Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

Blog Darul Setiawan

Manusia Biasa yang Ingin Mengagungkan PenciptaNya

1 September 2017

Al Millah, Pak Iskalam, dan Spiritualitas Kaum Urban

Masjid itu bernama Al Millah. Masjid yang sering disebut Ustadz Eko Asmanto pada kajian kitab Bulughul Mahram di Mushala kampung kami, Nurul Huda, desa Gedang kecamatan Porong. Ustadz Eko, yang asli dari Kalimantan itu, memang pernah menjadi warga Perumahan Pondok Jati, tempat Masjid Al Millah berada, kurang lebih satu-dua tahun, sebelum akhirnya kembali ke Porong, tempat awal beliau menancapkan tonggak dakwah.

Sering kami menyimak penuturan Ustadz Eko, jika beliau kerap dimintai waktu oleh Pak Iskalam mengisi kajian pada Sabtu malam ba’da maghrib di masjid Al Millah. Namun, beliau menyampaikan jika Sabtu malam ba’da maghrib adalah ‘waktu khusus ‘ untuk kajian di Mushala Nurul Huda. Mushala yang ta’mirnya adalah Abah Imam Moehasib, guru ngaji Pak Iskalam dulu. Namun jawaban Ustadz Eko kadang sengaja ‘dilupakan’ Pak Iskalam, sehingga Ustadz Eko kerap ‘diiming-imingi’ tawaran mengisi kajian pada Sabtu malam di Al Millah, maka jawaban berikutnya  Ustadz Eko pun cukup cerdas, “Monggo Pak Iskalam sendiri yang menyampaikan ke Abah Asik, panggilan Abah Imam Moehasib. Maka, sejak saat itu, tidak ada lagi ‘tawaran’ mengisi kajian tiap Sabtu malam di masjid Al Millah.

Ustadz Eko sering menceritakan masjid Al Millah. Ketika digambarkan semangat berjamaah masjid tersebut, kami sering membayangkan bagaimana bentuk masjidnya, apa yang unik di dalamnya, dan lain sebagainya. Maklum, saat kami masih ‘nyantri’ di Smanor, Pondok Jati adalah perumahan yang sering menjadi tempat penjelajahan kaki kami. Entah itu saat kembali masuk ke asrama, karena sebelumnya libur. Atau pada saat kita mau ke stadion Gelora Delta untuk latihan fisik atau berenang di kolam renang GOR. Tapi yang namanya Masjid Al Milllah, belum dikenal (atau memang saya yang belum mengetahuinya?).

Sampai akhirnya kami pun dipertemukan dengan masjid Al Millah. Kesan pertama yang kami dapati adalah modern, bersih, dan nyaman. Masjid dengan karpet warna merah, lembut, dan wangi. Masjid Al Millah sering menjadi magnet tersendiri bagi para penuntut ilmu. Kajian disana hampir tiap hari ada.Pengisi kajiannya juga beragam, dari Ustadz Menachem Ali, Yunan Daris, Bangun Samudra, hinggga Ustadz Zulkifli Ali dan Arifin Ilham pernah mengisi kajian di masjid Al Millah. Jamaahnya? Jangan tanya, saking banyaknya jika kami tiba disana setelah adzan maghrib berkumandang pada Sabtu malam, maka dapat dipastikan, shaf terdepan bukan menjadi tempat sujud kami. Bahkan, saking penuhnya jamaah yang hadir, kami pernah tidak kebagian area dalam masjid. Alhasil, selasar sisi utara maupun selatan masjid pun kami gunakan. Sering kami jumpai wali murid yang ikut kajian disana. Jarak rumahnya dengan masjid Al Millah lumayan jauh. Seperti dari Porong ke Candi. Namun, wali murid tersebut aktif kajian di masjid Al Millah, bahkan anaknya menjadi salah satu pengurus remas di sana.  

