemikiran kreatif-imajinatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan problematika yang dibutuhkan masyarakat.

Manfaat lain dari matakuliah ke-entrepreneuran/ kewirausahaan yang apabila diterapkan di setiap perguruan tinggi adalah membentuk sikap mahasiswa yang mandiri, etos kerja tinggi, semangat pantang menyerah, berpikir kreatif-imajinatif, yang secara keseluruhan merupakan ‘roh’ yang harus dimiliki oleh setiap entrepreneur.

Sehingga, pola pikir sebelumnya yang mengatakan bahwa mahasiswa lulus kuliah untuk mencari kerja, berangsur-angsur akan terhapus dan terganti dengan predikat lulus kuliah dan  menciptakan lapangan kerja.

Diharapkan, dengan bertambahnya jumlah entrepreneur di negara ini akan berimplikasi pada kemakmuran dan kesejahteraan para penduduknya. Yang dapat berkompetisi tak hanya dalam tataran lokal, namun sudah mengglobal.

Semoga dengan demikian, sebutan pengangguran intelektual dapat segera terkikis habis dan tak pernah muncul lagi dalam pelbagai pemberitaan. (roelsebloe)    

Selengkapnya lihat:
http://beasiswadataprint.com/
www.dataprint.co.id      

http://cdn-media-1.lifehack.org/

15 April 2013

Ujian Nasional itu..

Adikku, jangan kau anggap beban kertas ujian yang ringan itu. Anggaplah beratnya setara dengan kapas yang terbang apabila tertiup angin. Bukankah menu latihan soal sudah kau lahap tiap hari dalam beberapa bulan ini..? Tentunya faktor mental akan dominan ketika hari H pelaksanaan ujian, bukan..? 

Adikku, ikhtiarmu tak pernah sia-sia jika kau landasi dengan niat yang benar. Bila hanya ingin lulus Ujian dengan nlai tinggi tapi mengesampingkan proses, apalah artinya ijazah yang akan kau terima nanti. Kerjakanlah sendiri semampunya. setelah itu bertawakallah. Janganlah meninggikan hati dengan mengesampingkan doa dan salat malam. Dan janganlah kebablasan dengan melakukan ikhtiar yang berlebihan dan tak ada tuntunan. 


8 April 2013

Dari Mimbar Khutbah

Jumat lalu (5/4), setelah merampungkan tugas Observasi perdana Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di SDN Lidah Wetan (Liwet) IV/ 566, serta melanjutkannya dengan perkuliahan Outdoor Education (Outed) yang sudah masuk dalam fase Ujian Tengah Semester (UTS), saya bergegas melanjutkan "panggilan" untuk menyegerakan kewajiban bagi setiap mukmin yang datang saban Jumatnya. Kewajiban yang termaktub dalam surah Al Jumuah ayat 9-10 itu rencananya akan saya tunaikan di Masjid Al Huda, Karah Agung-Jambangan, Surabaya. Lokasi masjid yang berjarak kurang lebih 7-8 kilo dari rumah singgah di Lidah, ditambah padatnya lalu lalang kendaraan sepanjang perjalanan tak menyurutkan niat yang sudah membulat. 

Sebenarnya untuk menegakkan salah satu syariat agama ini, tak jauh dari rumah singgah sementara ada masjid Al Kubro yang berjarak hanya selemparan batu. Jika mau bergeser sedikit ke arah barat, tepatnya di Lidah Kulon, ada masjid Al Qohar yang berada di samping jalan utama Lidah Kulon-Lakarsantri. 
Dan apabila mau, di kampus Lidah juga ada Masjid Baitul Makmur 2 yang juga menyelenggarakan ibadah salat Jumat. Namun, lagi-lagi kembali dengan pilihan. Bukan masalah jauh-dekat, namun ada sesuatu yang membuat hati tak dapat berpaling dari ketertarikan terhadap rumah-rumah Allah pilihan yang banyak bertebaran.