Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

15 November 2011

Biografi Irfan Bachdim


JUARA 2 LOMBA JURNALISTIK SE-FIK Unesa 2011

      
“Irfan Bachdim, Sosok dan Kiprahnya sebagai Pemain Sepak Bola”
http://www.sundul.com/

Berkat penampilannya yang impresif selama pagelaran Piala AFF 2010, nama Irfan Bachdim kian dielu-elukan pecinta bola tanah air. Ya, pemain bernomor punggung 10 itu siap memberikan penampilan terbaiknya kembali untuk  memperkuat Timnas Garuda pada ajang SEA Games XXVI/2011 di Jakarta, November mendatang. Namun, dibalik kesohoran namanya sekarang, siapa sebenarnya Irfan Bachdim? Apa motivasi pemain blasteran Indonesia-Belanda itu untuk berkostum Timnas Garuda?
I
rfan Haarys Bachdim, pemain muda Timnas Indonesia kelahiran Amsterdam 22 tahun yang lalu itu, sebelumnya hanyalah seorang pemuda biasa yang sejak kecil mencintai sepak bola. Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Noval dan Hester Bachdim tersebut  belasan tahun menimba ilmu sepak bola di Negeri kincir angin, Belanda. Sejak kecil,  Irfan, sapaan akrabnya, memang dibesarkan di Negara kekuasaan ratu Beatrix tersebut.  Pada 1999 saat usianya masih sangat belia, 11 tahun, Irfan Bachdim sudah mencicipi atmosfer salah satu liga terbaik di Eropa, Eredivise, (kasta tertinggi dari  Liga Belanda) junior. Meski pada saat itu ia bergabung dengan tim level dua Ajax Amsterdam Junior, namun pengalamannya bermain pada kompetisi Eropa membentuk skill dan visinya dalam mengolah si kulit bundar. Praktis, selama 3 tahun membela klub andalan kota Amsterdam itu, memberikan pengalaman berharga dan membentuk dasar cara bermain bola yang baik baginya. 
 Keinginan  pemain yang mengidolakan Ricardo Kaka-punggawa timnas Brasil- itu untuk mempertajam skill mengolah si kulit bundar membawanya untuk hijrah dari kota Amsterdam. Tahun 2002, mengantarnya merumput di salah satu klub Liga Amatir Belanda, SV Argon. Saat membela SV Argon itulah  bakat dan talenta Irfan Bachdim mulai terlihat. Tak butuh waktu lama bagi Irfan untuk beradaptasi dan meningkatkan skillnya. Pada tahun perdananya bersama klub barunya itu, pemain bertinggi badan 172 cm tersebut memperoleh gelar top scorer (pencetak gol terbanyak) Liga Amatir Belanda U-15 dan masuk kategori Top Five Best Player (lima besar pemain terbaik). Berkat torehan gelar yang diraihnya,  Irfan Bachdim menjadi incaran banyak klub-klub Liga Belanda. Tahun 2003, ia pun berlabuh ke markas  FC Utrecht Junior. Di klub barunya yang berlaga pada kompetisi Eredevise Junior  itu, pemain yang berulang tahun setiap tanggal 11 Agustus tersebut memulai debutnya kembali di pentas Liga Profesional Belanda. Tim kesebelasan  yang ber-home base di kota Utrecht itu, merupakan tim terlama yang ia bela selama menjadi pemain profesional. Dan memasuki  musim 2008, saat usianya baru beranjak 20 tahun, ia sudah berhasil merangsek masuk ke jajaran tim FC Utrecht senior. Sebuah kemajuan yang bisa dikatakan luar biasa, mengingat banyaknya pemain dari berbagai negara yang bersaing untuk masuk level senior. FC Utrecht sendiri bersaing dengan ketat di kasta tertinggi kompetisi Liga Belanda, Eredivise. Setahun kemudian, tepatnya pada musim 2009, Irfan Bachdim hijrah ke klub HFC Harleem di kompetisi yang sama.