Kegiatan-kegiatan di masjid Al Millah, setidaknya memperlihatkan jika masjid tersebut memperhatikan dengan benar spiritualitas kaum urban. Lihat saja, disaat Sabtu malam Ahad, yang biasanya adalah waktu yang menjauhkan diri dari Allah, khususnya para pemudanya, maka Al Millah memfasilitasinya dengan menawarkan kajian. Jika besok adalah tahun baru, maka sekali lagi, Al Millah mengadakan kajian pada malam tahun baru. Kemudharatan-kemaksiatan dilawan dengan bentuk pendekatan spiritual-ruhiyah. Kami juga sering terinspirasi bagaimana Masjid Al Millah, menawarkan suasana pedesaan/kampung halaman pada saat perayaan hari besar Islam. Contohnya, Pawai Takbiran Idul Adha dengan menggunakan obor untuk anak-anak TPQ masjid. Juga ada Tahfidz Camp, para pesertanya juga umum, SD-SMP, pelaksanaannya kemarin pada saat bulan ramadhan. Mereka diajak untuk menginap di tenda, dengan banyak kegiatan menarik di dalamnya.
Dari mengikuti kajian itu kemudian kami mengenal sosok yang sering menjadi imam shalat berjamaah. Dialah Pak Iskalam, warga asli kampung kami, desa Gedang Porong, dan teman ngaji Bapak kami yang sama-sama menjadi murid Abah Imam Moehasib di musholla Nurul Huda. Suara beliau yang khas  ketika menjadi imam sering menginspirasi kami untuk ‘menduplikasinya’ saat kami berkesempatan menjadi imam shalat. Guru-guru kami di sekolah juga banyak bercerita tentang Pak Iskalam dan kiprahnya. Termasuk kiprahnya dalam aksi bela Islam 1-3 di Jakarta yang tidak pernah abstain.

Jumat, 10 Dzulhijjah 1438 H, beliau dipanggil kembali ke rahmatullah. Ketua takmir masjid AL Millah itu di akhir hayatnya masih sempat berkutat dengan urusan umat. Kini tuntaslah sudah amanah beliau. Namun, kiprah dan semangat yang ditorehkannya selama hidup akan tetap terus menginspirasi.  Selamat jalan Pak Iskalam. Allahummaghfirlahu, allahumma tsabbithu..

Porong-Bulu, 10 Dzulhijjah 1438 H/ 1 September 2017

Dalam genggaman kuasaNya

Almarhum Pak Iskalam *foto @helma_elma

26 December 2016

Membaca dan Mengikat Makna

Hasil pengukuran PISA (Programme for International Student Assessment) menempatkan Indonesia pada peringkat ke-69 dari 76 negara dalam hal pembelajaran Matematika dan IPA. Salah konsep pembelajaran adalah salah satu biang anjloknya peringkat Indonesia dalam pengukuran kemampuan siswa tersebut. Selain miskonsepsi dua mata pelajaran tersebut, dalam keterangannya juga disebutkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia, dimana kesalahan konsepnya terletak saat anak didik kesulitan dalam menyimpulkan wacana bacaan dengan kata-kata sendiri (Jawa Pos, 22/10).

Permasalahan dalam menyimpulkan bahan bacaan dan menuliskannya kembali menggunakan kata-kata sendiri, setidaknya menurut Hernowo Hasjim dalam kesempatan Seminar dan Lokakarya Menulis Kreatif, Ahad (18/9) di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur salah satu sebabnya adalah minimnya partisipasi siswa untuk membaca yang bermakna. Mengikat makna adalah konsep membaca yang bertujuan memberi dampak dari apa yang kita baca.

Konsep mengikat makna yang dicetuskan pria yang sehari-harinya bekerja di Mizan itu dapat diartikan dengan memadukan kemampuan membaca dan menulis secara bersama. Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang terkait dan saling berkelindan. Keduanya dapat bermakna memasukkan (membaca) dan mengeluarkan/mengalirkan (menulis). Penekanan terutama pada anak-anak dalam membaca, dengan tidak hanya menggunakan brain memory saja. Membaca dan menulis harus berada pada fase muscle memory. Ketika seseorang membaca teks yang ‘bergizi,’ maka dia akan menjadi produser teks berikutnya.

Ketika menulis cerita maka dominasinya adalah otak kanan. Sebaliknya ketika menulis sebuah karya ilmiah atau penelitian, maka kecenderungan menggunakan otak kiri lebih besar. Menulis menurut Hernowo adalah mengalirkan dan membebaskan pikiran pada lembar kertas atau layar laptop dan sejenisnya.

