Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

22 December 2015

Ketika Tongkat Musa Berbicara

Inspirasi bisa datang dari manapun. Membaca buku, majalah, membuka ranah maya, atau ketika bertemu seseorang. Ya, bertatap muka dengan orang-orang berilmu salah satunya. Bersyukur ketika lahan mujahadah, 'jalan perjuangan para ksatria ilmu' tempat kita berpijak memfasilitasinya.

Aster Hotel menjadi kali kedua  labuhan ilmu. Jika tahun lalu, acara dikemas dengan nama family gathering. Tahun ini, hotel yang diresmikan Wali Kota Eddy Rumpoko tersebut menjadi tempat berlangsungnya kegiatan rihlah ruhiyah (wisata rohani/ spiritual trip) SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Kegiatan sebenarnya setali tiga uang dengan unsur rekreatif di dalamnya, namun dikemas dengan semangat ilmu. Untuk itu, jajaran pimpinan sekolah mengundang Pak Nur Cholis Huda dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, untuk memimpin jalannya 'perjalanan wisata' selama kurang lebih dua jam pada senin malam (21/12).

Bertempat di ruang rapat hotel yang berkapasitas kurang lebih 50 orang itu, Pak Nur, sapaan akrabnya, membawakan materi tentang Komunikasi Islami. Gaya penyampaian yang tidak monoton dan segar menjadikan suasana malam itu begitu semangat dan hidup. Setiap sub materi yang berkaitan dengan materi pokok selalu diiringi dengan cerita berkesan. Ya, penulis buku yang kini genap berusia 63 tahun itu selalu menyampaikan makna yang tersirat dari apa yang 'tersurat' yang ditampilkannya melalui slide.

Seperti ketika sampai pada Qaulan Layyina, perkataan yang lemah lembut. Seperti perintah Allah pada Musa dalam Quran Surat Thaha, agar Musa memberikan perkataan yang lembut pada Umara (Firaun) agar terbuka hatinya. Pak Nur kemudian mengaitkan dengan peristiwa yang mengesankan yang pernah dialaminya.

Syahdan, pada saat orde baru berkuasa, dengan Pak Harto sebagai pemimpin tunggalnya. Apa-apa yang menjadi titah Presiden harus diikuti oleh para menteri dan bawahannya. Tak terkecuali ketika Pak Harto menginginkan terjadinya dualisme kepemimpinan pada saat pemilihan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar Aceh 1995. Pak Amien Rais sebagai calon ketua terkuat, digoyang posisinya. Namun, tak dinyana, para muktamirin menyerahkan mayoritas dukungan pada doktor ilmu politik itu. Kandas misi Pak Harto. Dan akhirnya Presiden ke-2 RI itu membuat statement jika dia adalah kader Muhammadiyah yang ditanam untuk bangsa dan negara. Sejak saat itu hubungan eksekutif dengan Persyarikatan menjadi hangat. Bahkan banyak pejabat yang mengaku menjadi warga Muhammadiyah, meski hanya sekedar pernah menjadi siswa di sekolah Muhammadiyah atau pernah lahir di rumah sakit Muhammadiyah.

Namun situasi menjadi berubah, kata Pak Nur, ketika Pak Amien menyuarakan isu suksesi. Hubungan pemerintah dengan Muhammadiyah menjadi dingin. Termasuk pada tataran dibawahnya, antara Kodam, Gubernur dengan PWM atau Kodim-Bupati dengan PDM. Kondisi hubungan semakin renggang, ketika Pak Amien yang terkenal vokal dan kritis pada kebijakan Pak Harto yang  tidak pro rakyat.