Hijrah ke Indonesia
Berangkat dari motivasi sang kakek, Ali Bachdim, agar pemain yang mempunyai spesialisasi kaki kiri tersebut menimba pengalaman bermain bola di luar Belanda. Maka Irfan pun memilih Indonesia. Faktor keturunan dan kedekatan emosional adalah salah satu  sebab ia menjatuhkan pilihan pada negara asal kakeknya itu. Awal 2010 ia pun hijrah ke Indonesia. Dua klub yang berkompetisi di Liga Indonesia kala itu, Persija Jakarta dan Persib Bandung menjadi tujuannya. Namun sayang, kenyataan pahit harus diterimanya.  Benny Dollo dan Jaya Hartono, dua pelatih yang membesut Persija Jakarta  dan  Persib Bandung kala itu lebih memilih pemain seleksi lain. Mau tak mau Irfan pun harus angkat koper lebih awal dan kembali ke Belanda, negeri kelahiran ibundanya, Hester van Dijic.  
            Mentalitas kuat dan pantang menyerah yang dimiliki Irfan, membuat ia semakin semangat dalam memperbaiki kekurangannya. Pasca penolakan dari Persib dan Persija, ia semakin intensif dalam mengolah skill dan visinya dalam bermain bola. Dan seolah menjadi kado spesial pada ulang tahunnya yang ke-21 pada Agustus 2010 , dia diundang pada Charity Game (pertandingan amal) yang diselenggarakan di Surabaya dan Malang. Irfan tak datang sendirian, ia bersama beberapa pemain keturunan Indonesia lainnya yang tersebar di beberapa klub Liga Belanda dan belahan Eropa lainnya. Salah satunya adalah Kim Jeffrey Kurniawan, yang tak lain adalah adik dari kekasihnya, Jennifer Kurniawan.  
            Seakan ingin menunjukkan  kemampuannya, aksi Irfan Bachdim pada laga Charity Game tersebut sangat impresif. Banyak yang terpikat oleh aksi menawan yang diperlihatkan olehnya. Salah satunya adalah Timo Scheuman. Pelatih Persema Malang. Ia pun secara langsung memuji penampilan Irfan yang menurutnya mempunyai skill diatas rata-rata pemain Indonesia. Timo pun mengungkapkan ketertarikannnya pada Irfan Bachdim karena dia dapat beroperasi di segala posisi serta memiliki umpan dan tendangan yang akurat. Gayung pun bersambut , Irfan pun bergabung dengan Persema untuk kali pertama meski dengan nominal kontrak yang relatif kecil. Namun, hal itu bukan menjadi persoalan besar baginya. Karena Ia sudah melewati satu anak tangga. Jalan pun lebih terbuka baginya untuk berkostum Timnas Garuda.
Menuju Timnas Impian
          Bersama klub barunya Persema Malang, Irfan Bachdim  menunjukkan performa terbaiknya. Penampilan yang impresif disertai skill mengolah si kulit bundar yang  mumpuni membuat pelatih kepala Timnas Merah Putih, Alfred Riedl memanggilnya untuk bergabung di Tim Nasional. Aksi Irfan Bachdim yang ciamik pun terus berlanjut. Tatkala ia membela Timnas berlaga pada piala AFF 2010 di Jakarta. Ia berhasil menyumbang 3 gol selama perhelatan kejuaraan sepak bola se-ASEAN tersebut, meski pada laga Final harus takluk dari Malaysia. Berkat aksi menawan Irfan Bachdim selama perhelatan Piala AFF 2010, membuat banyak pendukung Timnas mengidolakannya. Ia pun seolah menjadi selebriti baru di Timnas Garuda. Berbagai surat kabar dan situs jejaring sosial menempatkan namanya dalam daftar trending topic.