Dalam kesempatan yang diikuti ratusan pendidik yang tergabung dalam ikatan guru Indonesia (IGI) tersebut, beliau memberikan pemahaman, dalam aktivitas menulis yang dipentingkan adalah prosesnya. Di dalam proses tersebut, ada dua fase yang dilalui: merasakan mengetik (bila menggunakan laptop) dan merasakan emosi. Jadi, ketika kita menuliskan sesuatu, maka yang membedakan tulisan kita dengan tulisan orang lain terletak pada gagasannya.

Hernowo kemudian memberikan contoh, bagaimana aktivitas membaca artikel yang bermakna. Menurutnya, salah satu cara untuk mengikat makna adalah dengan menandai bacaan, menambahi catatan, atau memberikan pengingat dari bahan bacaan yang kita baca.

Dalam seminar dan lokakarya tersebut, setidaknya diberikan tiga jenis tahapan dalam latihan menulis. Tahap pertama adalah latihan menulis untuk membuang. Penekanan pada latihan pertama adalah mengalirkan tulisan selancar-lancarnya. Tidak boleh ada hambatan, walau itu salah ejaan. Jadi ketika salah ketik, maka biarkan saja, harus ada garis yang jelas antara menulis dan mengedit. Pesan dalam latihan pertama: menulis tidak boleh dalam keadaan tegang. Pada tahap pertama para peserta diberi kebebasan menuliskan apapun dalam waktu lima menit.

Tahap kedua adalah menulis dengan mengikat makna. Menuliskan poin demi poin yang menarik dari sebuah artikel. Peserta yang sudah diberi selembar artikel dari koran kemudian diminta untuk menandai atau membuat catatan. Selanjutnya poin dan catatan tersebut dituliskan dengan kata-kata sendiri pada lembar kertas atau laptop.

Ketiga, menulis dengan topik yang disukai. Pada tahap ini, topik lebih detail daripada tema. Topik bisa bermacam-macam, dari kuliner, kesehatan, parenting, dan lain-lain. Poin penting dari kualitas pikiran yang akan kita tulis dapat dilihat dari topik (materi) dan gagasan (unik). Dalam tahap yang ketiga ini, eksplorasi pikiran kita pada saat mencari sisi unik dan detail pada topik yang hendak kita tulis, mutlak untuk dilakukan.

Tidak ada kesempuranaan tanpa latihan. Pesepakbola seperti C. Ronaldo juga harus tiap hari latihan untuk menjadi pemain yang berkelas. Begitupun dengan menulis. Mengalokasikan sepuluh menit untuk membaca dan lima menit menulis tiap harinya dapat meningkatkan kemampuan fisik dan non-fisik kita saat menulis.

Muara dari hasil pengukuran PISA menyentak kesadaran kita bersama. Ada amanah super berat untuk menggalakkan anak-anak, para peserta didik kita, yang notabene merupakan generasi emas bangsa agar melek literasi.  Setidaknya, goal literasi yang tiap hari dilakukan bukan hanya sebatas rutinitas harian tanpa arah. Harus ada trisula tujuan dalam literasi: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.



Ditulis untuk artikel Pena Guru Musasi Magazine edisi 3/Desember 2016

4 October 2016

PTS (penilaian tengah semester) Kisi-kisi Penjas kelas 9 Semester Ganjil

Assalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh..

Ada yang berbeda dan tak biasa ketika penilaian tengah semester (PTS) semester ganjil kali ini (3-21 Oktober 2016). Bagi para siswa Musasi kelas 8 dan 9 menggunakan CBT (Computer Based Test) adalah hal yang biasa. Tapi bagi kelas 7 yang baru menjadi siswa baru sekolah yang beralamat di jalan KH. Samanhudi tersebut, menggunakan CBT adalah sesuatu yang baru.


Klik disini untuk mengunduh kisi-kisi PTS Penjas kelas 9 semester ganjil. 
Tetap semangat!
Logo SMP Musasi terbaru. Sengaja agar kekinian, hehe..






29 August 2016

Olahragawan atau Pustakawan?

Dua profesi itu pernah dan sedang saya jalani. Pernah bergelut di atas matras Judo kurang lebih tiga tahun ketika menjadi siswa-atlet SMA Negeri Olahraga (Smanor) Jawa Timur. Kini, Allah pulalah yang memperjalankan diri ini hingga sampai menjadi staf perpustakaan, semoga saya boleh menyebut diri pustakawan, hehe..