"Sampai kemudian Pak Amien silaturahim dengan PWM Jatim," lanjut Pak Nur. Saat itu ketuanya adalah Ustadz Abdurrahim Nur, Allahuyarham. "Duduk menemui Pak Amien ada Pak Rahim, Pak Fasich, Pak Mu'ammal, dan saya sendiri," kenang Kakek lima cucu tersebut.
Kemudian terjadilah dialog, yang pada intinya, Pak Rahim menyampaikan kondisi hubungan PWM dengan instansi pemerintahan yang kurang harmonis. Pak Rahim kemudian bertanya pada Pak Amien, "Adakah manusia yang lebih kejam dari Fir'aun?"
"Tidak ada"
Kemudian Pak Rahim membacakan ayat ke 36 pada QS. Thaha yang menekankan perlunya Qaulan Layyina pada pemimpin. Seperti Musa yang diperintah Allah untuk berkata yang lemah lembut pada Fir'aun.
Karena sama-sama "berilmu". Pak Amien pun menyampaikan pendapatnya, jika menghadapi pemimpin ada tahapan-jenjangnya. "Jika Firaun itu tidak bisa diingatkan dengan perkataan yang lemah lembut, maka tongkat Nabi Musa yang berbicara. Nah, pada Pak Harto ini sudah masuk pada tahapan tongkat yang berbicara. Karena sebelumnya sudah disampaikan dengan wacana suksesi."
Pak Nur menjadi inspirasi para guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Memberi wejangan tanpa nasehat, mengajak nalar untuk berpikir dalam derap cerita dan kisah yang dibawakannya.

Merangkai kata dari kamar Hotel sampai kampung halaman
21-26 Desember 2015
^^,v

24 October 2015

Umbul-umbul dan Eleganisme

Siang itu aku berangkat ke kota pahlawan, bukan untuk ikut kirab hari santri yang masih kontroversi, tapi aku pergi ke pusat elektronika yang ada di kota buaya, menunaikan amanah dari mamakku.

"Le, tolong antar adikmu beli laptop. Kasihan dia, tugas-tugasnya banyak."

Kata-kata lembut itu mengalir pelan dan dalam.Terngiang betapa perjuangan Bapak dan Ibu yang bekerja keras untuk dapat mengumpulkan rupiah demi rupiah agar dapat membelikan adik laptop baru.

Pikiranku yang masih membayangkan nasihat ibu, tertimpuk pada barisan bendera partai yang berjajar di tepi jembatan ketika aku melintasi layang jenggolo. Ada yang mengusik mata, ketika bendera partai itu bersanding dengan bendera ormas yang menjadi jalan jihadku. Nasib tidak lebih baik karena disamping kalah ukuran, juga tertinggal dalam pandangan marketing. Tiang bendera partai lebih tinggi, kibarannya lebih elegan.

Sering kami melihat pemandangan seperti itu. Bendera ormas yang dipasang asal-asalan, asal nempel. Dilihat dari segi estetika sangat kurang. Belum lagi yang dengan asal dipaku di pohon. Termehek-meheknya kita disitu. Untungnya masyarakat kota udang tidak sereaktif warga urban.

Kadang kita juga iri dengan beberapa ormas yang notabene sempalan, namun sangat menjual. Banner dipasang begitu elegan di tepian jalan, tanpa mengusik kerindangan tanaman. Dari sisi marketing terutama branding sudah didapatkan.

Nah, kita yang konon menjadi organisasi modern masih sangat konvensional dalam sisi publikasi. Kita tidak dapat menyalahkan sebagian kemudian membenarkan yang lainnya, karena organisasi ini adalah milik umat. Kita jaga bersama. Namun, keberlimpahan sumber daya yang unggul belum ditangkap para stakeholder 'kasta tertinggi' sebagai sebuah potensi. Padahal bila mau membuka mata, ada banyak bibit-bibit potensial yang apabila dipoles dengan sedikit motivasi dan dorongan menjadi sebuah keunggulan.

Saya jadi terngiang tulisan Munif Chatib pada bukunya "Sekolah Manusia", pada halaman prakata dia menyampaikan pandangannya yang kurang lebih isinya adalah tentang non-muslim yang mengambil banyal faedah dari Islam. Ibarat sumur. Islam adalah mata air yang tak kering. Non-muslim sering menimba dan mengambil air itu dengan pompa. Sedangkan kita, umat muslim mengambil air itu bukan dengan pompa, tapi dengan sebuah timba, bocor pula. Na'udzubillah.
Kata praktisi pendidikan asal kota udang itu, kita kalah dalam metodologi. Sehingga dalam segi yang lebih luas, mereka (non-muslim) sudah berlari kencang, sementara kita terseok-seok, terpincang-pincang, bahkan sesekali kaki kita tersandung, kemudian kita mengaduh.

Gedang, 14 Rabiul Awwal 1437 H

30 September 2015

Kisi-Kisi UTS Penjas Musasi 2015-2016

Assalamu'alaikum..para generasi emas Musasi. Silakan bagi yang mau mengunduh Kisi-kisi Ulangan Tengah Semester Ganjil 2015-2016.