Namun hal tersebut tak berselang lama. Persema Malang, klub Indonesia pertama yang mengontraknya, memilih untuk keluar dari kompetisi Indonesia Super League (ISL) untuk memilih berkompetisi di Liga Primer Indonesia (LPI). Bukan tanpa sebab klub yang dibela Irfan tersebut keluar dari ISL. Selain karena sistem kompetisi yang sudah tidak sehat lagi, yang salah satu  indikasinya adalah karena banyak terjadi pengaturan skor dan permafiaan wasit. Keluarnya klub yang dibela Irfan Bachdim, Persema Malang, dari pentas kompetisi ISL mendapatkan reaksi keras dari para penguasa PSSI. Termasuk Nurdin Halid. Sebagai seorang pemegang tampuk kekuasaan tertinggi dari otoritas organisasi sepak bola nasional, ia pun mengancam akan memberikan sanksi kepada para pemain Timnas yang ikut berlaga di LPI, termasuk Irfan Bachdim. Sanksi tersebut adalah pelarangan pemain yang bersangkutan untuk  membela Timnas Merah Putih kembali. Aksi pencekalan tersebut tetap tak menggoyahkan pendirian Irfan Bachdim. Ia tetap patuh pada aturan kontrrak dengan klubnya, Persema Malang. Pendirian yang kuat dari Irfan Bachdim tersebut memberikan konsekuensi pencoretan namanya dari daftar pemain Timnas U-23 untuk proyeksi pra-Olimpiade.
Aksi arogansi yang diperlihatkan PSSI tersebut  mendapatkan reaksi keras dari para pemerhati sepak bola nasional. Banyaknya kecaman dan protes yang dilontarkan, tetap membuat PSSI bergeming. Pihak PSSI tetap kekeuh pada keputusannya. Kengototan PSSI tersebut membuat  Menpora, Andi Mallarangeng bereaksi keras, ia mengatakan, tidak boleh ada diskriminasi dalam sepak bola, selama pemain tersebut masih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) maka terbuka lebar jalan untuk membela  Timnas.
Kebohongan publik yang dilakukan PSSI dengan dalih berlindung di bawah statuta FIFA, pada akhirnya sampai juga ke telinga pengurus federasi sepak bola seluruh dunia itu. Akhirnya FIFA pun  menunjuk Komite Normalisasi (KN) untuk melengserkan Nurdin Halid dari kursi kekuasaan PSSI yang sudah beberapa tahun didudukinya. Sampai pada akhirnya, komite yang dikepalai oleh mantan ketua umum PSSI Agum Gumelar tersebut memberikan kebijakan baru. Salah satunya adalah menggandeng LPI yang selama ini dianak tirikan oleh PSSI dan dianggap sebagai liga kampungan alias tarkam. Kebijakan yang digulirkan tersebut memberikan banyak dampak positif, salah satunya adalah mengakomodasi para pemain yan dulu dibuang oleh PSSI. Mereka yang  tetap memperkuat klubnya yang bergabung ke LPI, Diberikan kesempatan untuk kembali bergabung, membela, dan berkostum Timnas Merah Putih.
Dan sekarang Irfan Bachdim beserta para talenta muda lain, kembali dipanggil untuk mengikuti seleksi Timnas proyeksi SEA Games XXVI/ 2011. Banyak kalangan memprediksi, sinar Irfan Bachdim akan kembali cemerlang saat membela Timnas seperti halnya saat memperkuat pasukan Garuda berlaga di Piala AFF 2010 lalu. (Darul Setiawan)  