Di Smanor--sekolah yang menasbihkan dirinya sebagai sekolah pencetak atlet--berkutat dengan keringat adalah hal yang lumrah. Bagaimana tidak, ketika pagi dan sore diharuskan memeras keringat sebelum menuju pertandingan dan bersaing memetik gelar/juara. Menu latihan dua hari sekali itu tidak lain menjadi fardhu 'ain, selain menambah jatah latihan sendiri pada siang hari atawa malamnya.

Saya sendiri memilih olahraga Judo karena melihat peluang. Disamping ajakan dari saudara tetangga yang sebelumnya sudah menjadi atlet di sekolah yang berada di kawasan Pondok Jati Utara itu. Sebelum mencemplungkan diri di olahraga bantingan asli Jepang itu, saya pernah mencoba "peruntungan" tes atletik nomor lari sprint dan akhirnya gagal, hiks. Itulah yang kemudian membuat saya banting stir menjajal beladiri yang mengutamakan teknik bantingan, kuncian dan randori (permainan bawah).

Imam Moehasib, seorang takmir Mushala Nurul Huda pernah berpesan, jika kekuatan manusia hanya ada tiga; berikhtiar, berdoa, dan bertawakal pada ketetapan Allah Ta'ala. Kata ikhtiar dan doa itulah yang menjadikan mindset di pikiran saya mengatakan, tidak ada yang tidak bisa selama kita berusaha dengan kemampuan maksimal kita. Tiada pernah berhasil jika kita tidak pernah mencobanya. Begitulah, pola pikir yang saya resapi dari beberapa kajian dengan bekal siraman ruhani yang memperkokoh jiwa untuk selalu bersikap optimis terhadap apa-apa saja ketentuan dari Allah Ta'ala.

Keyakinan itu pulalah yang mengantarkan diri ini sampai gerbang Graha Pena yang kemudian Allah bukakan takdir berikutnya untuk menuntut ilmu hingga ke Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Meski harus pula menjalani dua peran--mahasiswa dan pekerja--tak pernah menjadikan diri ini menyerah dengan keadaan dan mengeluh dengan kondisi kekinian.

Allah pulalah jua yang meridhai ketika diri ini menyelesaikan skripsi dan berwisuda di Graha Pena, tempat pertama kali menerima gaji sebagai karyawan profesional. Kata Mas Syahrul, tidak ada yang pernah terjadi secara kebetulan. Dalam Al Quran, bahkan daun yang jatuh sudah tertulis dan menjadi catatan. Begitupun dengan semua yang pernah kita lalui dan akan kita perjuangkan.

Kini, ketika takdir Allah menghantarkan pada sebuah fase baru, dimana amanah yang teremban semakin besar dan berat. Kita perlu merenungkan kembali kekuatan yang Allah berikan pada manusia. Berikhtiar dengan maksimal, berdoa dengan sungguh-sungguh dan berkeyakinan. Bekal tawakal, jika Allah tak pernah menganiaya hamba-hambaNya.

SK (surat keputusan) yang diterima tahun ketiga di sekolah ini: menjadi pendidik mata pelajaran Penjas, menerima amanah menjadi takmir masjid sekolah, serta, ketika diri ini mendapat kepercayaan dan tanggung jawab untuk menjadi staf perpustakaan. Belajar dan terus belajar. Akan banyak tantangan yang dihadapi, Menguatkan diri untuk terus menerus dalam jalan keridhoanNya.

Satu anugerah menjadi perpustakaan terbaik se-kabupaten tingkat kabupaten telah teraih. Ya, Perpustakaan SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, dinyatakan terbaik kedua dalam lomba perpustakaan tingkat kabupaten yang diadakan Perpusda Sidoarjo. Semoga September nanti, ketika penyerahan piala oleh Bupati Sidoarjo dapat menjadi kado termanis dan pemicu untuk terus berprestasi. Semoga!