Kalian bisa membukanya disini

Salam sehat, aktif, dan beribadah selalu. Matur tengkyu :)

23 August 2015

Nyanyi 17-an

Entahlah sejak kapan saya suka bernyanyi. Sejak jaman TK ketika diajari Ibu Guru menyanyikan lagu anak-anak. Ataukah meloncat saat jaman SMP yang gemar nge-band. Tapi yang jelas, saya suka dengan orang menyanyi. Baik sendiri (solo) maupun berkelompok (band).

Ketika jaman anak-anak dulu ada nama Joshua dan Cikita Meidy. Ada juga Dea Ananda yang menyanyikan lagu Nabi dan Rasul. Dari nyanyian itu saya jadi hafal nama-nama Nabi yang berjumlah 25 tersebut. Kemudian ada grup band Dewa dan Sheila on 7. Lagu-lagu mereka suka saya tirukan ketika berkostum putih-biru (SMP). Sampai-sampai saya hunting kaset dan CD-nya di lapak-lapan kali lima di seputar pertokoan Porong.

Afiliasi saya berubah ketika SMA. Berada di asrama rasa-rasanya tiada hari tanpa mendengarkan lagu. Karena belum familiar dengan hape MP3, radio menjadi barang yang penting saat itu. Stasiun radio yang sering kami incar tuningnya adalah M-Radio. Ketika sampai pada channel tersebut, kita tak perlu gonta-ganti saluran untuk mendapatkan lagu yang kita inginkan. Karena dari M-Radio saja sudah cukup, dia (M-Radio) tak pernah berhenti memutar lagu-lagu yang sedang hits pada saat itu. Maka selera saya pun berganti pada grup Band Ungu. Salah satu alasannya adalah karena Ungu dapat mengerti dan mewakili perasaan hati saya pada saat itu, hehe..

Menginjak dunia kerja dan kemudian jadi mahasiswa, saya mengenal Maher Zain. Lagu-lagunya kemudian saya unduh dan saya mainkan pada laptop Pentium 3. Tentu mengunguhnya bukan pada laptop yang berharga 100 ribu itu. Tapi pada warnet, yang kemudian saya simpan pada laptop yang bermerk IBM itu. Selera saya itu sampai sekarang bertahan. Sedikit selingan dengan Sami Yusuf dan beberapa nama penyanyi yang bergenre religi.

**

Tujuh belasan kemarin. Sekolah kami, SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo mengadakan beragam lomba. Mulai dari lomba untuk siswa seperti story telling, catur, menyanyi solo, desain batik, melukis, sampai pada cipta puisi. Tak ketinggalan juga ada lomba yang khusus untuk para Guru. Nama keren lombanya adalah Singing Contest. Lagu yang dinyanyikan juga seputar lagu-lagu nasional seperti Tanah Airku , Satu Nusa Satu Bangsa, dan Indonesia Tanah Air Beta. Lomba dinyanyikan secara berkelompok berdasarkan rumpun mata pelajaran.

Para peserta yang merupakan Guru-guru dari latar belakang yang beragam, tampil heboh dan menggetarkan panggung kecil yang berada di kantin. Para penonton yang terdiri dari Guru dan sebagian murid itu bersorak-sorai. Para penonton meyakini, ternyata mereka (para guru) juga banyak yang bakat nyanyi.

Saya dan teman-teman Guru Penjas dapat nomor urut sebelas. Bersepakat juga membawakan lagu nasional Tanah Airku. Untungnya berada pada urutan akhir adalah bisa menilai kelebihan dan kekurangan para peserta yang sudah tampil sebelumnya. Dari situ kemudian ada kesimpulan: harus ada diferensiasi. Jika kita tampil dengan hanya berbekal nyanyi lagu tanpa ada sesuatu nilai lebih, maka kita hanya menjadi peserta yang biasa-biasa saja. Kami (guru penjas) akhirnya bersepakat untuk mengusung puisi menjelang penutupan lagu tersebut. Kami mencari kertas. Kami pinjam bolpoin, dan kurang dari lima menit akhirnya jadi puisi. Tak banyak, hanya beberapa bait. Menyesuaikan dengan durasi lagu.  