Biodata Irfan Bachdim
Nama                   : Irfan Haarys Bachdim
Lahir                     : Amsterdam, Belanda, 11 Agustus 1988
Tingggi                 : 172 cm
Posisi                   : Gelandang dan Penyerang
No. Punggung      : 10

KARIR KLUB

Ø  1999-2001       Ajax Amsterdam (Junior)
Ø  2002                SV Argon
Ø  2003-2007       FC Utrecht (Junior)
Ø  2008-2009       FC Utrecht (Senior)
Ø  2009                HFC Haarleem (Senior)
Ø  2010                Persema Malang (Senior)

KARIR TIMNAS

Ø  2010                Timnas Senior Indonesia

PRESTASI

Ø  Top Score Liga Amatir Belanda U-15 2002
Ø  Top Five Best Player 2002 Liga Amatir Belanda

TENTANG IRFAN

Pemain Favorit             : Ricardo Kaka (Real Madrid/Brasil)
Hobi                              : Main game
Makanan Kesukaan    : Rawon
Orang Tua                     : Noval dan Hester Bachdim
Saudara                         : Fardy Bachdim, Nadia Bachdim (kakak)
                                         Nofri Bachdim (adik)
Kakek                           : Ali Bachdim

3 November 2011

Lika-Liku Menuju Olahraga Kartu



            Pagi itu, hari Jumat 28 Oktober 2011,  bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, sumpah yang menjadi cambuk semangat bagi para pemuda Indonesia, cuaca yang cerah  namun jalanan Surabaya sudah macet parah. Setelah selesai dari suatu tugas di Graha Pena, aku akan berencana  melanjutkan tugas lain. Dengan salah satu teman yang ‘bernasib’ sama, Adi Yudha, aku berangkat menuju ke sebuah kampus, yang bedanya dengan kampusku hanya dari kata-kata ‘negeri nya’, ya, Universitas Surabaya atau  Ubaya. 
            Setelah start dari ex-baliho iklan Suryo Agung di Joyoboyo, aku dan Yudha melewati jalan protokol A. Yani. Sengaja tidak memilih jalan tembus Jagir Wonokromo, karena hanya satu alasan, belum tahu jalan tembusannya kemana, itu saja. Maka, berbekal informasi dari salah satu teman di Graha Pena, akhirnya kami pun melewati A. Yani dan berbelok ke kiri ke arah timur jalan Rungkut Industri. Tak seberapa jauhnya, setir motor shogun kubelokkan kekiri, menuju ke jalan Kendangsari, “Lurus aja jalan Kendangsari sampai mentok,” ingatku mengingat kata-kata petunjuk dari temanku itu, yang kebetulan rumahnya tak jauh dari kawasanyang akan kami tuju. Akhirnya, setelah kurang lebih 2-3 kilo menyusuri jalanan yang beraspal, akhirnya sampai juga di kawasan kampus yang menjadi jujugan studi dari salah seorang temenku di kampung. 
            Dari jarak puluhan meter, atap kampus tersebut sudah dapat dijangkau oleh pandangan mata, kampus yang megah dengan desain yang modern, banyak ditumbuhi pepohonan, begitu gambaranku sebelum memasuki gerbang kampus tersebut. Gambaranku tersebut ternyata hampir benar seratus persen, karena setelah menerima karcis motor dari seorang petugas kemanan, kenyataan di lapanganpun menjawab demikian, megah, bersih dan modern. Sepanjang perjalanan menuju ke Fakultas Teknik Informatika, setiap jengkal pandangan dimanjakan dengan banyaknya taman serta gazebo yang menjadi destinasi favorit para mahasiswa yang mengenakan jas almamater hijau dongker tersebut. aku pun hanya bisa membayangkan jika hal itu, suatu saat akan menjadi sebuah kenyataan di kampusku yang hanya beda status ‘negeri’ itu. Tidak jauh-jauh, harapanku di fakultasku sendiri, FIK, semoga fasilitas tersebut tidak menjadi sebuah barang langka atau mewah. Aku pun membayangkan jika hal tersebut menjadi kenyataan, tentunya akan banyak hal positif yang bisa didapat di lingkungan akademik kampus. Salah satunya, mengurangi jumlah mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang) alias agar mereka bisa lebih kerasan di kampus daripada di kos-kosan. Dampak lainnya, gairah mencintai kampus akan mendalam dan ikatan emosional akan terbentuk seiring dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan di lingkungan kampus.