Bulusidokare, 290816


Mengakhiri tulisan ketika adzan Isya berkumandang







16 August 2016

Memerdekakan Bambu

Bambu. Apa yang anda bayangkan ketika menyebut nama rumput ajaib tersebut? Mungkin dari kita ada yang langsung membayangkan sebuah alat yang digunakan arek-arek Suroboyo ketika melakukan perlawanan terhadap sekutu? Atau ada pula pikiran kita melanglangbuana pada zaman ketika batu bata keberadaannya masih sangatlah terbatas? Jika masih belum ngeh atau masih mengernyitkan dahi ketika ditanya tentang bambu, sepertinya kita masih memperbudak bambu. Lho?!?

Surga bambu salah satunya adalah Indonesia. Banyak jenis bambu yang tumbuh subur di tanah gemah ripah loh jinawi itu. Dari beragam jenis bambu yang trubus, masing-masing mempunyai fungsi dan manfaat yang berbeda. Sayangnya, dalam gemebyar tanamanan bambu di nusantara,mayoritas masyarakat masih enggan untuk memanfaatkan bambu secara maksimal.  
Bayangkan, sejak zaman penjajahan hingga sebelum reformasi digulirkan, bambu hanya menjadi komoditi yang belum bernilai ekonomis. Paling banter dalam catatan sejarah, ketika bambu—yang sudah diruncingkan—menjadi senjata andalan melawan tentara sekutu, dan kini dibuatkan monumen untuk mengenangnya. Sekedar itu? Iya! Atau kalo tidak, pernah menjadi kebutuhan pokok masyarakat sebelum mengenal kemodernan dengan memasangnya pada dinding maupun langit-langit rumah. Nasib bambu masih merana, hingga kini.

Membaca berita Jawa Pos kian membuat hati ini miris. Ketika bambu-bambu kita dimanfaatkan Malaysia untuk membangun masjid bambu yang konon nilainya mencapai milyaran. Ya, di tanah jiran, bambu menjadi digdaya. Mereka menggunakan ilmu pengetahuan dalam memanfaatkan komoditi yang ramah lingkungan untuk pembangunan. Para pakar bambu di datangkan dari Jogjakarta. Banyaknya bambu jangan dibilang, panjang bambu 12 meter dikirim hingga tiga kontainer! Lagi-lagi kita tertinggal. Angka milyaran itu saya kira sebanding dengan ketahanan bambu yang katanya bisa awet hingga 70 tahun. Super!

Kita harusnya tidak kalah. Kita pun tak semestinya tertinggal. Potensi sumber daya bambu kita melimpah. Pakar kebambuan dari berbagai daerah pun tak pernah kehabisan stok. Hanya, ketika kita bicara tentang mentalitas, kita akui jika memang menjadi kelemahan kita. Mentalitas kita masih belum menghargai para pakar yang banyak mendedikasikan hidupnya untuk meneliti bambu. Kita—untuk tidak menyalahkan pemerintah—seringkali abai dengan nasib mereka. Maka ketika banyak negara memanfaatkan kebrilianan pikiran mereka, kita hanya bisa menonton, sambil menghisap jari kelingking.

Mentalitas kita pun masih sering terjajah dengan lebih memandang hijau rumput hasil karya negara lain. Komoditi dalam negeri acapkali menjadi terpinggirkan hanya gegara terlampau seringnya kita silau dengan pelbagai produk bermerk yang berlabel impor. Pikiran kita masih tersugesti, jika produk impor yang mahal pastilah bermutu baik dan awet. Produk sendiri dan buatan dalam negeri nanti dulu.

Itulah fakta. Kita hidup di negara dengan mentalitas terjajah. Para peneliti bambu sedih ketika mendengar stigma masyarakat kita. Mereka—masyarakat kita—menganggap bambu hanya diperutukan hanya untuk orang miskin.

Jangan nterpana jika tiba saatnya kita disentakkan dengan akselerasi negeri-negeri jiran yang dengan leluasa mengekploitasi kekayaan alam kita, disaat yang sama kita masih menutup mata dan telinga.
Maafkan para pahlawan, kami masih mengisi kemerdekaan dengan cara-cara yang kurang substantif. Kami hanya mampu beli bambu untuk memasang bendera, umbul-umbul, dan kerlap-kerlip lampu jalanan. Kami belum mampu melangkah mengangkat bambu seperti dulu. Jika dulu dalam keterbatasan, bambu mampu merebut kemerdekaan. Kini, bambu hanya komplementer. Dibutuhkan dan digunakan dalam momen-momen tertentu..

Salam bamboe,
Bulusidokare, 160816