***

Menjelang salat dhuhur, diumumkan para pemenangnya. Di grup WA Guru Penjas, ada kata-kata semangat dan antusias. Saya belum percaya jika kami menang. Tapi kenyataannya seperti itu. Guru Penjas pun bisa seni, seni bernyanyi dan berpuisi..


Juwet, 230815


3 August 2015

Putih, Hitam, dan Abu-abu

Coretan ini tidak bermaksud untuk ujub pada diri. Hanya sebuah muhasabah yang niatnya tidak lain untuk pengingat pribadi agar istiqamah dalam niat dan ikhlas beramal hanya karena Allah Ta'ala semata. Sekedar introspeksi juga, karena berlalunya waktu kadang mengaburkan hakikat tujuan sebenarnya.

Beberapa bulan yang lalu sekolah mengadakan lomba blog antar guru dan karyawan. Lomba yang mempunyai tujuan mulia, yakni menggerakkan dan membumikan budaya literasi. Kita tahu, kondisi terkini budaya literasi kita (tak hanya sekolah) masih kembang kempis.

Kemarin Rabu (29/7), pemenangnya sudah diumumkan. Dibagi menjadi tiga kategori: tampilan, media pembelajaran, dan isi (konten). Lomba yang digagas teacher blogger Edy Prawoto ini diikuti sebagian besar guru di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Kurang lebih dua sampai tiga bulan penilaian dilakukan. 

Alhamdulillah blog “Roelsebloe in Blog” (RiB) menggaet nominasi konten. Sebuah capaian yang sebenarnya bisa dikatakan masih jauh dari wujud ideal. Entah, dari kacamata mana Pak Edy menilai blog ini menjadi terbaik kontennya.  Bila dibandingkan dengan blog yang dikelola beliau: Laci Guru, ibarat menara Eiffel dan BTS, hehe..

Blog ini sebenarnya muali dirintis sejak 2010 silam. Ketika pertama kali menginjak bangku perkuliahan. Sebagai "balas dendam" karena 'terprovokasi' tulisan pada bukunya Pak Romi Satria Wahono (RSW). Dalam buku kecil dengan sampul warna putih itu, para pembaca--termasuk saya-- di-brainstorming agar dalam hidup tidak melepas kata Perdjoeangan. Sebuah kata yang dulunya digemakan para pahlawan perebut kemerdekaan. Sehingga, ketika makna perdjoeangan itu dihadirkan dalam hidup, maka keluh kesah dan galauism terlempar ke luar arena kehidupan. Hehe..

Saya secara pribadi uluk salam dan hormat pada guru-guru kehidupan yang bertebaran memberi inspirasi, motivasi, dan membulatkan tekad perdjoeangan. Doa-doa moga selalu terpanjatkan pada Allah agar segala kebaikan dibalasNya dengan berlipat ganda, Aamiin. 

Belum berhenti. Dua kata itu setidaknya memberikan tantangan pada para pemenang. Budaya literasi sebagai ujung tombak lahirnya generasi pemimpin bangsa yang mumpuni seolah menjadi suatu hal mutlak. Harus ada program yang berkelanjutan-berjenjang yang harus dipikirkan bersama.

Setidaknya ada tim kreatif untuk melaksanakan misi dan tujuan mulia agar sekolah bisa berdaya dengan literasi. Blog ini hanya sedikit partikel dari keseluruhan partikel sukses anak-anak didik. Dibutuhkan kumpulan-kumpulan yang lebih banyak dan saling terhimpun serta menguatkan satu dengan yang lain. 

Akan ada penyesalan ketika amanah yang sudah teremban bergerak timpang dan saling tumpang tindih. Ada sebuah tantangan yang harus didaki. Gunung mayantara, yang jika tidak disinari warna putih akan menjadi hitam pekat. atau ketika cyber mountain tak disinari dengan cahaya terang mencerahkan, maka disana akan bias dengan keabu-abuan. Menjadi tempat nyaman melahirkan generasi dengan sikap ragu yang dominan.

Meski berat, kita harus kuat menghadapi tantangan dunia pendidikan di era postmodern kali ini. Berpikir kreatif sebagai laku ikhtiar harus ditempuh. Diimbangi dengan gerak dinamis dan jalinan tim yang solid. 

Ditulis bersambung,
Jasem-Porong, 16-17 Syawal 1436 H/ 1-2 Agustus 2015

http://www.ciscolive.com/