            Menuju ke lantai dua, dimana letak ruangan dosen Fakultas Teknik Informatika tersebut berada, kami bertemu Bapak Bambang Priambodo, M.MT, seorang dosen yang sekaligus menjadi Ketua Bidang Organisasi GABSI Jawa Timur, dengan senyumnya yang  ramah , beliau mempersilakan kami untuk duduk di sofa yang berada didalam ruangan dosen tersebut, yang memang sudah diperuntukan untuk para tamu. Kedua mataku tak hentinya mengeksplorasi setiap sisi ruangan. Selain sisi penataan ruang yang dinamis, kesan yang ditampilkan di ruang dosen tersebut juga bersih dan modern. Meski tidak terlalu luas betul namun sekat-sekat yang memisahkan dibuat sefungsional mungkin sehingga aspek kenyamanan dan manfaat ruangan tersebut sama-sama tidak mengurangi nilai estetik yang ada. Pun dengan udara didalamnya, cukup sejuk dan tidak terlalu dingin, relatif tidak seberapa kontras dengan lingkungan disekitar yang banyak ditumbuhi banyak pepohonan yang hijau nan rindang. 
            Kami pun memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud dan tujuan kami menemui beliau, yang tak lain untuk mendapatkan informasi tentang istilah-istilah didalam cabang olahraga Bridge, mengenal sejarahnya, aspek-aspek permainan, peraturan serta cara permainannya olahraga otak tersebut. Selain itu, maksud kami yang lain adalahuntuk mendapatkan legalitas dari rangkaian tugas mata kuliah Manajemen Penjasor itu. Beruntung aku dan temanku, Yudha mendapatkan undian olahraga Bridge, selain karena olahraga tersebut unik, karena tidak seperti halnya olahraga lain yang mempergunakan fisik, pada cabang olahraga Bridge lebih dikedepankan kemampuan otak, meskipun aspek fisik seperti stamina dan emosi juga tak kalah pentingnya. Olahraga Bridge, seperti halnya catur, selain ketenangan dan kesabaran, kemampuan otak dalam meramu strategi mutlak diperlukan.
Hal lain yang membedakan, selain dari media/ alat yang digunakan, Bridge menggunakan kartu sebagai media permainannya, termasuk juga dalam jumlah para pemainnya. Pada olahraga Bridge, pemain harus mempunyai partner yang bisa diajak kerjasama, baik dalam menyerang maupun dalam bertahan, dan membagi tugas dalam strategi yang telah disusun dan bisa satu hati. Artinya partner memiliki peran sentral dalam kemenangan sebuah tim, setidaknya partner memiliki kemampuan yang sama, baik dari kemampuan memahami strategi, tingkat permainan yang digunakan dan kemampuan menerima maupun menyampaiakan kode pada saat pertandinagan sedang berlangsung. Biasanya dalam satu meja pertandingan Bridge, haruslah dimainkan dengan minimal 4 orang pemain. Jika permainan beregu, permainannnya bisa sampai 6 pemain padasatu meja. Nah, karena sistem permainannya dengan melakukan penawaran (bidding) maka faktor perhitungan yang jeli sangat diperlukan dalam permainan ini. Tak lain karena partner kita haruslah paham dengan maksud sistem permainan yang akan kita terapkan dalam permainan bridge, itulah sebab mengapa olahraga bridge tidak selalu bergantung pada keberuntungan. 
Keberuntungan hanya berkisar 10 persen, dan hal itulah yang membedakan Bridge dengan paradigma yang berlaku di masyarakat saat ini: menyamakan semua olahraga yang menggunakan kartu dengan judi. Permasalahan tersebut setidaknya diungkapkan Pak Sudarno, Ketua Harian GABSI Jatim yang sekaligus Ketua Umum GABSI Kabupaten Sidoarjo. Beliau pun menambahkan, kalau mau objektif, semua jenis olahraga manapun bisa dikatakan dan dijadikan judi, tergantung kepentingan oknum yang bersangkutan, beliau mencontohkan mulai dari pos-pos kamling yang menggunakan permainan  papan catur sampai pada sepak bola, semuanya ada sesuatu yang berbau judi. Bridge yang menggunakan media kartu harus menerima kenyataan dicap sebagai satu-satunya olahraga judi, sungguh ironi.  
Padahal, jika mau objektif, Bridge sudah mengharumkan nama bangsa Indonesia di berbagai kancah kejuaraan dunia, yang terakhir, menempati peringkat kedua pada kejuaraan dunia di Belanda. Bandingkan dengan prestasi persepak bolaan kita, menjadi juara tingkat Asia Tenggara saja, sangat susahnya. Keuntungan yang lain, masih menurut Pak Darno adalah dapat meningkatkan intelegensia. Murid-murid SD maupun SMP yang menekuni olahraga Bridge, kemampuan akademik semakin baik daripada sebelumnya dan dibandingkan teman-temannya yang tidak menekuni Bridge. Kemampuan mengingat pun meningkat, dan dapat menghambat kepikunan, itu pula yang di rasakan oleh para pemain Bridge, temasuk Pak Sudarno sendiri yang sudah lebih dari 35 tahun menekuni olahraga asli dataran eropa itu. Kalau sudah tahu manfaatnya, kenapa kita harus ragu (lagi) dengan Bridge..??
           

28 September 2011

Kuliah Jurusan Olahraga, antara Stigma dan Realita

Sudah sering terdengar selentingan kabar, jika seorang mahasiswa yang kuliahnya mengambil jurusan olahraga, entah itu dalam program studinya dalam lingkup pendidikan, kepelatihan atau ilmu keolahragaannya dipandang  sebelah mata oleh sebagian orang. Pandangan mereka terhadap mahasiswa yang kuliah di ke-olahragaan adalah mereka kuliah hanya mengandalkan otot tanpa otak. 
Stigma tersebut sudah ada sejak zaman sebelum reformasi digaungkan atau tepatnya saat masa orde baru berlangsung (pertama kali sekolah olahraga dibuka). Menurut cerita dari para dosen, ketika dulu fakultasnya masih bernama STO (Sekolah Tinggi Olahraga), orang-orang sering memelesetkannya  bukan dengan arti yang sebenarnya, namun dengan istilah Sekolah Tanpa Otak.Mereka mengira kuliah di jurusan olahraga urusannya hanya berkutat dengan masalah fisik semata. Otot dinomorsatukan sementara otak dikesampingkan. 
Diakui memang, mahasiswa yang mengambil jurusan olahraga harus mempunyai fisik yang mumpuni. Karena kita menuntut ilmu di bidang keolahragaan, bukan kebatinan. Dan generasi awal  yang menempuh studi olahraga adalah mereka-mereka yang saat itu atau dulunya adalah para atlet. Karena mereka ingin melanjutkan karir menjadi seorang pelatih, pendidik atau seseorang yang ahli dalam bidang olahraga. Namun yang perlu digaris bawahi adalah sekolah dimanapun juga pasti mengandalkan otak. Dalam perkuliahan yang kami tempuh pun, kami tak hanya di-drill dengan mata kuliah yang berkutat pada tataran praktek, namun yang tak kalah adalah dari sisi intelektualitas yang dikedepankan. Psikologi, Sosiologi, Fisiologi, Biomekanik pun diajarkan, sementara renang, silat, basket, softball dan atletik dilakukan. Bisa dibilang inilah jurusan yang mengajarkan segalanya. Dan salah besar jika menganggap jurusan olahraga tanpa otak, tapi harus diralat menjadi Sekolah Tenaga dan Otak.(STO).

Ketika dulu menuntut ilmu dan berdjoeang di SMANOR-pun, yang notabene lebih mengandalkan otot, tuntutannya pun sama dengan siswa-siswa yang bersekolah di sekolah formal lainnya. Yakni harus ada ulangan harian, semesteran dan Ujian Nasional. Padahal setiap harinya kita diwajibkan untuk terus berlatih dan berlatih. Pagi, siang dan sore, Karena kita dituntut untuk berprestasi minimal dalam Kejuaraan Daerah. Dan yang lebih utama adalah karena kita sekolah, makan dan segala fasilitas yang ada di SMANOR adalah yang membiayai dari pajak yang dibayarkan para abang becak, abang jual bakso dan dari keringat sebagian masyarakat. Sangat tidak menyenangkan jika kita tidak meninggalkan prestasi di sekolah tersebut. Kami pun akan selalu mengingat pesan dari Pak Zaenal Arifin, guru matapelajaran Kewarganegaraan,"jika kita tidak dapat berprestasi, kita akan berhutang pada rakyat yang membiayai kita, lunasnya kapan? Sampai kita berprestasi".

16 September 2011

Semester 3: Sebuah Tantangan, Sebuah Pembuktian

Add caption
Senin, 12 September 2011, adalah hari pertama menempuh perkuliahan. Setelah rehat sejenak sekitar 3 bulan plus di-training mental dan spiritual dalam bulan ramadhan sebagai upaya "Character Building". Alhamdulillah upaya memandang masa depan melalui spiritualitas sebulan, dengan puasa (shaum ramadhan), qiyamul lail dan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, seolah menyeimbangkan aspek jasmani yang sudah ditempuh selama perkuliahan 2 semester. 

Laik halnya dengan semester-semester sebelumnya, pada semester ketiga kali ini, tantangan akan lebih berat tentunya. Namun, yang perlu diingat, selama kita hidup didunia, kita akan senantiasa diuji oleh Allah. Dan artinya setiap manusia harus sudah siap dengan ujian, tantangan, rintangan, dan masalah. Siapa yang akan menjadi pemenang adalah siapa yang siap untuk menghadapi masalah, dan siap/ optimis untuk bisa melewatinya. 

Ada 11 mata kuliah yang harus ditempuh pada semester ketiga ini. Dari jumlah tersebut ada 3 mata kuliah yang sifatnya hemaprodit, yaitu selain penilaian dari sisi teori, juga ditambah dalam segi praktek. Keduanya pun harus seimbang, atau malah sisi praktek yang lebih diunggulkan. "Masa dalam teori renang kita dapat nilai A, sedangkan praktek renangnya sendiri tidak bisa..", begitu ucapan dari seorang dosen renang lanjutan menggambarkan seperti apa penilaian dalam mata kuliah renang lanjutan.  
Menjadi mahasiswa FIK memang dituntut untuk mempunyai kompetensi yang tak hanya dalam segi teori, namun juga dalam sisi praktisnya. Mata kuliah renang lanjutan, bola basket dan softball adalah sebagian dari mata kuliah semester tiga yang mensyaratkan hal itu, seperti halnya mata kuliah lainnya yang sudah ditempuh pada semester satu dan dua. Namun, dengan bekal kesungguhan niat untuk menuntut ilmu dan sikap optimis dalam setiap nikmat sehat yang dianugerahkan, kita yakin untuk dapat menjadi agen perubahan, baik untuk dirinya, maupun orang lain.

***
Di kos-kosan, aku ucapkan selamat kepada seorang kawan sebelah kamar yang akan diwisuda Oktober nanti. Ada kepuasan yang terpancar dari wajahnya tatkala skripsinya dinyatakan lulus, dan ada perasaan bangga dalam diri untuk dapat mengikuti jejaknya lulus dari almamater kebanggaan, FIK-Unesa. Lambat laun ada muncul optimisme dalam diri ini. Bulan Oktober, saat angkatan 2007 diwisuda, aku masih semester 3. Dan aku masih ingat, 3 tahun lalu, di bulan Oktober, pertama kalinya aku bekerja. Tak terasa keputusanku 3 tahun lalu, mengantarkan aku sampai FIK sekarang...
(roelsebloe@gmail.com//Lab Kom Jurusan Pendidikan Olahraga)